Home » , , » Review Film Hanum & Rangga (Faith & The City) (2018) : Buah Semu dari Kemegahan New York

Review Film Hanum & Rangga (Faith & The City) (2018) : Buah Semu dari Kemegahan New York


     Satu lagi sebuah drama yang diadaptasi dari novel laris karya penulis Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra. Setelah beberapa tahun sebelumnya telah memproduksi beberapa karya, seperti 99 Cahaya di Langit Eropa hingga Bulan Terbelah di Langit Amerika. Pada karya-karya tersebut, pemilihan judul film sama persis dengan judul buku. Namun untuk karya terbarunya dari novel Faith & The City, menggunakan judul Hanum & Rangga untuk filmnya. Mendapatkan apresiasi yang bagus pada seri-seri sebelumnya karena membawa nafas Islam dengan cara yang baru, lalu apakah Hanum & Rangga mendapatkan apresiasi yang bagus juga?


     |POSTER & TRAILER| Jika dilihat-lihat, konsep poster Hanum & Rangga ini mirip dengan poster film Habibie & Ainun. Peletakan wajah Hanum & Rangga di bagian atas kanan dan kiri. Kemudian background utama adalah setting lokasi film dengan Hanum & Rangga yang berdiri bersama disana. Namun ini hal yang wajar, mengingat Habibie & Ainun juga dikerjakan oleh production house yang sama dengan Hanum & Rangga, jadi ada kemungkinan pembuat posternya sama, atau memang dari pembuat film yang menginginkan konsep poster yang seperti ini. Diluar kemiripan tersebut, Hanum & Rangga punya poster yang menarik, memiliki kesan romance yang meneduhkan.


     Trailer Hanum & Rangga punya andil untuk memberikan penonton pemandangan New York yang indah, sekaligus mengenalkan konflik yang akan terjadi. Semuanya diramu dengan pas, namun juga tak terlalu ambisius. Jadi menonton trailer ini, gak bikin emosi yang bergejolak gimana-gimana, nuansanya tenang, tapi tetap menarik untuk membuat penonton datang ke bioskop.


     |CERITA| Film ini masih melanjutkan kisah Hanum & Rangga di New York yang sebelumnya sudah di ceritakan seri Bulan Terbelah di Langit Amerika. Di mulai dari Rangga yang telah menyelesaikan riset untuk disertasinya, dan ia harus segera kembali ke Wina, Eropa, bersama dengan Hanum tentunya. Namun ternyata Hanum mendapatkan tawaran untuk magang di GNTV, sebuah impian besar dari Hanum. Disinilah awal konflik dimulai. Secara keseluruhan, konflik berputar tentang obsesi Hanum dalam mengejar impiannya dan hubungan dengan suaminya, singkatnya karier dan keluarga. Sebuah konsep dasar dalam kehidupan. Setiap orang mungkin pernah mengalami masa dimana harus memprioritaskan antara keluarga atau karier. Dan setiap orang juga berhak memilih jawaban manapun, dengan segala pertimbangan dan konsekuensinya.


     Hanum & Rangga masih membawa nilai-nilai ajaran Islam di film ini, walaupun memang gak sebesar 99 Cahaya di Langit Eropa. Walaupun begitu, misi Hanum di film ini juga masih sama dengan seri Bulan Terbelah di Langit Amerika, yaitu ingin mengubah pandangan negatif warga Amerika dan dunia terhadap muslim, dan bisa menjawab pertanyaan, Would the world be better without Islam? Dengan kata jawaban, no, the world be better with Islam. Selain itu juga, film ini membuka sedikit sisi gelap dari media, khususnya televisi yang menuhankan rating & share, dan ini adalah sesuatu yang segar dan selalu menarik untuk di bahas.


     Konflik seputar rumah tangga menjadi sorotan utama di film ini. Kepatuhan istri terhadap suami, keromantisan 'pacaran' setelah menikah, dan hal-hal lain seputar itu. Bukan suatu hal yang baru, karena di seri-seri sebelumnya juga Hanum & Rangga masih menggunakan konflik yang seperti ini. Hal lain lagi yang menarik dalam Hanum & Rangga adalah soal pergantian pemain, ini hal yang cukup wajar karena production house yang mengerjakan Hanum & Rangga berbeda dengan seri-seri sebelumnya. Untuk pembahasan performa setiap aktor & aktris, akan dibahas di bawah.


     |VISUAL| Tak perlu diragukan, setiap film drama dari MD Pictures sekelas Hanum & Rangga, pasti membawa visual yang megah. Shot-shot kebutuhan sampai beauty shot, semua menghasilkan gambar yang cakep. Ditambah lagi dengan color grading yang tenang meneduhkan, cutting yang rapih. Establish juga menunjukkan lanscape dari kota New York yang indah.


     |AUDIO| Dengan production value sebesar ini, tentu untuk soal audio, tak perlu diragukan lagi. Namun yang perlu digaris bawahi, musik ilustrasi dari Tya Subiakto asik banget di film ini, tak seperti film-film sebelumnya yang terkadang terasa 'berisik', namun di film ini malah bikin filmnya jadi makin hidup. Begitu juga dengan original soundtrack dari Yovie Widianto yang dinyanyikan oleh Krisdayanti berjudul Satu Sayap Tertinggal, benar-benar membuat film ini semakin syahdu.


     |ACTOR| Acha Septriasa selalu memberikan akting terbaiknya, gak pernah kecewa dengan performanya. Nah Rio Dewanto, dia punya tugas yang berat, selain harus memberikan akting maksimalnya, dia juga harus bisa membuat penonton 'menerima' dia sebagai Rangga. Mengingat di seri sebelumnya, Rangga diperankan oleh Abimana. Rio pun juga mendapatkan banyak respon negatif saat diumumkan menjadi Rangga, namun Rio Dewanto berhasil menjawab tantangan tersebut! Kekuatan akting dan chemistrynya dengan Acha benar-benar dahsyat. Sehingga penonton menganggap Rio memang benar-benar Rangga, dan bisa berpaling dari Abimana. Good Job Rio! Alex Abad dan Arifin Putra juga cakep dalam menadalami perannya masing-masing. Nah sedangkan kekecewaan berasal dari sosok Azima Hussein. Dulu diperankan oleh Rianti Cartwright, dan sekarang oleh Titi Kamal. Titi memang punya akting yang tak perlu diragukan, sosok Azima pun berhasil ia usahakan semirip saat dulu Rianti berakting. Namun rasanya tetap hampa. Ini seperti kekecewaan saat Rianti diganti dengan Dewi Sandra di film Ayat-Ayat Cinta 2 yang jadi tokoh Aisya. Tokoh Azima jadi berasa kurang feelnya. Mungkin karena Rianti ini memang ikonik banget dalam memerankan suatu tokoh, dan memang secara fisik pun Rianti dan Titi Kamal juga berbeda. But, Titi Kamal juga telah memberikan akting maksimalnya, harus tetap kita apresiasi.


     |KESIMPULAN| Film Hanum & Rangga (Faith & The City) ini memang bukanlah film yang penuh dengan konflik dengan intensitas tinggi. Namun dengan konfliknya yang seperti ini, Hanum & Rangga bisa dinikmati dengan dengan ringan. Sehingga pesan-pesan yang ingin disampaikan film, juga bisa diterima dengan mudah. Diluar itu, ternyata Hanum & Rangga juga menyelipkan beberapa komedi-komedi ringan yang mencairkan suasana saat menontonnya. #BanggaFilmIndonesia

0 komentar:

Post a Comment

Newest Review

Review Film Tusuk Jelangkung di Lubang Buaya (2018) : Satu Lagi Film Absurd Tahun ini

     Setelah ketidakjelasan film Keluarga Tak Kasat Mata yang diproduksi oleh Max Pictures pada tahun lalu, ternyata Max Pictures masih b...

Popular Review

Followers

 
Copyright © 2016 Riza Pahlevi