Home » , , » Review Film Chrisye (2017) : Nafas Hidup Chrisye Dibalik Panggung

Review Film Chrisye (2017) : Nafas Hidup Chrisye Dibalik Panggung


     Chrisye, seorang penyanyi pria yang menjadi legend di dunia musik, telah meninggalkan kita semua pada tahun 2007. Walaupun begitu, karya-karyanya masih kerap kita dengar menghiasi radio maupun televisi. Kini, 10 tahun pasca meninggal, dibuatlah film biopiknya. Film ini menggambarkan sosok Chrisye dari mata istrinya. Lalu apakah film ini akan menjadi legend seperti sang tokoh?


     |POSTER & TRAILER| Cukup klasik posternya. Chrisye sebagai sang legend di dunia musik, ditampilkan super besar dengan set selayaknya penyanyi di konser tunggal dengan spot light menyinarinya. Menunjukkan bahwa Chrisye adalah seorang musisi papan atas. Dengan tone warna ungu dan emas, membuat kesan eksklusif lebih terasa. Untuk melengkapinya, ada 2 tokoh, yang memerankan sebagai istrinya Chrisye, Yanti, dan juga Taufik Ismail di poster bagian bawah.


     Hal yang menarik dari trailer Chrisye adalah ketika lagu-lagunya Chrisye diputar dan juga gambar-gambar kuno, seperti potret Bundaran HI, menjadi sebuah isyarat akan banyak hal-hal 'kuno' lain yang bisa penonton jumpai. Karena memang setting waktu cerita ada disekitaran tahun 1980.


     |CERITA| Film mulai bercerita dari Chrisye remaja yang sedang memperjuangkan karier bermusiknya dengan band Gipsy. Pertentangan dari orang tuanya sendiri, menjadi konflik pembuka tatkala Gipsy mendapat tawaran manggung di Amerika. Hingga suatu ketika Chrisye mencoba menyanyikan lagu Lilin-Lilin yang ternyata sukses, dan begitu seterusnya. Tak melulu soal karyanya saja, film ini juga mengungkapkan sosok Chrisye sebagai seorang lelaki yang jatuh cinta, hingga sebagai seorang kepala rumah tangga. Kisahnya di rangkum dengan alur yang lurus-lurus saja. Tak ada gejolak emosional yang terasa kuat, kecuali karena lagu Chrisye yang membawa aura yang besar ke penonton.


     |VISUAL| Secara keseluruhan film ini bisa di bilang tanggung secara visual. Baik teknis maupun tata artistiknya. Untuk pengambilan gambar tak ada yang spesial. Penggunaan visual effect juga masih terasa 'animasinya' kurang natural. Terasa pengambilan gambarnya untuk mengakali budget yang minim pastinya. Seperti orang-orang yang di copy-paste, digandakan, belum terlihat nyata, dan ini cukup mengganggu. Set lokasi khususnya di tahun 80annya masih kurang detail. Masih bisa dieksplore lagi sebenarnya.


     |AUDIO| Sisi audio juga tak ada yang terlalu spesial. Bahkan untuk musiknya, cenderung kurang pas. Sepanjang film, musik yang diputar selain lagu Chrisye, cukup beragam sekali, seperti tak ada benang merah antara musik satu, dengan musik lainnya. Apalagi ini merupakan film biopik musisi. Musik di film Chrisye, 'kurang Chrisye'.


     |ACTING| Vino G. Bastian memang terlihat bekerja keras untuk menjadi mirip dengan Chrisye. Bahkan ada satu moment, saat dia pakai kemeja hitam dan kaca mata bulat, dia mirip banget sama Chrisye secara fisik. Walaupun memang, ini bukanlah penampilan terbaiknya. Velove juga begitu. Ini bukan penampilan  terbaiknya, namun dia telah berperan secara baik.


     |KESIMPULAN| Film Chrisye cukup untuk memberitahukan sosok Chrisye, dibalik yang biasa kita tonton di layar kaca. Bahwa ternyata dibalik kesuksesan Chrisye, banyak perjuangan yang dia hadapi. Walaupun memang, untuk filmnya sendiri secara teknis dan penggarapan masih bisa ditingkatkan lagi. Film ini akan terasa lebih dekat lagi, apabila penonton memang tau sosok dan kenal dengan lagu-lagunya Chrisye. #BanggaFilmIndonesia

0 komentar:

Post a Comment

Newest Review

Review Film Kenapa Harus Bule? (2018) : Kisah Unik Berakhir FTV

     Kenapa Harus Bule? Memiliki premis yang unik. Seorang perempuan yang ingin mencari jodoh bule, karena dia merasa akan lebih 'dih...

Popular Review

Followers

 
Copyright © 2016 Riza Pahlevi