Home » , , » Review Film Ayat-Ayat Cinta 2 (2017) : Cinta hingga Lebam Membiru

Review Film Ayat-Ayat Cinta 2 (2017) : Cinta hingga Lebam Membiru


     Hampir 10 tahun berlalu, the greatest love story Fahri dan Aisha kembali berlanjut. Bayang-bayang nama besar Ayat-Ayat Cinta, menjadi sebuah beban berat yang harus dipikul. Habiburrahman El Shirazy pun ‘kepayahan’ mengerjakan novel tertebal yang pernah ia tulis ini. Ayat-Ayat Cinta bukan hanya ‘film biasa’, namun juga memberikan pengaruh yang luar biasa terhadap perfilman di Indonesia. Penonton sebanyak 3,6 juta, menjadi saksi bahwa bioskop yang masih terbatas saat itu tak selalu menjadi tolak ukur jumlah penonton. Lalu apakah di era kekinian sekarang, Ayat-Ayat Cinta 2 dapat menembus peradaban dan ‘menyatu’ dengan penonton seperti kakaknya?



     |POSTER & TRAILER| Dominasi warna monochrome. Fahri ditemani 4 wanita, Sabina, Keira, Hulya dan Brenda, menghiasi poster dengan tulisan Ayat-Ayat Cinta 2 berwarna merah. Jenis poster yang sudah tak asing, coba kita kilas balik pada film Surga yang Tak Dirindukan 2. Begitupun dengan Bayi Ajaib yang baru saja release official posternya, menjadi signature tersendiri untuk film garapan MD Pictures.


     Ayat-Ayat Cinta memang punya kharisma yang besar. Untuk itu, trailer Ayat-Ayat Cinta 2 juga harus dihadirkan dengan powerfull, agar tak kalah dari kakaknya. Hasilnya? Megah. Itulah kesan yang didapat saat menonton trailer AAC2. Susunan dialog, gambar, musik, semuanya diramu secara baik. Hal ini juga sudah diterapkan MD Pictures pada film-film garapan mereka sebelumnya, seperti SYTD2 dan Rudy Habibie.


     |CERITA| Secara singkat Ayat-Ayat Cinta 2 terbagi ada dua bagian, 3/4 durasi pertama dan 1/4 durasi akhir. Pada bagian pertama, berkisah tentang Fahri dan hubungan dengan tetangganya. Tipe cerita seperti ini pernah kita jumpai dalam film Bulan Terbelah di Langit Amerika. Sosok Fahri yang sempurna pada AAC, kembali di munculkan namun dalam versi yang jauh lebih sempurna. Bahkan bisa dibilang kurang manusiawi, sangat berbeda dengan AAC. Masih ingat betul, betapa marah dan kecewanya Fahri saat dipenjara di AAC, menunjukan bahwa dia juga masih manusia biasa yang bisa 'kurang'. Sedangkan di AAC2, tokoh Fahri menjadi sangat sempurna, keterlaluan sempurna bahkan. Terkadang Fahri seperti Mas Pras juga.


     Sedangkan di bagian akhir, dimana cerita berlanjut tentang Fahri dan Aisha. Semoga review ini gak akan spoiler. Tapi yang jelas, di bagian ini AAC2 baru menunjukkan 'taringnya'. Emosi yang sebelumnya datar dan kalem, tiba-tiba di naik turunkan bagai roller coaster. Cerita yang begitu out of the box bisa dibilang, apalagi alasan atau motif dibalik semua kejadian itu. Namun perlu diakui, bahwa ada suatu kesalahan fatal pada AAC2 yang merusak segalanya. Kenapa bukan Rianti Cartwright?


     |VISUAL| Gambar cantik mampu dihadirkan oleh Guntur Soeharjanto beserta DOP dan timnya dengan porsi yang pas dan ditampilkan secara megah. Semua itu juga diperkuat tata artistik, make up dan wardrobe yang cakep. Walaupun sekali lagi, bagi yang udah nonton Rudy Habibie dan SYTD2 maupun film MD lain, pasti tidak asing dengan beberapa set lokasi yang ada. Namun itu tak jadi masalah yang berarti sebenarnya. 


     |AUDIO| Soundtrack dan musik ilustrasi, dua hal yang menonjol pada AAC2. Gubahannya asyik banget, membangun emosional yang tepat untuk penontonnya. Diluar untuk urusan dialog dan foley juga tak kalah empuk didengar. 


     |ACTING| AAC2 memang diisi dengan jajaran aktor yang hebat. Fedi Nuril, Chelsea Islan. Tatjana Shapira, Pandji Pragiwaksono, dan banyak aktor/aktris lain yang tampil memukau. Namun sekali lagi selalu bertanya, kenapa bukan Rianti?


     |KESIMPULAN| Ayat-Ayat Cinta 2 memang bukan seperti film baru, karena beberapa unsur didalamnya, seperti gabungan-gabungan dari film lain. Karya cerita Habiburrahman ini juga terasa didalamnya ada rasa Asma Nadia dan Hanum Rangga. Namun, ada suatu hal yang sangat mengejutkan didalam Ayat-Ayat Cinta 2, yang membuat film ini menjadi sangat spesial. Motivasi cerita yang sangat menakjubkan. Namun sekali lagi, kenapa bukan Rianti? #BanggaFilmIndonesia

10 komentar:

  1. Cuma dapet score 3 mas?
    Berarti ga lebih baik dari AAC pertama ya?

    Btw, kenapa selalu bilang: Kenapa bukan Rianty?
    Apakah akting pengganti Rianty kurang bagus atau gimana?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Score 3 untuk teknis dan garapan film yang cantik, plus di 1/4 cerita bagian akhir.

      Pengganti Rianti gak jelek, tapi Aisha udah identik dengan Rianti, ketika diganti, feelnya hilang. Mungkin jika Rianti tetap jadi Aisha, film ini akan punya emosional yang lebih.

      Delete
    2. Iya sih
      Film AAC udah terlanjur lekat dengan Rianty

      Baru nonton lagi AAC 1
      Memang wajar kalau ini jadi salah satu film terbaik dan terfavorit pada masa nya

      Delete
  2. setujuuu .. kenapa bukan Rianti ? šŸ˜šŸ˜

    ReplyDelete
    Replies
    1. Rianti sibuk suting surat cinta untuk starla

      Delete
  3. Rianti udh murtad wkwkšŸ˜‚šŸ˜‚

    ReplyDelete
  4. Mungkin karena rianti murtad ya, takut menimbulkan kontrversi masyarakat. Kan org indo kalo udh bawa2 agama serem responnya ekwkw

    ReplyDelete
  5. Jauh dibawah ekspektasi sy...nilai2 islam g terlalu menonjol seperti AAC1, justru mengesankan otang berjenggot arogan dan sumbu pendek..sangat menyakitkan dimana ini film bernuansa islam..

    Tokoh hulya kenapa g berhijab..dan ceritanya kenapa harus dejavu dengan AAC1..padahal bisa lebih hidup ketika keyra masuk islam dan dinikahi..baru ada tambahan cerita lain..

    ReplyDelete
  6. Nilai toleransi yg diangkat yg kebablasan..

    Sekaan sangat menderita orang yg kena bom di london..padahal bom di Palestina lebih2 dr itu..tp g ada penggambaran penderitaan terutama untuk masa depan anak2..g apel to apel, membandingkan bom london dengan Palestina..yg mana Palestina jelas2 dijajah

    ReplyDelete

Newest Review

Review Film Si Doel The Movie (2018) : Kesederhanaan & Kematangan Bercerita

     Jika kamu sudah nonton TV dari tahun 1994, pasti tahu dengan sinetron Si Doel Anak Sekolahan, karena memang pada tahun segitu pertam...

Popular Review

Archive

Followers

 
Copyright © 2016 Riza Pahlevi