Home » , , » Review Film Nyai Ahmad Dahlan (2017) : Momentum Belajar Sejarah

Review Film Nyai Ahmad Dahlan (2017) : Momentum Belajar Sejarah


     Diangkatnya tokoh Muhammadiyah, Muhammad Darwis atau biasa dikenal dengan Kyai Haji Ahmad Dahlan ke dalam sebuah film yang berjudul Sang Pencerah. Turut memotivasi Aisyiyah untuk membuat film dari tokoh pendirinya, yaitu Siti Walidah atau biasa dikenal Nyai Ahmad Dahlan. Sang Pencerah rilis tepat di momen 1 abad berdirinya Muhammadiyah di tahun 2010. Begitupula dengan Nyai Ahmad Dahlan yang tayang bertepatan dengan moment 1 abad berdirinya Aisyiyah. Sang Pencerah kala itu berhasil sukses merebut hati penonton atas arahan dari Sutradara Hanung Bramantyo, lalu apakah Nyai Ahmad Dahlan akan bernasib sama atau akan lebih baik?


     |POSTER| Nyai Ahmad Dahlan menceritakan kehidupan seorang Nyai Ahmad Dahlan dari lahir pada tahun 1872 hingga wafat pada tahun 1946. Tentunya latar waktu pada film sekitaran tahun tersebut. Nuansa lawas dihadirkan pada posternya yang bersalutrasi rendah, dengan dominan warna putih tulang dan kecokelatan. Jenis font yang digunakan, cukup unik dan berciri khas. Bisa dibilang poster ini standar. Bahkan gaya yang digunakan, seperti menempel tokoh utama secara besar, dengan segala unsur yang disusun seperti itu, membuat poster ini ‘ketinggalan jaman’.


     Trailer Nyai Ahmad Dahlan tak terlalu menarik. Tak ada pengenalan yang kuat, pengantaran masalah, dan konfliknya pun tak jelas apa. Soundtrack yang di munculkan juga, tak begitu enak didengar. Namun sosok Nyai Ahmad Dahlan lah, nilai kuat dari film ini.


     |CERITA| Menonton Nyai Ahmad Dahlan, cukup melelahkan. Bisa dikatakan ini adalah film biografi yang ‘konvensional’. Cerita berlalu dengan ‘polosnya’. Mulai dari kecil, hingga dewasa dilewati dengan biasa. Menontonnya seperti membaca cerita sejarah tentang kehidupan Nyai Ahmad Dahlan. Tak ada sentuhan yang berbeda. Tak ada treatment khusus. Bahkan film ini cukup kehilangan arah. Banyak ‘campur tangan’ Kyai Haji Ahmad Dahlan di film ini, padahal ini film milik Nyai Ahmad Dahlan. Masih banyak PR dalam penggarapan cerita, alur, plot, dan segala unsur cerita di film ini masih sangat lemah. Satu-satunya yang masih bisa dinikmati adalah pembelajaran sejarah yang di ilustrasikan menjadi sebuah film.


     |VISUAL| Cerita masih berantakan, begitupun kamera. Angle pengambilan gambarnya sangat biasa, bahkan sampai cukup mengganggu. Ada juga gambar yang tak nyaman untuk dilihat, dan tak terlihat motivasi yang begitu berarti dalam pengambilan gambarnya. Bisa dibilang, kualitas visual, apa adanya. Untuk wardrobe dan artistik, sangat lemah. Gak perlu dijabarin, sudah terlihat. Film tahun 1900an yang terlalu modern.


     |AUDIO| Sisi audio pun juga tak ada yang spesial. Suara yang muncul, cukup untuk memutarkan roda film yang terus berjalan dari durasi awal hingga selesai credit title, tanpa meninggalkan kesan mendengarkan sebuah karya audio yang menawan.


     |ACTING| Tika Bravani seperti kehilangan arah dalam membawakan karakter Nyai Ahmad Dahlan. Berawal dari naskah yang belum kuat juga, Tika seperti tak tau harus menjadi Nyai yang seperti apa. Dia masih terlihat meraba-raba karakter yang ia mainkan. Yang lain pun kasusnya sama, belum terlihat karakter masing-masing tokohnya.



     |KESIMPULAN| Film Nyai Ahmad Dahlan hadir sebagai media belajar sejarah yang ‘konvensional’. Bosan dan lelah, adalah ekspresi yang wajar ketika menontonnya. Tapi diluar itu semua, dari film ini kita bisa semakin mengenal Nyai Ahmad Dahlan, sebagai salah satu pahlawan perempuan yang dimiliki oleh Indonesia. #BanggaFilmIndonesia

0 komentar:

Post a Comment

Newest Review

Review Film Ayat-Ayat Cinta 2 (2017) : Cinta hingga Lebam Membiru

     Hampir 10 tahun berlalu, the greatest love story Fahri dan Aisha kembali berlanjut. Bayang-bayang nama besar Ayat-Ayat Cinta, menj...

Popular Review

Followers

 
Copyright © 2016 Riza Pahlevi