Home » , , » Review Film The Last Barongsai (2017) : Kesederhanaan Cerita Keluarga

Review Film The Last Barongsai (2017) : Kesederhanaan Cerita Keluarga


     Untuk menyambut Tahun Baru Imlek 2568, PT. Karnos Film mempersembahkan sebuah film drama keluarga yang memiliki latar cerita keluarga Tionghoa yang berada di Indonesia. Menggunakan media Barongsai, film ini berjalan dengan konflik seputar keberadaan budaya barongsai. Lalu seperti apakah film ini?


     |POSTER & TRAILER| Cukup sayang sebenarnya poster hanya dibikin seperti itu. Hanya gambar ilustrasi dengan dominasi warna biru yang di mix dengan orange, kemudian hampir setengah poster diisi tulisan-tulisan daftar crew and talent, dan sisanya dikasih 3 tokoh utama dengan pose seadanya, dan judul yang cukup kecil, tak terfokus dan terpojok.


     Trailernya cukup kalem seperti filmnya. Gak ada emosi yang terlalu. Konflik yang muncul dalam cuplikan di trailer pun, terlihat cukup 'damai'.


     |CERITA| Kisah seorang anak yang ingin melestarikan kebudayaan, dalam hal ini adalah Barongsai, namun mendapatkan tentangan dari keluarganya. The Last Barongsai memang tidak fokus pada barongsai itu sendiri, namun pada konflik internal keluarga yang memang tidak dipungkiri sering dialami oleh kita. Cerita yang cukup sederhana, digarap secara sederhana pula. Pola berceritanya bisa dibilang cukup 'lawas'. Dalam setiap obrolan, semuanya sudah dibicarakan. Seperti Sinetron di TV, namun dengan kualitas teknis yang bagus. Overall, The Last Barongsai cukup menarik, khususnya di paruh awal sampai tengah, namun mulai keteteran di tengah sampai akhir.


     |VISUAL| Dari awal visual film ini bagus, kenapa? Angle pengambilan lumayan bagus, coloring juga nyaman dan adem dilihat. namun seiring berjalannya durasi, film ini tak mampu konsisten dalam menghadirkan visual dengan kualitas yang sama. Semakin kebelakang, pengambilan semakin 'seadanya' terkadang ngawur, coloring juga beda-beda padahal masih di lokasi yang sama, hanya beda angle atau shot.


     |AUDIO| The Last Barongsai juga punya kasus yang sama untuk audio, seperti visual. Yaitu punya garapan yang sangat detail bahkan untuk foleynya. Gerakan-gerakan kecilpun, terdengar soundnya. Namun semakin kebelakang, memang semakin jarang. Yang kurang adalah levelingnya. Karena seperti saat adegan di laut, suara ombak sangat mendominasi, sehingga percakapan yang penting, justru sulit untuk didengarkan.


     |ACTING| Tio Pakusadewo punya akting paling matang, begitu juga dengan Dion Wiyoko, walaupun tak terlalu cemerlang seperti pada film-film mereka lainnya. Aziz Gagap boleh juga aktingnya. Selain itu, para pemerannya bermain di taraf cukup untuk membuat roda penceritaan tetap berjalan.


     |KESIMPULAN| The Last Barongsai adalah drama keluarga sederhana dengan penggarapan yang cukup sederhana, menghasilkan respon yang cukup sederhana. Namun diluar kesederhanaannya, film ini juga mampu mendeliver pesan yang ingin disampaikan dengan mudah ke penonton. #BanggaFilmIndonesia

0 komentar:

Post a Comment

Newest Review

Review Film Hujan Bulan Juni (2017) : Film dalam Balutan Puisi

     Hujan Bulan Juni, awalnya adalah novel karya Sapardi Djoko Darmono yang telah terbit sejak tahun 1994. Di tahun 2017 ini, Hestu Sa...

Popular Review

Followers

 
Copyright © 2016 Riza Pahlevi