Home » , , » Review Film Ruqyah The Exorcism (2017) : Religi yang Tak Religius

Review Film Ruqyah The Exorcism (2017) : Religi yang Tak Religius


     Setahun yang lalu, MD Pictures membawa Film Munafik, horor asal Malaysia untuk ditayangkan di Indonesia. Sekarang, Pichouse Films Production yang berada dibawah naungan MD Pictures, merelease Film Ruqyah The Exorcism. Sekilas dengan melihat trailer, ada kemiripan dengan Munafik. Tapi bukan berarti ini film jiplakan. Karena dari cerita sendiri, sudah berbeda. Lalu apakah Ruqyah The Exorcism ini mampu disandingkan dengan Munafik?


     |POSTER & TRAILER| Sebagai sebuah poster film horor, Ruqyah mampu menampilkan 'kegelapan' yang justru membuat penonton penasaran. Sesuai dengan judulnya, objek utama yang ditampilkan adalah seorang yang sedang kerasukan, bahkan di visualkan orang tersebut bisa sampai kayang seperti itu. Ini menimbulkan tanya kepada penonton, apa yang terjadi dengan tokoh tersebut, hingga bisa jadi seperti itu. Strategi yang baik untuk menarik calon penonton ke bioskop.


     Sekali lagi Pichouse Films dan MD Pictures berhasil meracik trailer yang apik untuk Ruqyah. Susunan gambarnya, menggiring rasa penasaran penonton semakin besar. Gelaran audio visual arahan Sutradara Jose Poernomo, menambah tingkat kemegahan trailer Ruqyah.


     |CERITA| Bercerita tentang seorang artis yang merasakan hal-hal ganjil dihidupnya semenjak dia ingin kembali 'ke jalur normal', dan secara tidak sengaja bertemu dengan seorang wartawan yang nantinya akan membantu langkahnya untuk kembali 'ke jalur normal'. Premis yang cukup menarik sebenarnya, namun eksekusinya? Ruqyah seperti film pendek yang di panjang-panjangkan. Bingung arah alur ceritanya mau seperti apa. Akibatnya banyak plot hole. Motivasi dalam setiap roda cerita berputar, tak ubahnya hanya untuk treatment 'menakut-nakuti' penonton.


     |VISUAL| Untuk urusan pengambilan gambar, arahan DOP Jose Poernomo sangat terasa. Kamera yang begitu dinamis, pergerakan yang 'anti mainstream' dan bisa dibilang menabrak pakem-pakem imaginer, namun sangat nyaman dan enak untuk dinikmati. Treatment visual seperti inilah yang membuat setiap karya Jose Poernomo menjadi megah, termasuk Ruqyah. Sedari shot pertama menggunakan drone saja, sudah sangat terasa megah.

   
     |AUDIO| Beda lagi dengan audio. Tak terdengar spesial sebenarnya untuk penataan audio di Ruqyah. Bahkan untuk musik ilustrasinya, terdengar 'terlalu berisik'. Ada part-part yang sebenarnya tak perlu dijejali musik yang 'rame', dan ada part yang asyik dinikmati dengan athmosphere saja cukup. Yaa mungkin ini selera? Tapi secara keseluruhan, audio Ruqyah bisa dinikmati kok.


     |ACTING| Evan Sanders yang sudah lama wajahnya tak muncul di layar lebar, kembali menampilkan aktingnya yang cemerlang di Ruqyah. Walaupun sebenarnya, tokoh yang dibawakannya memang kurang kuat, sehingga akhirnya Evan terkesan kurang maksimal. Celline Evangelista yang biasa tampil di layar kaca, juga menunjukkan aktingnya yang tak buruk. Apalagi saat-saat dia kesurupan, Celline tampil maksimal disitu. Salut.


     |KESIMPULAN| Ruqyah memang bukan jiplakan dari Munafik. Namun Ruqyah memang masih jauh dibawah Munafik. Ruqyah masih terasa religi hanya menjadi topeng saja. Sisi keagamaan yang ada di Ruqyah, hanya sebatas tempelan saja. Sebagai film dengan judul yang terasa religi, seharusnya Ruqyah bisa jauh lebih baik dibandingkan ini. #BanggaFilmIndonesia


0 komentar:

Post a Comment

Newest Review

Review Film Hujan Bulan Juni (2017) : Film dalam Balutan Puisi

     Hujan Bulan Juni, awalnya adalah novel karya Sapardi Djoko Darmono yang telah terbit sejak tahun 1994. Di tahun 2017 ini, Hestu Sa...

Popular Review

Followers

 
Copyright © 2016 Riza Pahlevi