Home » , , » Review Film Aruna dan Lidahnya (2018) : Sebuah Penjelajahan Rasa yang Lebih dalam dari Kuliner

Review Film Aruna dan Lidahnya (2018) : Sebuah Penjelajahan Rasa yang Lebih dalam dari Kuliner


     Palari Films, sebuah rumah produksi baru yang baru berdiri di tahun 2016 berbasis di Jakarta. Sejauh ini sudah ada 2 film yang dia produksi, Posesif di tahun 2017 dan Aruna & Lidahnya di tahun ini. Posesif mendapatkan apresiasi yang sangat bagus, baik di ajang festival film maupun respon dari penonton di bioskop. Walaupun perolehan penontonnya kurang powerfull, namun penonton yang beruntung menyaksikan Posesif, mengakui betapa bagus film Posesif. Lalu di tahun ini Palari kembali menelurkan sebuah karya film, menggandeng Dian Sastrowardoyo, Oka Antara, Hannah Al Rasyid, dan Nicholas Saputra, apakah Aruna & Lidahnya bisa menyamai atau bahkan melebihi prestasi pendahulunya (baca: Posesif)?


     |POSTER & TRAILER| Sebuah keunikan ketika melihat poster Aruna & Lidahnya. Konsep memframing dengan warna merah jaduh, dan berisi jajaran aktor dan aktris utama, Aruna, Bono, Nad, dan Farish. Dengan set seperti di tempat makan sederhana, dengan ada kaleng krupuk di sebelah kiri. Secara tidak langsung bentuk posternya mirip dengan kaleng krupuk tersebut, sebuah konsep yang menarik. Vintage dan klasik nan unik.


     Yang bisa didapetin dari trailer Aruna & Lidahnya adalah tentu pengenalan karakter yang singkat, khususnya si Aruna sebagai tokoh utama disini. Pengenalan jalan cerita yang akan dilalui Aruna, dan pengenalan konflik juga walaupun untuk konflik gak terlalu dijabarkan dengan jelas. Selain itu, penonton juga dimanjakan dengan musik-musik yang klasik dan gambar-gambar makanan yang bikin laper.


     |CERITA| Aruna & Lidahnya itu berkisah tentang seorang peneliti yang harus melakukan investigasi terhadap kasus flu burung, tapi diluar itu dia punya rencana untuk melakukan petualangan kuliner bersama dengan sahabatnya Bono dan Nad. Namun ditengah perjalanannya, dia dipertemukan dengan Farish, rekan lamanya yang ditugaskan untuk menemani dan mengawasi Aruna untuk tetap fokus pada investigasinya. Menariknya film ini tak hanya punya kisah sesimpel jalan-jalan dan makan doang, tapi ada misi lain, seperti investigasi, dan juga masalah hati. Semuanya diracik menjadi satu dengan jahitan editing yang khas dengan gaya Edwin. Beberapa kali ada gambar yang bisa dilihat orang awam agak random, seperti aruna tiba-tiba di pantai mencoba air laut tapi tidak asin, dan beberapa gambar lainnya. Tapi tentu Edwin tidak semena-mena meletakkan gambar yang seolah-olah random itu begitu saja. Aruna & Lidahnya ini film yang tipenya bisa dinikmati dengan santai tanpa effort, namun jika kamu ingin mendapatkan meaning yang lebih, tentu penonton juga harus mengulik lebih dalam lagi makna-makna tersirat yang muncul di Aruna & Lidahnya.


     |VISUAL| Jika kamu sering menonton film di bioskop dengan ratio anamorphic atau 2.35:1, Aruna & Lidahnya menggunakan ratio 16:9, seperti yang digunakan juga pada Posesif. 16:9 itu ratio standart dari youtube, dan anamorphic itu lebih memanjang, kalau di youtube biasanya ada hitam-hitam dibagian atas dan bawah video. Anamorphic memberikan kesan lebih cinematic, namun beberapa film maker tetap mempunyai pilihan mengenai ratio ini. Bahkan film Siti menggunakan ratio 4:3 seperti jaman TV tabung. Lalu bagaimana dengan Aruna & Lidahnya? Meski menggunakan ratio 16:9, tapi Aruna & Lidahnya tidak kehilangan rasa cinematicnya. Ini berkat pengambilan gambar yang asik dan sang DOP juga pintar mengambil angle yang tepat, sehingga gambar-gambar yang dihasilkan terasa hidup.


     |AUDIO| Aruna & Lidahnya punya style musik yang klasik vintage yang asik, memberikan sensasi menonton yang berbeda. Inipun sesuai dengan gaya visualnya yang juga dibuat ala-ala vintage klasik namun tetap terlihat modern, bukan yang jadul kuno.


     |ACTING| Performa yang menarik ditunjukan oleh Oka Antara, Dian Sastrowardoyo, dan Hannah Al Rasyid. Karakter mereka yang kuat, membuat mereka juga jadi berkesan di film ini. Nicholas entah kenapa, jadi kurang berkesan aja. Mungkin karena pengaruhnya di film ini juga kurang.


     |KESIMPULAN| Aruna dan Lidahnya menjadi sebuah film yang menarik dengan gaya yang berbeda dari film Indonesia kebanyakan. Penonton diberikan space untuk memaknai film ini lebih dari sekedar tuturan yang biasa di sampaikan tersurat. Sebuah pengalaman sinematografi yang menyenangkan. #BanggaFilmIndonesia

0 komentar:

Post a Comment

Newest Review

Review Film Hanum & Rangga (Faith & The City) (2018) : Buah Semu dari Kemegahan New York

     Satu lagi sebuah drama yang diadaptasi dari novel laris karya penulis Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra. Setelah beberapa ...

Popular Review

Archive

Followers

 
Copyright © 2016 Riza Pahlevi