Home » , , » Review Film Posesif (2017) : Romance Rasa Menegangkan

Review Film Posesif (2017) : Romance Rasa Menegangkan


     Film dengan tema cinta anak SMA, selalu menarik untuk ditonton. Sebut saja film Ada Apa dengan Cinta, Eiffel I'm in Love, Ada Cinta di SMA, hingga Dear Nathan. Tak jarang film-film dengan tema ini, meledak sampai karakter di setiap film ini melegenda, sebut saja Cinta dan Rangga dari Ada Apa dengan Cinta. Walaupun banyak juga film dengan tema serupa malah flop, alias tidak laku di pasaran. Kali ini, Palaris Films bersama Sutradara Edwin dan penulis skenario Gina S. Noer, mempersatukan Yudhis dan Lala pada Film Posesif. Apakah Posesif akan menjadi karya yang menarik, ataukah hanya akan menjadi film yang sekilas berlalu saja?


     |POSTER & TRAILER| Walaupun film romance itu identik dengan warna pink dan biru, namun Posesif memberikan sentuhan yang berbeda untuk posternya. Masih dengan baju seragam SMA yang dikenakan Yudhis dan Lala, mereka duduk bersantai dan terlihat sisi romantisnya. Ditambah kedua tali sepatu mereka yang terlali, menjadi gimmick yang seru. Apalagi di didalam film, juga terdapat gimmick ini. Jadi bukan hanya sekedar 'gimmick', tapi memang masih ada benang merahnya dengan film.


     Posesif pintar memilih adegan dan dialog untuk dimasukkan ke dalam trailer. Penonton akan diberikan gambaran terhadap film Posesif, namun berbeda dari filmnya. Loh gimana tuh? Maksudnya adalah, penonton penasaran buat nonton, karena trailernya menarik. Namun, di filmnya, penonton akan semakin dimanjakan dengan cerita yang akan beda dari yang mereka rasakan di  trailer. Jadi gak perlu takut akan kena spoiler kalau nonton trailernya.


     |CERITA| Posesif. Judul film yang konsisten. Kenapa? Gak enak untuk dituliskan di review sebanarnya. Karena posesif lebih enak untuk dirasakan. Itulah dahsyatnya efek yang diberikan film Posesif terhadap penontonnya. Alur cerita yang dituliskan dengan manis, dialog yang dalam dan cerita yang seru! Silakan mentonton Posesif, dan rasakan sendiri apa itu "Posesif".


     |VISUAL| Posesif tak menggunakan ratio Anamorphic (1:2.35) namun menggunakan 16:9 seperti yang digunakan Ada Apa dengan Cinta 2. Namun sedari awal Posesif memulai menampakkan gambarnya, tak pelak penonton akan langsung jatuh cinta dengan cinematographynya. Visual yang indah ini juga didukung oleh gambar yang sangat jernih dan color grading yang sangat nyaman dipandang. Penataan artistik dekorasi hingga tata make up dan wardrobe juga pas. Gak berlebihan maupun terlalu kosong. What a nice visual!


     |AUDIO| Tak hanya visual yang cantik, namun sisi audio pun digarap dengan sangat baik. Semuanya terasa real dan natural. Sepanjang film tak terdengar ada audio yang jumping atau yang mengganggu pendengaran. Balancing audionya juga enak. Belum lagi musik ilustrasinya juga benar-benar membuat 'ruh' di film ini bisa sampai ke penonton dengan sangat baik.


     |ACTING| Adipati Dolken dan Putri Marino adalah ruh utama dari Posesif. Chemistry diantara mereka berdua, mempu mengantarkan Posesif menjadi film yang berkarakter. Tak hanya sekedar mengikuti alur cerita, namun penonton juga diajak untuk mendalami kisah Yudhis dan Lala lebih dalam lagi, melalui peran yang apik dari Adipati dan Putri. Selain itu, Yayu Unru, Cut Mini, Gritte Agatha dan Chicco Kurniawan juga menjadi pemeran pendukung yang berjalan efektif. Keren!


     |KESIMPULAN| Tak salah jika Festival Film Indonesia menempatkan 10 Nominasinya untuk film Posesif. Tak hanya sekedar menikmati jalan ceritanya, Posesif menawarkan pengalaman yang jauh lebih besar dari pada itu. Menonton Posesif, membuat kita semakin berpikir, sebenarnya apa itu Posesif? #BanggaFilmIndonesia

0 komentar:

Post a Comment

Newest Review

Review Film Hujan Bulan Juni (2017) : Film dalam Balutan Puisi

     Hujan Bulan Juni, awalnya adalah novel karya Sapardi Djoko Darmono yang telah terbit sejak tahun 1994. Di tahun 2017 ini, Hestu Sa...

Popular Review

Followers

 
Copyright © 2016 Riza Pahlevi