Home » , , » Review Film Sabrina (2018) : Sekuel dengan Pola Sama

Review Film Sabrina (2018) : Sekuel dengan Pola Sama



     Setelah trend sekuel dan prekuel melanda perfilman Indonesia, kali ini demam ‘universe’ dan ‘spin-off’ pun mulai bermunculan. Sabrina, sebuah spin-off dari The Doll 2. Secara mudah spin-off bisa dikatakan sebagai sebuah karya baru yang diambil dari film yang sudah ada. Dalam hal ini, Sabrina adalah sosok boneka yang muncul di film The Doll 2, yang kemudian di buatkan film sendiri. Kalau secara timeline sih, Sabrina itu terjadi setelah The Doll 2, ya bisa juga di katakan Sabrina adalah sekuel dari The Doll 2. Lalu dengan The Doll series yang selalu memukau itu, apakah Sabrina masih bisa menunjukkan ‘taringnya’?


     |POSTER & TRAILER| Masih dengan gaya simpel dan gak jauh berbeda dari konsep poster The Doll 2, dengan boneka Sabrina sebagai fokus utama poster, dan that’s it, sejauh yang ada di poster, hanyalah boneka yang duduk seperti di lantai kamar mandi dengan banyak coretan tulisan ‘main yuk’ dan ‘cari aku’. Walaupun sebenarnya, di dalam film pun tak ada adegan ‘main yuk’ atau ‘cari aku’ dengan boneka Sabrinanya. But it’s ok, posternya cakep.


     Yang bikin menarik dalam Sabrina adalah sosok iblis yang seram, visual effect yang semakin cakep, dan beberapa adegan yang bikin penonton penasaran! Iblis yang meronta-ronta sambil nempel di dinding luar rumah lantai atas, dan segala-gala yang lain. Penataan adegannya juga pas dengan musiknya, sehingga berhasil membawa emosi penonton juga. Walaupun sejujurnya, kemunculan sosok hantunya terlalu banyak.


     |CERITA| Sabrina sejatinya memiliki plot cerita yang tak jauh berbeda dengan kakak-kakaknya (baca: The Doll dan The Doll 2). Namun bukan berarti Rocky Soraya tidak mengembangkan apapun di Sabrina. Ada banyak perkembangan yang terjadi, baik dari cerita, setting lokasi, konflik, hingga aksi gore yang terus di upgrade. Salah satu yang menarik dari Sabrina, adalah sosok iblisnya. Secara fisik menyeramkan, teror yang diberikan pun juga tak kalah sadis! Overall, Sabrina memang bentuk upgrade dari pendahulunya, walaupun Sabrina bukanlah yang terbaik, mengingat pola yang digunakan mirip, sehingga ceritanya sudah tak berasa fresh, namun secara performance, Sabrina memukau.


     |VISUAL| Tak hanya bagian cerita yang di upgrade, namun sisi visual juga trus dicari sesuatu hal yang baru oleh Rocky dan timnya. Pergerakan kamera yang dinamis, mengingatkan kita pada film Mata Batin, masih dari Hitmaker Studios juga. Namun entah mengapa, mungkin karena ingin terlihat berbeda dari Mata Batin, Sabrina malah terkesan memiliki gambar yang kurang matang dan motivasinya terlihat lebih lemah. Misalnya, ada kamera yang mau menembus pintu, berpindah dari satu ruangan, ke ruangan lainnya. Jika di Mata Batin kamera itu seolah masuk melalui cela kunci pintu, sedangkan di Sabrina, kameranya hanya menabrak pintu begitu saja. Jadi terasa kurang asyik aja. But selain itu, secara visual Sabrina masih oke banget dan visual effectnya makin matang.

 
     |AUDIO| Nah untuk sisi audio ini, sepertinya agak berbeda dari pada film-film Hitmaker Studios sebelumnya. Mungkin karena crew dibalik layarnya dikerjakan oleh orang yang berbeda? Atau memang sengaja di buat berbeda? Yang jelas music di Sabrina lebih berisik. Mengingatkan pada film-filmnya MD Pictures, Pichouse Films, dan Dee Company. Ini juga bentuk penurunan sih sebenernya. Karena Sabrina sudah memiliki potensi secara visual dan ceritanya yang megah, namun harus tertutupi oleh musik yang berisik, seolah-olah Sabrina kurang pede dengan apa yang dia miliki.



     |ACTING| Satu hal yang menarik dari Sabrina adalah kita bisa melihat Christian Sugiono berakting kesurupan dan menjadi seperti zombie yang haus darah. Selama ini dia berperan sebagai pria cool yang gak aneh-aneh. Nah disini pun juga dia berperan seperti itu, walaupun terlihat lumayan kaku sebenarnya dibandingkan saat dia kesurupan. Selain itu Luna Maya, dia tetap cakep dalam kesurupannya, walaupun juga gak jauh beda dibanding di The Doll 2. Nah yang menarik lagi lainnya, Sarah Wijayanto lebih banyak di ekspose di Sabrina. Kemampuan aktingnya yang cakep pun diuji disini. Jeremy Thomas dan pemeran lainnya pun turut andil berakting bagus dalam porsinya masing-masing.


     |KESIMPULAN| Sabrina memang bukan karya terbaik dari Hitmaker Studios, namun banyak perkembangan yang muncul didalamnya. Plot yang mirip mungkin akan menjemukkan bagi orang yang mengikuti perjalanan Hitamaker Studios, namun percayalah, Rocky juga tetap memiliki amunisi-amunisi yang ampuh untuk menghibur penonton. #BanggaFilmIndonesia

0 komentar:

Post a Comment

Newest Review

Review FIlm Kafir (2018) : Asyik sih Kemasannya, Tapi...

     Perlu diakui semenjak beberapa film horor yang super laris di tahun 2017, membuat 2018 menjadi tahunnya film horor. Puluhan bahkan m...

Popular Review

Followers

 
Copyright © 2016 Riza Pahlevi