Home » , , , » Review Film Kenapa Harus Bule? (2018) : Kisah Unik Berakhir FTV

Review Film Kenapa Harus Bule? (2018) : Kisah Unik Berakhir FTV


     Kenapa Harus Bule? Memiliki premis yang unik. Seorang perempuan yang ingin mencari jodoh bule, karena dia merasa akan lebih 'dihargai' sebagai seorang wanita jika bersama bule. Mungkin terdengar aneh bagi sebagian orang, tapi bagi sebagian lainnya, fenomena seperti ini memang benar nyata. Lalu tinggal bagaimana film ini dapat mengeksekusi dengan baik atau tidak premis yang telah mereka miliki, apakah berhasil?


     |POSTER & TRAILER| Background jalanan aspal, dengan sepeda motor sedang melaju kencang. Ada seorang perempuan yang memboceng dengan rambut layaknya iklan shampo, dan yang didepan seorang pria dengan rambut pirang. Disepanjang jalan ada jajaran cowok-cowok seperti sedang ngantri tiket bioskop. Poster ini seperti kebingungan ingin menentukan apa yang jadi fokus promonya. Sehingga semua pemain dimasukkan kedalam poster. Walaupun terkadang, porsi muncul di filmnya pun gak begitu berdampak. KHB sebenarnya masih bisa menggali lagi potensi filmnya, untuk dituangkan kedalam bentuk grafis dan dijadikan poster.


     Trailer memang cukup mengulik sedikit rasa penasaran calon penonton, dengan beberapa statement lewat dialog yang disampaikan. Beberapa kalimat prinsip, yang mengundang orang untuk ingin tau, apa alasan atau latar belakang atas prinsip itu. Seperti kata "Gak semua orang takdirnya kawin.". Walaupun sebenarnya trailernya masih bisa disusun dengan lebih menarik, secara penataan juga.


     |CERITA| Kenapa Harus Bule ternyata memiliki banyak pesan-pesan yang disematkan ke dalam cerita. Khususnya tentang wanita serta isu emansipasi dan jodoh. Point-point yang disampaikan secara lugas, namun tetap dalam batas yang wajar, tidak sampai terkesan seperti nonton video edukasi. Hal ini juga karena cerita dikemas dengan ringan, santai, dan ada selipan komedi di sepanjang film yang sedikit banyak membawa senyum dan tawa selama menonton film ini. Walaupun diluar itu, pasti akan ada pro-kontra tentang disisipinya gimmick-gimmick LGBT didalamnya. Tapi diluar isu LGBT, Kenapa Harus Bule memiliki pesan yang bermakna, walaupun cara mengakhiri cerita di 1/4 perjalanan akhir durasinya, menjadi seperti FTV, serba dipaksakan dan tiba-tiba.


     |VISUAL| Menggunakan ratio 16:9 mungkin terkesan ketinggalan dan tidak cinematic. Karena kebanyakan film sekarang menggunakan ratio 2.35:1 atau yang suka disebut anamorphic. Namun sebenarnya masih banyak juga yang menggunakan ratio 16:9, seperti AADC2 hingga Posesif. Perkara cinematic, memang film KHB tidak bermain disitu. Penonton tidak akan menemukan beauty shot seperti yang sering di jumpai di film serupa, apalagi mengingat KHB settingnya di Bali. KHB berfokus pada teknik kamera yang dinamis dengan hand handheld sepertinya. Sehingga gambar yang dihasilkan terkesan alami dan natural. Beberapa scene juga diambil dengan teknik one shot, atau tidak ada perpindahaan gambar, and it was good.


     |AUDIO| Pada sisi ini, juga ada treatment yang menarik. Penonton tidak banyak diusik emosinya oleh kehadiran musik ilustrasi yang 'rame'. Beberapa moment penting sengaja dibiarkan berlalu dengan atmosphere yang ada di lokasi. Sehingga penonton bisa merasakan emosi yang disampaikan film, dengan lebih leluasa. Walaupun untuk foley, film ini juga tidak cukup detail.


     |ACTING| Putri Ayuda menarik perhatian sekali sepanjang film. Dia memegang betul karakter Pipin yang dia mainkan. Sepanjang film jadi tak mengenal Putri, tapi Pipin. Natalius Chendana juga berhasil menarik simpati penonton. Karakternya dia hampir seperti keberadaan Marthino Lio di film Eiffel I'm in Love 2. Beberapa karakter lain, juga bermain cakep, karena memang secara keseluruhan, tidak ada perfoma yang kurang sih. It's all good.


     |KESIMPULAN| Kenapa Harus Bule bisa dikatakan berhasil dalam membawa pesan-pesan penting kedalam film yang ringan ini. Namun memang, label 21+ dirasa penting karena ada pesan lain yang harus disikapi secara bijaksana oleh penonton, karena ada isu seperti LGBT didalamnya. Diluar itu, Kenapa Harus Bule adalah tontonan yang menyenangkan. #BanggaFilmIndonesia

0 komentar:

Post a Comment

Newest Review

Review Film Kuntilanak (2018) : Horor yang Bikin Gemes

         MVP Pictures merilis kembali film dengan judul Kuntilanak, setelah 12 tahun yang lalu. Kendati memiliki judul yang sama, namun ...

Popular Review

Followers

 
Copyright © 2016 Riza Pahlevi