Home » , , , , , » Review Film Sultan Agung (2018) : Masterpiece Hanung Bramantyo

Review Film Sultan Agung (2018) : Masterpiece Hanung Bramantyo


     Film biopic jarang-jarang memang kita temukan dalam perfilman Indonesia. Dalam setahun, bisa dihitung dengan jari. Bukan karena tanpa alasan, tapi karena film biopic memang butuh riset yang panjang dan budget yang besar. Namun walaupun begitu, filmmaker yang membuat film biopic juga bisa dihitung dengan jari, dan beberapa tahun kebelakang, Hanung Bramantyo lah yang aktif untuk membuatnya. Sebut saja Film Kartini di tahun lalu. Dan tahun ini Hanung kembali membuat film biopic tentang Sultan Agung. Lalu apakah Sultan Agung akan menjadi biopic yang powerfull seperti yang selama ini Hanung buat?


     |POSTER & TRAILER| Klasik, satu kata yang terbayang ketika melihat poster Sultan Agung. Potret tokoh utama dalam porsi besar memenuhi setengah poster bagian atas dan adegan epic di bagian bawah yang terpisahkan oleh judul film. Bukan sesuatu yang jelek, cuma akhirnya film ini jadi terkesan kurang kekinian. Padahal sebenarnya dengan poster yang kekinian, bisa juga menggaet anak milenial untuk tertarik menonton film biopic penting seperti ini.

   
     Dengan sebuah trailer saja, Sultan Agung berhasil memberikan roh atau nyawa dari film tersebut sampai hingga ke penonton. Sebuah trailer yang disusun dengan cerdas. Mengingat film juga berdurasi cukup panjang, 148 menit, adegan-adegan dan dialog yang dipilih untuk dimasukan ke trailer berdurasi 2 menit 13 detik sangatlah pas. Benar-benar menggugah calon penonton untuk datang membeli tiket Sultan Agung.


     |CERITA| Jika dijabarkan secara penuh, film ini dibagi menjadi 2, masa disaat Raden Mas Rangsang remaja hingga dia diangkat menjadi Raja Mataram, dan ketika Sultan Agung dewasa. Film ini berhasil mengenalkan tokoh-tokoh penting kepada penonton dengan pelan namun pasti. Sehingga penonton tidak terasa seperti dipaksa untuk mengenal, namun penonton akan mengenal dengan sendirinya hingga muncul rasa simpati hingga empati pada tokoh-tokoh yang ada. Cara film ini menjembatani peralihan cerita antara Raden Mas Rangsang remaja hingga Sultan Agung dewasa juga terasa sangat smooth. Cerita berjalan dengan tempo yang lambat-sedang, dengan durasi sepanjang itu berpotensi membuat kantuk hingga bosan, namun ternyata Sultan Agung selalu berhasil menghadirkan 'sesuatu' didalam framenya untuk menjaga agar penonton tetap fokus dalam menonton. Hingga semakin ke akhir film, emosi penonton semakin diaduk-aduk dengan konflik yang dihadirkan di dalam film. Pada akhirnya, penonton bisa mengenal sosok Sultan Agung hingga jasanya terhadap negeri ini melalui film biopic ini. Good job!


     |VISUAL| Tantangan berat yang dihadapi film ini adalah selain menghadirkan cinematography yang cakep, juga harus biasa menampilkan tampilan visual pada tahun segitu, 3.5 abad sebelum Indonesia merdeka, jadi sekitar abad ke 16. Dari segala kekurangan yang sangat minus, film ini berhasil menghadirkan suasana di abad 16 dan segala kelengkapannya. Baik property, set, make up, hingga wardrobe, semuanya terlihat sangat nyata dan dipikirkan secara matang. Diluar itu, film ini masih mampu menghadirkan visual yang sangat indah dan mendukung cerita untuk membangun emosi penonton, termasuk saat adegan vital seperti saat perang.


     |AUDIO| Tak hanya visual saja yang diperhatikan, film sekelas Sultan Agung juga tentu concern terhadap departemen audio. Dan ternyata besar, terkhusus bagian musik ilustrasi dan sound effect, film ini banyak bermain di wilayah itu untuk menimbulkan kesan yang lebih, sehingga penonton juga bisa merasakan emosi yang lebih.


     |ACTING| Kalau harus dijabarkan satu persatu, nampaknya part akting ini bisa jadi sangat panjang. Namun secara mudah bisa di katakan semua aktor dan aktris yang terlibat di Sultan Agung, berkontribusi memberikan kemampuan akting terbaik mereka.


     |KESIMPULAN| Film Sultan Agung Tahta, Perjuangan, dan Cinta memang harus diakui sebagai salah satu materpiece dari Hanung Bramantyo. Seorang sutradara yang punya interpretasi yang bagus dalam memandang sebuah tokoh, dan berhasil menuangkannya ke sebuah film tanpa terkesan menggurui dan membosankan. #BanggaFilmIndonesia

0 komentar:

Post a Comment

Newest Review

Review Film Hanum & Rangga (Faith & The City) (2018) : Buah Semu dari Kemegahan New York

     Satu lagi sebuah drama yang diadaptasi dari novel laris karya penulis Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra. Setelah beberapa ...

Popular Review

Archive

Followers

 
Copyright © 2016 Riza Pahlevi