Home » , , » Review Film Buffalo Boys (2018) : Action Indonesia rasa Amerika!

Review Film Buffalo Boys (2018) : Action Indonesia rasa Amerika!


     Pernahkah ada dibenakmu sebuah film koboy di produksi di Indonesia? Buffalo Boys lah jawaban atas angan-angan itu. Tak hanya dikerjakan di Indonesia, namun juga melibatkan banyak orang Indonesia, baik crew maupun aktornya. Sebuah mega proyek dari Screenplay Infinite Films, Infinite Studios, Zhao Wei Films, dan Bert Pictures yang berhasil menguras milyaran rupiah untuk budget produksinya. Apakah semua pengorbanan itu berbuah feedback yang baik dari para penikmat film?


     |POSTER & TRAILER| Tak bisa di pungkiri, poster memiliki dampak yang besar bagi sebuah film. Bahkan orang bisa menilai akan menonton atau tidak sebuah film, hanya dari sebuah poster. Bukan sebuah hal yang dibesar-besarkan, namun inilah realitanya. Terkadang seseorang hanya sekedar ingin mencari hiburan dengan datang ke bioskop, tanpa tau apa yang akan ditonton. Kemudian jadi memilih suatu film, sesimpel dari melihat poster yang menurutnya menarik.


     Bufallo Boys memiliki poster dengan banyak versi. Hal yang wajar dilakukan sebuah film apalagi dengan budget besar. Bukan tanpa alasan, beragamnya poster ini juga bermaksud untuk bisa meraih lebih banyak lagi dari beragam poster yang dibuat. Sebagai poster utama, Buffalo Boys memilih poster dengan background merah dan hitam. Sebuah tengkorak kepala kerbau (?) yang dipenuhi jajaran aktor pendukung film ini yang di berikan warna seperti monochrome namun berwarna kecokelatan. Sebuah poster yang simpel, gak berisik, dan tegas. Menarik!


     Buffalo Boys menggunakan trailer dengan cara bertutur seperti sebuah dongeng. Salah satu cara untuk menyampaikan cerita dengan mudah. Membuat trailer memanglah bukan perkara yang mudah. Namun trailer dengan adegan dan dialog-dialog pilihan, bisa jadi akan membuat trailer Buffalo Boys lebih menarik. Mengingat Buffalo Boys punya banyak materi yang bagus untuk itu.


    |CERITA| Buffalo Boys dasarnya adalah kisah fiksi, namun dikaitkan dengan sejarah nyata. Sebuah inovasi yang menarik. Berawal dari dendam ayahnya, dua orang anak lelaki kembali pulang ke Jawa. Mereka yakin bisa membayar dendam kematian ayahnya. Sosok ini yang kemudian disebut Buffalo Boys, diperankan oleh Ario Bayu dan Yoshi Sudarso. Selama mereka di Jawa, banyak lika-liku yang mereka alami. Selama bergaul dengan warga sekitar, hingga saat mereka mulai menyusun rencana untuk melawan Van Trach.


     Film tak hanya seputar berkelahi saja. Buffalo juga banyak menyisipkan drama. Gak main-main, setiap part drama yang ada di Buffalo juga dikerjakan secara baik. Sehingga penonton akhirnya merasakan dua sisi emosional yang berbeda, adrenalin berpacu karena action dan perasaan bergejolak karena dramanya. Memang masih ada beberapa kekurangan pada Bufallo Boys, namun sedikit banyak masih tertutupi oleh performa film ini secara keseluruhan.


     |VISUAL| Sebagai sebuah film berbudget besar, maka tak heran jika Buffalo juga harus memiliki aspek teknis yang megah dong? Dan Buffalo berhasil menjawab itu! Sajian visual yang dinamis dan terlihat megah. Buffalo tak hanya sekedar memberikan gambar dengan informasi untuk memutarkan roda bercerita saja, namun dia juga memberikan estetika yang membuat penonton betah duduk berlama di bioskop sambil menikmati keindahan visualnya.


     |AUDIO| Penonton tak hanya dimanjakan dengan kemegahan visual, namun juga audio. Ini lah yang kita sebut dengan cinema. Audio dan visual saling mendukung satu sama lain. Musik ilustrasi yang membawa kita seolah berada di dalam film-film koboy Amerika, namun dengan rasa lokal. Sebuah perpaduan yang ciamik.


     |ACTING| Ario Bayu dan Yoshi Sudarso bisa dikatakan salah satu pasangan dengan chemistry yang hangat pada tahun ini. Hubungan selayaknya sepasang saudara ditunjukan nyata. Terkadang baik dan terkadang berantem. Inilah fakta hubungan saudara yang tak selalu sependapat. Kehadiran mereka, membuat film ini jadi jauh bernyawa. Tokoh-tokoh lain pun saling mendukung satu sama lain, seperti Pevita Pearce, Tio Pakusadewo, Donny Alamsyah, Mike Lucock, Alex Abbad, dan beberapa peran-peran lain.


     |KESIMPULAN| Buffalo Boys secara singkat bisa dibilang film koboy rasa lokal. Dengan gak keluar dari pakem selayaknya film koboy, dan gak meninggalkan rasa lokal Indonesia. Kekuatan akting dari Ario dan Yoshi, didukung aspek teknis yang megah, membuat Buffalo Boys menjadi salah satu film yang mudah membekas di ingatan penontonnya. #BanggaFilmIndonesia

0 komentar:

Post a Comment

Newest Review

Review Film Hanum & Rangga (Faith & The City) (2018) : Buah Semu dari Kemegahan New York

     Satu lagi sebuah drama yang diadaptasi dari novel laris karya penulis Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra. Setelah beberapa ...

Popular Review

Followers

 
Copyright © 2016 Riza Pahlevi