Home » , , » Review Film My Generation (2017) : Kisah Jaman Now yang Bikin Introspeksi

Review Film My Generation (2017) : Kisah Jaman Now yang Bikin Introspeksi


     Seorang sutradara perempuan yang satu ini, kembali menelurkan sebuah karya. Upi Avianto, yang lebih dikenal dengan panggilan Upi. Setelah tahun 2016 lalu sukses besar meraih lebih dari 3 juta penonton lewat film My Stupid Boss yang merupakan adaptasi dari novel laris, kali ini Upi mengerjakan film atas original screenplay yang ditulisnya sendiri, yang ia beri judul My Generation. Berkisah tentang kisah 4 remaja milenial dengan segala realitas kehidupan dan konflik kekinian yang mereka hadapi. Apakah My Generation bisa menjadi film penanda jaman yang penting, atau hanya sekedar hiburan belaka?


     |POSTER & TRAILER| Kesan pertama yang timbul dari poster adalah My Generation itu bercerita tentang remaja yang nakal. Apa itu benar? Ya itu memang kesan orang awam yang melihatnya dari satu sisi. Kalau dilihat dari eksresi ke empat tokoh yang dibilang ‘nakal’ itu, bahagia lepas. Nah mungkin kurang lebih seperti inilah My Generation. Apa yang dilihat orang awam kebanyakan, belum tentu sesuai dengan pikiran mereka. Poster colorfull dengan kecenderungan berwarna pink yang biasanya identik dengan lucu, imut dan kalem, tapi warna pink di poster ini, terlihat lebih garang. Dengan poster yang tak begitu ‘mulus’, ada seperti tekstur robekan-robekan dan lipatan kertas, dan juga penggunaan font  yang sering digunakan pada aliran music metal, membuat warna pink disini menjadi punya definisi yang baru.


     Kesan awal poster, kisah tentang anak ‘nakal’ juga di munculkan di trailer. Namun tak cuma sekedar itu aja, tapi konflik setiap tokoh dan interaksi antar orang tuanya, juga ditampilkan di trailer. Cuplikan singkat yang cukup untuk membuat penonton berpikir, sebenarnya apa yang terjadi dengan keempat tokoh itu? Rasa penasaran muncul, inilah hal penting yang seharusnya dibawakan sebuah trailer.


     |CERITA| Cerita tentang 4 orang sahabat, Zeke, Konji, Suki dan Orly yang gagal pergi liburan gara-gara video kritik mereka ke sekolah dan orang tua menjadi viral. Tapi mereka malah mengalami banyak kejadian yang beragam, yang membuat mereka menjadi orang yang berbeda. My Generation bercerita dengan sangat ngalir. Plotnya gak lurus-lurus aja, numpuk-numpuk ceritanya, jadi membuat tempo berceritanya cepat, sehingga penonton juga tak kehilangan fokus karena mengantuk atau yang lain. Sedari awal penonton sudah disuguhi dengan konflik yang sangat menarik, dimulai dari situlah My Generation mengenalkan masing-masing tokohnya. Cerita berjalan dengan apa adanya, sembari konflik muncul mewarnai sepanjang film. Baik konflik pribadi tokoh, dengan keluarganya, ataupun dengan sahabatnya sendiri-sendiri. Upi berhasil membuat tokoh yang karakternya sangat kuat. Sampai penonton sangat mudah bersimpati dengan setiap tokoh.


     Sangat menarik untuk membahas My Generation. Film yang tak hanya menghibur, namun juga menampilkan realitas yang saat ini ada, dan segala teori dengan milenial, generasi kids jaman now, dan segala urusan itu, di putar balikkan dengan fakta-fakta yang ada. Bagi remaja maupun orang tua, film ini menjadi penting untuk menjadi bahan introspeksi diri, bahkan sampai keluar dari pintu bioskop, penonton bisa bebas untuk sedikit merenung dengan kondisi saat ini.


     |VISUAL| Colorfull! Visualnya cantik banget. Mulai artistiknya yang bener-bener berwarna dari segala sudut dan segala tempat, kamar, yang di mobil, dan ah dimanapun asyik banget. Begitupun dengan Make Up dan Wardrobenya yang asyik banget. Lanjut ke teknis, gambar yang diberikan Upi juga dinamis, ada efek-efek zoom cepat di setiap habis cutting, gaya yang dilakukannya disepanjang film ini asyik. Jadi tempo cerita yang cepat, juga diimbangi dengan cuttingan yang pas. Untuk pengambilan angelnya juga asyik, gak berlebihan, maupun sebaliknya, semuanya tepat pada porsinya.


     |AUDIO| Hal pertama yang khas dari film ini adalah musiknya, gaya-gaya anak sketchboard, dengan genre itu yang bisa dibilang bukan genre yang ‘awam’ seperti pop, tentunya film ini ingin memberikan dulu presepsi awal cerita anak ‘nakal’, tapi jangan berhenti disitu! Setelah nonton filmnya, baru silakan berpendapat, karena ceritanya gak cuma sekedar tentang ‘anak nakal’. Kembali lagi ke audio, it’s all good, semuanya digarap secara rapih. Dialog, foley dengan penataan suaranya cakep.


     |ACTING| Bagian ini menarik untuk dibahas juga, mengingat Alexnora Kosasie, Arya Vasco, Bryan Langelo dan Luthesa, yang merupakan 4 tokoh utama, adalah actor pendatang baru. Mungkin diawal penonton masih ‘meraba’ untuk mengenali wajah mereka. Namun hal tersebut tak akan berlangsung lama, karena mereka berakting dengan sangat baik! Mereka berempat sukses untuk memberikan ruh atas setiap tokoh yang mereka perankan. Walaupun terkadang ada bagian yang sedikit miss, namun itu tak menjadi hal yang berarti. Untuk aktor lainnya, juga mampu membawa arus cerita berjalan dengan baik, tak ada sesuatu yang jelek yang terlihat menganggu.



     |KESIMPULAN| My Generation adalah film yang penting. Bisa juga dibilang sebagai film penanda jaman. Tak hanya sekedar menampilkan generasi kids jaman now yang tak berfaedah, namun My Generation menampilkan konflik yang dalam dan kompleks. Semua konsep ini, juga di dukung dengan penggarapan dan teknis yang cantik. #BanggaFilmIndonesia

0 komentar:

Post a Comment

Newest Review

Review Film Si Doel The Movie (2018) : Kesederhanaan & Kematangan Bercerita

     Jika kamu sudah nonton TV dari tahun 1994, pasti tahu dengan sinetron Si Doel Anak Sekolahan, karena memang pada tahun segitu pertam...

Popular Review

Followers

 
Copyright © 2016 Riza Pahlevi