Home » , , » Review Film Dimsum Martabak (2018) : Manisnya Martabak, Gurihnya Dimsum

Review Film Dimsum Martabak (2018) : Manisnya Martabak, Gurihnya Dimsum


     Tahun ini Raffi Ahmad sedang bergairah untuk ikut memeriahkan industri film Indonesia dengan PH yang baru didirikannya, RA Pictures. Sebut saja sudah ada 2 judul untuk tahun ini yang sudah tayang, The Secret dan Dimsum Martabak. Dan masih ada 2 film lagi yang menantikan waktu tayangnya. The Secret masih belum bisa dibilang sebagai film yang layak untuk di tonton dengan segala kekurangan yang dimilikinya, baik dari cerita maupun teknis. Hal ini pun turut membuat penonton jadi ogah-ogahan untuk menyantap Dimsum Martabak. Namun fakta yang menarik adalah, Dimsum Martabak mampu berdiri bersama dengan film-film dari PH besar untuk ditayangkan pada libur Lebaran 2018. Tentu bagi PH baru seperti RA Pictures, ini merupakan sesuatu yang spesial. Apakah kualitas, menjadi salah satu alasan Dimsum Martabak mampu mendapatkan tanggal tayang pada libur lebaran tahun ini?


     |POSTER & TRAILER| Posternya gak berisik. Hanya ada 2 tokoh utama, Mona membawa dimsum ditangan, dan Soga membawa martabak di tangannya juga. Sesuai dengan judulnya, Dimsum Martabak. Yang membuat poster Dimsum Martabak semakin enak dilihat, penggunaan background Australia yang cerah, membuat poster ini terasa segar.


     Trailernya pun juga secerah posternya, dalam artian menyenangkan. Dengan susunan adegan pilihan yang cukup rapih, dengan beberapa komedi yang diselipkan, sehingga trailernya semakin menarik. Satu hal poin paling cakep dari trailernya adalah penempatan original soundtracknya, Hanya Kamu - Ayu Ting-Ting & Boy William, bikin suasanya semakin cair.


    |CERITA| Dimsum Martabak punya cerita drama romantis ala FTV. Kisah seorang perempuan yang berasal dari keluarga kurang mampu, yang saling jatuh cinta dengan pria kaya raya yang menyembunyikan kekayaannya. Klise kan? Namun bukan berarti Dimsum Martabak menjadi membosankan. Boy William dan Ayu Ting-Ting cukup menunjukkan chemistry yang hangat. Kisah yang dibalut dengan restaurant Dimsum dan food management di foodtruck martabak pun semakin membuat film ini beda dari FTV yang ada, dan otomatis daya tariknya meningkat. Sayangnya pembahasan menarik tentang food management, hanya berlalu begitu saja, tak terlalu banyak di ekplore. Semenjak guliran cerita sudah mulai berubah tentang penjelasaan kekayaan Soga, film ini mulai kembali ke jalur FTV. Beberapa hal terasa mudah berjalan, dan beberapa plot hole juga ditemukan.


     |VISUAL| Pengambilan gambarnya biasa. Continuity masih sering meleset. Gambar yang diambil di Australia terlalu sederhana. Footage drone yang mengambil stock itupun, kualitasnya buruk, terlalu dipaksakan.


     |AUDIO| Serius, tanpa original soundtrack secakep itu, mungkin Dimsum Martabak tidak akan semenarik dan semembekas itu. Lagu Hanya Kamu yang dinyanyikan Ayu Ting-Ting & Boy William memang easy listening dan enak banget. Good job buat tim original soundtracknya!


     |ACTING| Ayu Ting-Ting sebagai seorang pendatang baru di dunia film, tampil cukup baik loh. Walaupun tentu belum sempurna. Namun kekurangan paling mengganggu justru dari make upnya. Bulu mata, blush on, dan make up yang telalu 'tebal' untuk kegiatan sehari-hari, itu mengganggu. Sedangkan Boy William tampil cakep aktingnya, natural dan pas, tidak berlebihan.


     |KESIMPULAN| Dimsum Martabak mungkin boleh dikatakan sebagai FTV yang masuk ke bioskop. Namun membayar uang untuk menonton Dimsum Martabak di bioskop, bukanlah hal yang salah. Karena Dimsum Martabak masih bisa dan enak untuk di santap. #BanggaFilmIndonesia

2 komentar:

  1. Ternyata filmnya ga seburuk itu ya min?
    Soalnya review yang pertama kali muncul kan jelek banget
    Eh belakangan muncul beberapa review yang kasih score lumayan lah

    ReplyDelete

Newest Review

Review FIlm Kafir (2018) : Asyik sih Kemasannya, Tapi...

     Perlu diakui semenjak beberapa film horor yang super laris di tahun 2017, membuat 2018 menjadi tahunnya film horor. Puluhan bahkan m...

Popular Review

Followers

 
Copyright © 2016 Riza Pahlevi