Home » , » Review Film Silam (2018) : Bagus Enggak, Jelek Enggak

Review Film Silam (2018) : Bagus Enggak, Jelek Enggak

 

     Manoj Punjabi bersama Pichouse Films kembali mengadaptasi novel milik Risa Saraswati, yang berjudul Silam. Untuk project ini, jabatan sutradara diserahkan keapada Jose Poernomo yang juga sekaligus DOP (Director of Photography). Jika kita kilas balik film-film adaptasi dari novel dari Risa Saraswati, selalu sukses membawa minimal ratusan ribu penonton memadati bioskop. Namun sayang, antusias penonton yang tinggi, belum diimbangi dengan kualitas yang membaik. Kondisi seperti ini kalau dibiarkan terus-menerus, akan semakin menggerus kepercayaan penonton terhadap film horor Indonesia, atau bahkan film Indonesia keseluruhan. Kesalahan yang sudah berlalu, biarkan lah jadi pembelajaran untuk bersama. Mari kita sambut film baru yang satu ini, Silam, apakah dia akan tetap 'sama' dengan kakak-kakaknya, ataukah dia akan menjadi adik yang siap berprestasi?


     |POSTER & TRAILER| Lagi-lagi poster yang simpel tapi cukup menawan. Hanya dengan seorang anak yang matanya tertutup kain dengan darah di kedua matanya. Dibelakangnya ada sosok perempuan dengan bentuk yang cukup berantakan, dan kedua tangannya berada di atas pundak anak itu. Sedikit banyak pose ini bisa menggambarkan dari isi filmnya.


     Premis yang dibawa Silam dalam trailer, cukup menarik hati untuk ditonton. Tokoh anak kecil yang bisa melihat makhluk dari dunia lain setelah kepalanya terbentur. Penyusunan adegan demi adegan juga cukup rapih dan bikin penasaran. Dari sisi teknis juga terlihat Silam ini punya gambar yang gak monoton dinamis seperti ciri khas dari film-film Jose Poernomo.


     |CERITA| Kekuatan Silam adalah twist yang dia bangun, disembunyikan, dan dibawa hampir di sepanjang durasi. Dibilang sukses, yaaa lumayan, gak spektakuler, dan gak jelek juga. Karena memang twist ini yang bikin Silam jadi menarik dan beda dari horor biasa. Namun sayangnya, kemenarikan Silam ini baru terasa di paruh-paruh akhir. Dari paruh awal, Silam berjalan dengan cukup aneh, dan gak natural. Cerita berjalan dengan seolah-olah ada motivasi, ada pondasi, tapi sebenarnya itu hanya semu. Gak ada pembuktian atas pondasi yang mereka bangun, sehingga penonton bukannya percaya dan jadi simpati, malah jadi kebingungan... Dan pada akhirnya secara keseluruhan, Silam ini punya potensi, seandainya script diperbaiki, baik dari plotnya, hingga penokohan. Sehingga tokoh-tokoh yang ada disini, jadi lebih natural, gak diada-adain, maupun dipaksakan harus ada dengan kondisi yang di setting jadi serem, kayak nenek.


     |VISUAL| Masih dengan ciri khas gambar dari Jose Poernomo. Kamera yang suka berputar-putar, diambil dari high angle, dan segala pergerakan yang dinamis. Menarik memang. Namun terkadang movement yang seperti ini jad kurang 'bermakna' ketika hanya berulang, tanpa punya maksud dan tujuan yang jelas.


     |AUDIO| Untuk urusan audio, Pichouse masih mengulangi kesalahan yang sama, musik berisik! Udah itu aja. Audionya standart, musik berisik, sound effect untuk jumpscare berlebihan.


     |ACTING| Zidane Khalid patut mendapatkan apresiasi. Dia mampu menghidupkan karakter Baskara, yang merupakan tokoh utama di film Silam. Mungkin sekitar 80-90% durasi, di habiskan dengan aktingnya. Tanpa penjiwaan yang cukup, Silam akan kehilangan ruhnya.


     |KESIMPULAN| Silam bisa dikatakan peningkatan dari kakak-kakaknya di Pichouse Films. Tapi beberapa kesalahan kakaknya masih dibawa, juga membuat film ini masih di taraf yang tak jauh berbeda dari kakak-kakaknya. Silam bisa jadi alternatif jika film lain di bioskop udah di tonton, karena film ini juga cukup menghibur. #BanggaFilmIndonesia


0 komentar:

Post a Comment

Newest Review

Review Film Dreadout (2019) : Seru tapi kok Cerita Lemah

       Untuk pertama kalinya Indonesia membuat film yang diadaptasi dari game horor buatan Indonesia juga, itulah Dreadout. Denga...

Popular Review

Followers

 
Copyright © 2016 Riza Pahlevi