Home » , , » Review Film Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak (2017) : Tawa Kelam dalam Kesunyian

Review Film Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak (2017) : Tawa Kelam dalam Kesunyian


     Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak sudah ramai diperbincangkan, bahkan jauh sebelum dia memiliki tanggal tayang. Marlina memang baru diputar di bioskop secara nasional di bulan November 2017 ini, namun Marlina sebelumnya sudah berkelana di berbagai festival film internasional. Prestasi inilah menjadi poin positif yang menjadi bahan perbincangan. Lalu setelah Marlina memuaskan penonton internasional, apakah Marlina juga mampu menaklukan penonton lokal?


     |POSTER & TRAILER| Sesuai dengan judulnya, Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak, sekitar 80% space poster digunakan untuk wajah Marlina. Tak ada effect ‘beauty’, namun dengan wajah Marlina yang terlihat ‘lusuh’, justru membuat poster ini menjadi berbeda dengan poster film kebanyakan. Tentunya karena tampilan Marlina yang seperti ini, ada kaitannya dengan tokoh Marlina di film. Untuk font judul Marlina sendiri, asik banget bentuknya, berkarakter.


     Menakjubkan, dari trailer kita sudah disuguhkan dengan panorama yang indah, tapi bukan untuk kisah yang romantis, namun sebaliknya. Suram, kelam, keji, gelap, ah, trailer Marlina membius penonton untuk segera beranjak ke bioskop dan melihat kenyataan yang terjadi pada Marlina sebenarnya.


     |CERITA| Review ini berusaha untuk gak spoiler. Karena cerita model Marlina ini memang lebih asik untuk dinikmati secara langsung. Dari setiap gambar, gesture, property, hingga dialognya. Penggunaan slow-paced pada Marlina, tak membuat Marlina menjadi film yang sangat lambat dan membosankan. Waktu 95 menit berlalu biasa saja, tak menjadi cepat, atau menjadi terlalu lama. Untuk tingkat pemahaman penonton, juga bisa dibilang tak terlalu rumit. Marlina membuat penontonnya mudah paham dengan cerita yang berjalan, dengan setidaknya tidak melewatkan setiap dialog dan situasi yang terjadi. Namun jika diperhatikan lebih detail lagi, penonton akan bisa menemukan pemaknaan yang lebih dalam. Nah disini setiap penonton bisa punya experience masing-masing dalam menonton Marlina.


     Tak melulu soal kengerian, Marlina juga menghadirkan beberapa tokoh yang mampu memancing tawa ditengah situasi yang begitu kelam, salah satunya adalah Novi. Sosok ibu hamil yang banyak bicara tentang kehamilan dan problematika yang dialaminya. Ini Indonesia banget. Ketika ada dua atau lebih perempuan berkumpul, maka munculah cerita-cerita rumah tangga. Simpel, sederhana, namun mampu membuat penonton rileks sejenak dari kisah pembunuhan Marlina, walaupun tak bisa lepas dari nuansa kelam yang dibawa Marlina sepanjang film.


     |VISUAL| Banyak menggunakan type full shot, long shot, bahkan extreme long shot, tak membuat gambar Marlina berdiam disitu saja. Dengan pandangan yang luas, penonton bisa mengulik kejadian yang terjadi di sekelilingnya tanpa dibatasi oleh frame. Hal ini juga didukung dengan panorama Sumba yang begitu luas dan cantik. Pencahayaan disinipun juga terlihat alami, natural, semuanya pas dan enak untuk dinikmati.


     |AUDIO| Detail di film Marlina, tak sebatas di bentangan visual saja. Sisi audio yang detail, natural, dan balancing yang enak, bikin semuanya menjadi perpaduan yang syahdu sekaligus mencekam. Ini juga berkat musik ilustrasi dalam Marlina yang simpel, walaupun berulang, namun malah menjadi ikonik tersendiri. Oh ya, tapi untuk foley, ada sedikit yang bisa ditambahkan sepertinya, untuk menjadi lebih detail seperti saat si perampok mau pergi naik motor, suara sebelum akhirnya motor menyala, tak terdengar, atau mungkin ada tapi terlalu kecil, entahlah. Tak terlalu mengganggu, namun jika dikerjakan, akan lebih sempurna lagi.


     |ACTING| Marsha Timohty juara banget disini. Bahkan sepanjang film, penonton sudah tak mengenal lagi Marsha, tapi Marlina. Kehadiran Dea Panendra juga ajib, penonton benar-benar bisa menyatu dengan tokohnya yang sedang hamil disitu. Tokohnya yang sebenarnya pendukung, namun bisa juga mendapatkan simpati dari penonton yang sedang fokus dengan Marlina. Egi Fedlypun juga bisa ‘sekelam’ itu, sepertinya ini memang spesialis dia, hehe. Yoga pratama juga bermain keren disini, tokohnya yang awalnya tak terlalu dipandang, bisa menjadi-jadi semakin kebelakang.


     |KESIMPULAN| Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak ini adalah film yang sangat menarik. Tidak hanya menjadi tontonan semata, namun menguliknya lebih jauh dengan diskusi, akan menjadi menarik. Banyak hal di Marlina yang bisa di diskusikan. Pastinya sebelum berdiskusi, tonton dulu filmnya, hehe. #BanggaFilmIndonesia

0 komentar:

Post a Comment

Newest Review

Review Film Ayat-Ayat Cinta 2 (2017) : Cinta hingga Lebam Membiru

     Hampir 10 tahun berlalu, the greatest love story Fahri dan Aisha kembali berlanjut. Bayang-bayang nama besar Ayat-Ayat Cinta, menj...

Popular Review

Followers

 
Copyright © 2016 Riza Pahlevi