Home » , , » Review Film DOA (Doyok, Otoy, & Ali Oncom) (2018) : Komedi Project Suka-Suka

Review Film DOA (Doyok, Otoy, & Ali Oncom) (2018) : Komedi Project Suka-Suka


     Sudah sekian lama film-film komedi ringan yang dekat dengan keseharian jarang kita temuin. Atau sebenarnya mungkin ada, namun tertutup dengan serbuan film horor di tahun ini. Ya salah satunya adalah DOA (Doyok, Otoy, & Ali Oncom) ini. Sebuah film komedi yang berlatar lokasi di Jakarta. Mereka memiliki karakter yang berbeda satu sama lain, tapi disatukan dengan nasib ya sama, yaitu sial. Lalu apakah kesialan mereka berbuah film yang menyenangkan?


     |POSTER & TRAILER| DOA posternya standart sih, tapi menarik. Menampilkan ke tiga karakter utama, si Doyok, Otoy, dan Ali Oncom pastinya dengan pose andalannya masing-masing. Sedang nongkrong di pos ronda dengan latar belakang perkampungan padat. Satu hal yang bikin menarik karena komposisinya enak dipandang, dengan perpaduan warna yang luas rangenya, sehingga terasa lebih kuat.


     Trailer DOA mengandalkan sketsa-sketsa komedi yang dimilikinya. Ada memang pengenalan tokohnya secara cepat, pengenalan jalan cerita dan konflik sih juga di singgung tapi gak terlalu dalam. Mungkin karena basisnya ini adalah film komedi, yang dari trailer pun juga di kuatkan sisi komedinya.


     |CERITA| DOA punya premis yang cukup sering kita dengar, kisah persahabatan yang saling membantu salah satunya untuk mencari jodoh karena sudah jadi perjaka tua. Ini mengingatkan kita pada kisah Get Merried, walaupun secara tokoh memang berbeda, namun balutan kisahnya bisa dibilang sama, dengan latar belakang setting perkampungan Jakarta dengan kesialannya masing-masing. DOA terlihat membawa sesuatu yang fresh dari karakter tokoh yang mereka bawakan, tapi rasanya seperti hambar aja gitu. Chemistry antara ketiga pemain belum terlihat menyatu, masih seperti pribadi masing-masing yang dipertemukan dalam film. Secara keseluruhan sih DOA tidak meninggalkan kesan apa-apa bagi penonton, baik komedinya maupun cerita.


     |VISUAL| Mengingat ini filmnya Anggy Umbara, pasti akan ada visual efek dan color grading yang khas, dan itu muncul di DOA. Secara umum visualnya biasa sih, gak begitu spesial, tapi juga gak ganggu.


     |AUDIO| Di dalam film DOA ada beberapa adegan semacam video clip-video clipan yang sebenernya cukup dragging dan gak kerasa faedahnya. Mungkin di awal-awal lagu seru, tapi ketika kelamaan, jadi membosankan.


     |ACTING| Baik Fedi Nuril, Pandji, maupun Dwi Sasono memang punya karakter yang jauh berbeda dari yang mereka perankan biasanya, namun entah kenapa rasanya biasa aja ketika mereka bermain di DOA. Entah mungkin karena naskahnya yang kurang kuat, atau karakternya sendiri yang kurang kuat. Tapi akting mereka bagus kok, gak mengecewakan.


     |KESIMPULAN| Film DOA bisa jadi alternatif untuk mencari tontonan yang ringan, walaupun sebenarnya komedinya juga gak terlalu nampol, bahkan sebenarnya ada komedi yang kurang pas untuk anak-anak. Jadi kalau mau nonton, memang harus pintar-pintar memfilter komedi yang ada didalamnya. #BanggaFilmIndonesia


0 komentar:

Post a Comment

Newest Review

Review Film Hanum & Rangga (Faith & The City) (2018) : Buah Semu dari Kemegahan New York

     Satu lagi sebuah drama yang diadaptasi dari novel laris karya penulis Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra. Setelah beberapa ...

Popular Review

Archive

Followers

 
Copyright © 2016 Riza Pahlevi