Home » , , , » Review Film Tengkorak (2018) : Patut Diapresiasi

Review Film Tengkorak (2018) : Patut Diapresiasi


     Film Science Fiction atau sering disingkat dengan Sci-Fi memang masih jarang ditemukan di perfilman Indonesia. Entah karena emang genre lain masih lebih menarik bagi filmmaker kita, atau karena pasar penonton Indonesia masih memandang sebelah mata dengan genre-genre semacam itu dikerjakan di Indonesia, atau entah untuk alasan apapun. Tapi seorang pemuda berani untuk membuat film Sci-Fi secara independent, yang tentunya dengan budget yang tak sebesar film produksi PH major. Yusron Fuadi lah dalang dibalik terciptanya film Tengkorak. Sebuah project yang dikerjakan bertahun-tahun, dan berhasil menembus beberapa festival internasional. Lalu apakah Tengkorak mampu diterima oleh penonton bioskop mainstream?


     |POSTER & TRAILER| Poster Tengkorak mengingatkan pada poster-poster film jadul Indonesia. Karena ambisi peletakan sebanyak-banyaknya tokoh di dalam satu poster, dan juga warna-warna yang dipilih. Jadi kesannya Tengkorak seperti film lama, kurang modern.


     Trailer Tengkorak itu memainkan banyak gambar-gambar yang dimasukan secara acak, khusunya di pertengahan sampai akhir trailer. Padahal dari awal sampai tengah, trailer sudah disusun dengan cukup rapih. Namun setelahnya, pembuat trailer seperti bingung mau mengambil adegan mana lagi untuk dimasukkan ke trailer, dan juga akhirnya memasukan banyak testimoni-testimoni dari filmmaker yang sudah punya nama, dan beberapa label festival, dan maybe ini juga dijadikan salah satu 'jualan' dari film ini. Padahal sebenarnya film ini kalau digali lagi potensinya, bisa dibuatkan trailer yang lebih menarik.


     |CERITA| Tengkorak bisa dikatakan sebagai film fiksi dengan memasukan unsur mockumentary, atau film fiksi yang dibuat seolah-olah seperti dokumenter. Ini sebuah hal yang menarik. Tengkorak khususnya, banyak memakai gambar yang seolah-olah dokumenter di awal dan di akhir. Ini sedikit banyak membuat penonton lebih percaya dengan filmnya. Terlepas dari itu, film ini berjalan dengan lumayan lambat, dan di pertengahan film, banyak adegan Yos dan Ani yang lumayan bertele-tele dan kurang berkesinambungan dengan si Tengkoraknya sendiri. Dan yang bikin cukup kecewa, karena Tengkorak yang sepanjang film diomongin, justru sangat jarang terekspose, palingan cuma beberapa detik dari durasi yang hampir 2 jam. Selain itu, ending film ini juga cukup bikin penonton tercengang. Karena memang sama sekali gak terpikirkan akan kearah sana endingnya, karena dari awalpun film tidak mengarahkan kesana. Walaupun sebenarnya, interpretasi dari ending Tengkorak bisa sangat beragam.


     |VISUAL| Gambar di Tengkorak cukup beragam, dalam artian tidak semuanya dalam bentuk yang cinematic. Ada beberapa gambar yang diambil seperti dari arsip lama yang gambarnya rusak-rusak, rationya 4:3 dan ini membuat filmnya jadi lebih berwarna. Diluar itupun, pengerjaan visual efek dari greenscreen juga halus dan asyik nontonnya.


     |AUDIO| Seperti film-film lainnyak, Tengkorak juga punya suara musik khas. Apalagi kalau saat-saat yang sekiranya butuh ketegangan, film ini cukup intens dalam memberikan treatment musik disana. Walaupun terkadang rasa-rasanya kurang pas dalam penempatan, karena ini juga berpengaruh pada mood penonton.


     |ACTING| Tengkorak bermain di wilayah sekitaran Jogja, dan penggunaan bahasanya pun juga sangat lokal Jogja. Yos, Ani, dan beberapa tokoh lain pun juga sangat natural memainkan karakternya yang Jogja banget. Terkhusus bagi orang Jogja atau yang pernah tinggal lama di Jogja, pasti bisa menemukan banyak moment yang lucu dari percakapan mereka, karena banyak obrolan mereka itu lelucon lokal Jogja.


     |KESIMPULAN| Film Tengkorak memang bukan film yang sempurna, namun sekali lagi, film ini mampu memberikan cinema experience yang berbeda dari film-film Indonesia kebanyakan. Apalagi film yang dikerjakan secara independent, Tengkorak ini sangat niat dan dikerjakan dengan maksimal. So tontonlah film ini di bioskop, karena layarnya memang sangat terbatas. #BanggaFilmIndonesia

0 komentar:

Post a Comment

Newest Review

Review Film Hanum & Rangga (Faith & The City) (2018) : Buah Semu dari Kemegahan New York

     Satu lagi sebuah drama yang diadaptasi dari novel laris karya penulis Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra. Setelah beberapa ...

Popular Review

Archive

Followers

 
Copyright © 2016 Riza Pahlevi