Home » , , » Review Film Kembang Kantil (2018) : Potensinya Menarik, Eksekusi Biasa

Review Film Kembang Kantil (2018) : Potensinya Menarik, Eksekusi Biasa



     Untuk kesekian kalinya, duet antara Dee Company dan MD Pictures kembali melahirkan sajian horror ke layar lebar. Kali ini dengan menggandeng sutradara bernama Ubay Fox. Track record Ubay selama ini menjadi sutradara, pernah membuat film Valentine. Film yang memakan waktu proses pasca produksi yang lama. Walaupun pada akhirnya, waktu tayangnya sendiri hanya singkat, terhitung pada hari ke 5 penayangannya, Valentine ditarik dari peredaran, karena kemauan dari sang produsernya sendiri. Terlepas dari itu, bisa dibilang Kembang Kantil adalah film horror pertama yang digarap oleh Ubay Fox. Lalu apakah Ubay mampu mengeksekusinya dengan baik?


     |POSTER & TRAILER| Kembang Kantil mempunyai poster yang unik. Latar belakang dinding dengan wall sticker berdesign gaya mewah, namun dengan lantai yang kotor (?) Kemudian ada kedua tokoh dewasa dan satu anak kecil yang mukanya tertutup oleh rambut. Ketiga tokoh ini tangannya terikat oleh tali yang menggantung dari langit-langit. Seakan mereka seperti boneka kayu yang sedang dikendalikan oleh pendongeng. Ini poster yang simple namun tetap menarik. Walaupun kalau secara langsung, kita tidak akan melihat adegan ‘boneka’ seperti itu. Kecuali poster itu dibuat, sebagai bentuk makna yang tersirat terhadap isi film.


     Selain poster yang elegan, Kembang Kantil punya trailer yang menjanjikan. Suasana horror, mencekam, misterius, dan rasa penasaran yang dibangun terasa pas. Kembang Kantil itu yang dimakan di dalam trailernya, juga menjadi salah satu daya tarik tersendiri, selain dengan dibawanya lagu ‘Cicak-Cicak di Dinding’ secara horror. Film ini telah menaikkan ekspektasi calon penonton, setelah melihat poster dan trailernya.


     |CERITA| Mengangkat anak dari panti asuhan, sebagai pancingan agar sepasang kekasih memiliki keturunan. Namun bagaimana jika si anak angkat, adalah anak yang ‘beda’? Premis yang menarik. Potensi itu dibawa Kembang Kantil dengan cukup rapih. Selain diajak untuk mengikuti alur yang sudah dibuat oleh pembuat film, penonton juga diajak untuk ikut menebak teka-teki yang ada di dalamnya.


     |VISUAL| Visual yang dibawakan Kembang Kantil juga cukup elegan dikelasnya. Walaupun jelas masih dibawah dari film-filmnya Hitmaker Studios. Pengambilan sudut gambar, penataan lighting, hingga pewarnaan dalam color grading berhasil membuat film ini menjadi lebih bernyawa.


     |AUDIO| Satu hal yang menarik dari Kembang Kantil adalah penggunaan sound effect yang mulai efektif, dibandingkan film-film horror sejenis milik MD maupun Dee Company lainnya. Bicara soal musik ilustrasi, film ini masih ‘berisik’, tapi setidaknya Kembang Kantil masih cukup nyaman untuk dinikmati.


     |ACTING| Nafa Urbach menjadi aktor dengan acting paling cakep di film ini. Nafa mampu berperan sebagai Santi, and she did a great job. Dia berhasil meyakinkan penonton, bahwa dia bukan Nafa, tapi Santi. Salah satu twist besar di film ini, dia pemegang kuncinya. Dan Nafa berhasil menjaga itu sampai di waktu yang pas untuk di ungkapkan. Sedangkan Irish Bella, Fadika Royandi, Kevin Kambey, dan Richelle Georgette Skonicki berada di urutan selanjutnya. Akting mereka cukup membawa suasana dan tetap pada lajurnya masing-masing. Sedangkan Sarwendah, masih terlihat kaku dalam berakting.


|KESIMPULAN| Film Kembang Kantil masuk dalam kategori cukup untuk menghibur. Dia mempunyai elemen-elemen yang digarap secara baik dan menarik, walaupun secara keseluruhan, masih ada kekurangan di satu dan lain hal yang membuatnya kurang special. Namun tak ada salahnya untuk menikmati film ini, selagi masih tayang di bioskop. #BanggaFilmIndonesia


0 komentar:

Post a Comment

Newest Review

Review Film Hanum & Rangga (Faith & The City) (2018) : Buah Semu dari Kemegahan New York

     Satu lagi sebuah drama yang diadaptasi dari novel laris karya penulis Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra. Setelah beberapa ...

Popular Review

Followers

 
Copyright © 2016 Riza Pahlevi