Home » , , , » Review Film Yowis Ben (2018) : Komedi Segar Kedaerahan-Modern

Review Film Yowis Ben (2018) : Komedi Segar Kedaerahan-Modern


     Mendengar nama Bayu Skak dalam dunia Youtube, memang sudah tak asing. Sosok youtuber asal Malang ini memang sudah dikenal sebagai satu dari sekian banyak pelopor youtube menjadi berkembang di Indonesia hingga sekarang. Bayu sendiri secara khusus, membawa Bahasa Jawa menjadi bahasa pengantar dalam video-videonya, menjadikan konten youtubenya unik. Namun bagaimana jika Bayu Skak menjadi sutradara film? Starvision menjadi PH pertama yang memberi kepercayaan itu. Tentunya di jejak awal kariernya di dunia film ini, dia masih digandeng bersama sutradara kenamaan Fajar Nugros, untuk menjadi tim yang baik. Lalu apakah kolaborasi mereka dapat menghasilkan karya yang baik juga?


     |POSTER & TRAILER| Dua tokoh utama, pria dan wanita menjadi sentral dari poster ini. Ditambah beberapa pemeran pendukung dibelakangnya. Menggunakan dominan warna biru, merah, dan putih. Kalau dibilang bagus, ya bagus. Namun bisa dibilang poster seperti ini sudah sering digunakan oleh Starvision.


     Untuk trailer, film mampu membagikan cuplikan potongan-potongan adegan dengan dialog yang mampu memancing tawa, penasaran dan akhirnya membawa calon penonton datang untuk nonton di bioskop. Beberapa kosakata Jawa yang jarang didengar, menjadi ear cathcer yang unik.


     |CERITA| Kisah anak SMA dengan segala problematikanya, persahabatan, hubungan beda pendapat dengan orang tua, mencari jati diri atau eksistensi, cinta, dan segala konflik yang dilami remaja. Bukan sebuah jalinan kisah yang baru. Sudah banyak film serupa. Kisah sekumpulan siswa yang merasa senasip 'tertindas' kemudian ingin menunjukkan kebolehannya dengan main band, juga sudah banyak film yang pernah dibuat. Lalu apa nilai jual Yowis Ben? Bahasa Jawa! Ini adalah poin yang gak bisa dipisahkan dari Yowis Ben.


     Berawal dari lokasi yang berada di Jawa Timur, dan hampir sekeluruhan dialog menggunakan Bahasa Jawa Timuran, membuat film ini berbeda dan terkesan fresh dibandingkan film-film serupa. Kejujuran yang ada, membuat film ini enak dan nyaman untuk dinikmati. Bukan sekedar pengen gaya-gayaan, modern, setting di Jawa Timur, tapi bahasa Jakartaan. Namun tak sekedar itu aja, Yowis Ben juga punya plot cerita yang sederhana, namun mampu membangun konfliknya dengan rapih. Sehingga komedinya dapet, dramanya pun juga.


     |VISUAL| Secara visual, Yowis Ben gak jauh beda dengan film-film Starvision dengan tema serupa. Cenderung ceria, apalagi set kampung rumah Bayu juga sangat colorfull, membuat film ini semakin berwarna. Pengambilan gambar, cutting dan segala macem dikerjakan sesuai dengan porsinya. Tempo film juga pas, khususnya untuk timing komedi dan dramanya, sehingga gak jadi terlalu lambat ataupun jadi terburu-buru.


     |AUDIO| Departemen audio Yowis Ben juga mendukung penonton semakin menikmati komedi dan dramanya dengan musik ilustrasi yang pas. Lagu-lagu dalam Yowis Ben sendiri, juga cukup easy listening, walaupun penonton yang belum tentu tau arti lagunya dalam Bahasa Jawa (diluar bisa baca subtitle) tapi cukup bisa membuat orang terngiang-ngiang dengan nadanya. Dan sedikit banyak bernyanyi 'Aku gak iso turu, gak iso turu, mikirno awakmu'.


     |ACTING| Bayu selain menjadi sutradara bersama Fajar Nugros, dia juga menjadi actor utama, sebagai Bayu. Dia berperan meyakinkan, pas, mungkin karena keseharian dia juga tidak jauh beda dengan di film, jadi terlihat sangat natural. Dalam beberapa adegan yang menyentuh, dia juga bisa membangun emosi yang cukup. Cut Meyriska, Brandon Salim, Joshua Suherman, dan beberapa aktor pendukung lainnya, juga semua asyik dalam karakter tokohnya masing-masing. Semuanya pas, tidak berlebihan, kecuali make upnya Cut Meyriska saat di sekolah.


     |KESIMPULAN| Sebagai sebuah film dengan tema massal seperti ini, Yowis Ben tetap memiliki ciri khas yang belum dimiliki film serupa. Ada hal baru yang dia berikan, yaitu penggunaan Bahasa Jawa yang tulus, bukan sekedar tempelan. Konfliknya pun dibangun secara rapih dengan eksekusi yang baik juga secara teknis. Bukan film yang terlalu spesial, namun sayang untuk dilewatkan. #BanggaFilmIndonesia


1 komentar:

  1. setuju bangeet... yowis ben adalah film yang membawa angin segar juga menurut saya karena jarang lihat film-film Indonesia yang pakai gaya serupa..

    ReplyDelete

Newest Review

Review Film Hanum & Rangga (Faith & The City) (2018) : Buah Semu dari Kemegahan New York

     Satu lagi sebuah drama yang diadaptasi dari novel laris karya penulis Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra. Setelah beberapa ...

Popular Review

Followers

 
Copyright © 2016 Riza Pahlevi