Home » , , » Review Film Love For Sale (2018) : Keintiman Perjaka dan Wanita

Review Film Love For Sale (2018) : Keintiman Perjaka dan Wanita


     Jika kita kembali mengingat, film hakekatnya adalah sebuah media penyampaian pesan dari pembuat film kepada penonton. Tujuan dari setiap film, ingin pesannya sampai ke penonton. Entah dengan metode, style, gaya, atau cara yang bermacam-macam. Ada yang menyampaikan pesan secara tersurat maupun tersirat. Tidak ada benar atau salah, karena semua cara ini ditempuh untuk mendapatkan tujuan yang sama, pesan sampai kepada penonton. Lalu bagaimana dengan film Love for Sale?


     |POSTER & TRAILER| Warna hangat yang berpadu dengan biru serta pink. Suasana intim yang tercipta dari potret sepasang anak manusia bersama satu hewan ditengahnya sedang bercengkrama diatas tempat tidur. Simbol-simbol yang tergambarkan, memberi clue pada karakter dan perjalanan yang akan mereka hadapi selama di film. Richard yang tak berselimut, membawa handphone ditangannya, dan tersenyum menatap Arini. Sedangkan Arini kakinya tertutup oleh selimut, senyum merekah menghadap kamera, dan ada jarak diantara Arini dan Richard. Sebuah poster yang tak hanya menarik dipandang, namun juga bermakna.


     Love for Sale merangkai setiap adegannya secara tidak urut sebenarnya, namun hal ini menjadi suatu puzzle tersendiri bagi calon penonton film ini. Jalan cerita yang tak sepenuhnya diungkap, dan juga sebaliknya, membuat penonton masih bisa menikmati filmnya tanpa merasa terspoiler duluan. Walaupun bagi orang yang sudah nonton, hal-hal yang ada di trailer, sedikit banyak juga tetap menggambarkan perjalanan ceritanya.


     |CERITA| Diawal tulisan ini dibuka dengan cara bercerita setiap film itu berbeda-beda. Love for Sale bisa dikatakan sebagai film yang membawa penonton untuk merasakan apa yang dirasakan Richard. Selain hanya mengikuti kesehariannya, film ini menggambarkan naik-turun emosi yang dialami dan dirasakan Richard. Dampaknya adalah penonton menjadi empati dengan Richard, hingga menjadi intim dalam setiap langkah yang ditempuh oleh Richard. Termasuk penggunaan ending yang tidak tertutup. Penonton memang diberikan kebebasan untuk menentukan sendiri endingnya, namun yang menarik adalah, film ini tetap memberikan clue, agar imaginasi penonton tetap terarah. Karena kalau tidak, film ini bisa jadi terasa kentang, alias tanggung.


     |VISUAL| Sejak awal film noise sudah mewarnai film, berarti kualitas ketajaman gambar bukanlah hal utama. Namun semakin kebelakang, kekurangan ini ditutupi oleh pergerakan kamera yang dinamis, ini yang menjadi keasyikan sendiri menikmati sektor visual dari film ini. Selain itu tentu didukung grading yang pas. Set artistik pun juga detail, karena cukup banyak hal-hal yang disampaikan melalui sektor ini.


     |AUDIO| Untuk bagian audio, yang perlu disoroti adalah musik ilustrasinya. Sejak trailer pun, kita sudah mendengarkan betapa intim musik yang digunakan. Segala departemen yang ada di film ini, seolah turut mendukung dalam membuat penonton tenggelam dalam karakter Richard.


     |ACTING| Gading Marten menjadi tonggak utama yang berdiri kokoh penyangga kekuatan film ini. Dia salah satu kandidat aktor terkuat sejauh ini, dan mungkin bisa masuk nominasi bahkan memenangkan penghargaan aktor di tahun ini. Della Dartyan pun juga tak kalah menawan. Chemistrynya dengan Gading tak sekedar sentuhan palsu. Semua terasa nyata dan natural.


     |KESIMPULAN| Love for Sale sebagai film dengan label 21+ berhasil membuktikan bahwa film ini 'berisi'. Bukan hanya sekedar adegan dewasa sekedarnya, namun semua tepat pada porsinya. Penonton diajak untuk mendalami tokoh Richard dengan segala lika-liku perjanalan hidupnya. Sebuah drama yang intim, antara penonton dan tokoh didalam film itu sendiri. Sayang untuk dilewatkan. #BanggaFilmIndonesia


0 komentar:

Post a Comment

Newest Review

Review Film Kuntilanak (2018) : Horor yang Bikin Gemes

         MVP Pictures merilis kembali film dengan judul Kuntilanak, setelah 12 tahun yang lalu. Kendati memiliki judul yang sama, namun ...

Popular Review

Followers

 
Copyright © 2016 Riza Pahlevi