Home » , , » Review Film Ziarah (2017) : Belajar Berdamai dengan Masa Lalu

Review Film Ziarah (2017) : Belajar Berdamai dengan Masa Lalu


     Ziarah. Sebuah karya film yang disutradarai dan ditulis skenarionya oleh B. W. Purba Negara. Mungkin bagi orang awam, nama B. W. Purba Negara masih asing dalam dunia perfilman bioskop mainstream. Namun sebenarnya, B. W. Purba Negara selama ini sudah menciptakan banyak karya film yang telah membahana di berbagai festival, baik nasional maupun internasional. Begitupun Ziara, sebuah feature film panjang milik B. W. Purba Negara ini sudah mampu menaklukan banyak festival sebelum akhirnya resmi di release di bioskop secara nasional. Lalu apakah film ini juga bisa mendapatkan apresiasi dari penonton awam?


     |POSTER & TRAILER| Jika pada poster versi terdahulunya yang digunakan untuk festival menggunakan dominasi warna hitam putih dengan menggunakan sketch, untuk poster versi bioskop menggunakan potret Mbah Ponco Sutiyem sedang membawa sapu lidi dan duduk di pinggir makam. Latarnya perbukitan hijau dan langit biru cerah. Membawa suatu pertanyaan bagi penonton, sebenarnya apa yang terjadi dan apa yang diraskan oleh simbah 95 tahun ini.


     Cuplikan gambar dan pilihan dialog Ziarah yang dirangkai menjadi trailer, cukup jelas dalam mengenalkan tokoh Mbah Sri, dengan masalah yang dihadapinya menuju keinginannya. Ini saja sudah cukup untuk membuat penonton bersimpati dengan Mbah Sri dan perjalanan yang dilakukannya. Tanpa spoiler yang bikin ceritanya sudah terbongkar.


     |CERITA| Sebagai mana sudah dijelaskan di sinopsis, maupun trailer, cerita Ziarah berkutat pada Mbah Sri yang mencari makan suaminya, Mbah Pawiro Sahid, hanya untuk satu tujuan. Jika Mbah Sri meninggal, ia ingin dimakamkan di samping makam suaminya. Perjalanan Mbah Sri tak mulus, banyak rintangan dan tokoh-tokoh sekelilingnya yang mendukung atau bahkan menghalanginya, tentunya dengan masing-masing memiliki tujuannya masing-masing. Ending Ziarah juga cukup mengejutkan, benar-benar tak disangka. Hanya saja, logika cerita mengenai perjalanan Mbah Sri ini, cukup mengganjal di hati.


     |VISUAL| Secara visual, kualitas gambarnya memang tak secemerlang film-film besar yang biasa muncul di bioskop, namun juga masih nyaman untuk dinikmati, walaupun terkadang ada coloring yang kurang. Secara pengambilan gambar, film ini banyak menggunakan long take, yang membuat temponya menjadi cukup lambat. Mungkin bagi yang tak terbiasa menonton film semacam ini, akan mudah jenuh. Namun sebenarnya ada tujuan khusus dari setiap gambar yang diambil.


     |AUDIO| Audio juga cukup nyaman untuk di dengar. Beberapa instument musik yang digunakan untuk llustrasi, juga dapat menggiring emosi untuk lebih merasuk kedalam film. Menggunakan musik-musik kedaerahan yang cukup suram, mengingat film ini juga menggambarkan perasaan Mbah Sri yang sedang kebingungan mencari makam suaminya.


     |ACTING| Mbah Ponco Sutiyem menunjukkan akting dan ekspresi yang natural untuk film ini. Tak heran jika beliau mendapatkan penghargaan untuk jerih payahnya. Sisanya secara umum memiliki akting yang mendukung dan bagus, walau ada juga yang agak ganggu, hanya sebagian kecil, tapi itu tak terlalu berarti.


     |KESIMPULAN| Ziarah ini membawa pesan yang begitu dalam. Dirangkai dengan film yang berjalan perlahan, namun dengan tujuan yang pasti. Berhasil membawa penonton untuk ikut larut dalam perjalanan Mbah Sri. Walaupun sayangnya, masih ada sisi yang terlupakan, yaitu logika cerita. Mau bagaimanapun, ini juga cukup membuat pertanyaan selama menonton film ini. #BanggaFilmIndonesia

0 komentar:

Post a Comment

Newest Review

Review Film Hujan Bulan Juni (2017) : Film dalam Balutan Puisi

     Hujan Bulan Juni, awalnya adalah novel karya Sapardi Djoko Darmono yang telah terbit sejak tahun 1994. Di tahun 2017 ini, Hestu Sa...

Popular Review

Followers

 
Copyright © 2016 Riza Pahlevi