Home » , » Review Film I Love You from 38.000 FT (2016) : Degradasi Naskah

Review Film I Love You from 38.000 FT (2016) : Degradasi Naskah


     Screenplay Films dengan Sutradara Asep Kusdinar kembali berduet untuk membuat film, kali ini diberi label 'I Love You from 38.000 FT'. Setelah kesuksesan 'Magic Hour' di tahun 2015, dan 'London Love Story' pada Feburari 2016, yang meraih banyak penonton, Michelle Ziudith kembali diajak untuk menjadi aktris utamanya. Sedangkan posisi aktor utama, dipegang Rizky Nazar. Apakah ILY from 38.000 FT, 'adek' baru lahir ini, bisa menyamai atau bahkan mengungguli popularitas kedua kakaknya (Magic Hour dan London Love Story)? 


     |POSTER & TRAILER| Terlihat dua wajah dari aktor dan aktis yang di blend. Dikasih background pemandangan, pantai, dan udara. Tentunya ada juga gambar pesawat disana. Kesan pertama lihat poster ini, sejuk, karena nuansanya kebiruan. Poin positif selanjutnya, penggunaan font beserta pewarnaan dan peletakannya juga enak dipandang, gak mencolok, dan poster ini tau mana yang fokus yang harus di ekspose.


     Trailernya menampilkan beberapa adegan 'jalan-jalan' yang punya view yang bagus, ini jelas menjadi daya tarik. Selain itu, quote-quote baper ala Screenplay juga beberapa dimunculkan. Sekalipun quotenya.... FTV banget.



     |CERITA| Dugaan ILY from 38.000 FT akan belajar dari kesalahan-kesalahan kakaknya, adalah salah besar. Penceritaan film ini amburadul, gak karuan. Logika cerita gak diperhatikan. Banyak kejadian kebetulan, yang luar biasa kebetulan (gak masuk logika). Plotnya biasa banget. Dialognya.... malu untuk didengarkan. Karakter dari semua tokoh lemah. Bahkan FTV pun gak gini-gini banget.



     |VISUAL| Gambar di ILY from 38.000 FT gak sejernih dan sebagus di London Love Story. Keseringan pakai drone, dengan kualitas yang berbeda, juga mengganggu. Gambar-gambar malam juga noisenya parah. Gambar eksotisme alam dan pemandangan cantik yang ditawarkan di trailer, gagal dieksekusi. Karena kualitas gambarnya yang gak bersih dengan angle yang biasa. Pencahayaan juga kurang cinematic, alias cuma keliatan 'asal terang'. Make up effect saat kecelakaan (bekas luka) juga masih kualitas sinetron, gak berubah dari jaman Magic Hour.



     |AUDIO| Musik ilustrasinya, terasa gak pas sama flow filmnya. Filmnya ringan, tapi musik terlalu berat. Bingung juga kenapa film ini pakai lagu 'Kiss Me'? Jadinya makin gak match. Mending buat soundtrack lagi yang nyanyi Rossa. Karena Rossa yang bawain dua soundtrack, 'Jangan Hilangkan Dia' dan satu lagi gak tau judulnya, udah membantu banget ciptain mood yang udah runtuh selama nonton film ini.



     |ACTING| Michelle Ziudith gak keliatan perkembangannya, apalagi dengan dialog yang.... gak habis pikir itu. Rizky Nazar apalagi, dia juga gak terlihat kehebatan aktingnya, gak seperti waktu di film 2014, siapa diatas presiden? Dia dapet banget di film itu. Tapi disini, flat. Tanta Ginting, Derby Romero, dan Amanda Rawles sekalipun, semuanya terjebak di 'sekedar melafalkan dialog', tanpa memahami karakter setiap tokohnya, sepertinya karena memang basic penokohannya pun gak kuat. Satu-satunya yang masih mending, Ricky Cuaca, walaupun perannya gak beda sama di sinetron yang dia mainkan.


     |KESIMPULAN| Sebuah film dibangun oleh cerita. Jika cerita kuat, film akan bagus. Begitu juga sebaliknya. Teknis juga penting, tapi bukan segalanya. I Love You from 38.000 FT, tak memiliki cerita yang kuat. Teknisnya pun lemah. Bisa dibilang, film ini tidak lebih baik dari kedua kakaknya. Namun setiap orang juga bisa merasakan hal yang berbeda pada setiap film. Begitupun ILY from 38.000 FT, juga bisa menghibur pada segmentasi penonton tertentu. #BanggaFilmIndonesia


4 komentar:

  1. pingin bikin review film ini, tp belum punya alasan yang kuat untuk menulisnya, xixixiix

    ReplyDelete
  2. Setuju dengan pendapat anda...:D

    Saya pribadi bukan penikmat film indonesia, apalagi film2 jaman skrng, namun karena desakan adik2 yang pengen nonton film ILY ini akhirnya dengan berat hati nonton juga :

    Kesimpulan, dari score 1-10 film ini nilainya 1.

    Saya bingung melihat film model begini masih di produksi terus oleh sineas indonesia, apakah mereka menganggap penonton di indonesia begitu bodoh dan tidak bisa menilai kualitas film?

    Tapi yah, memang, jika di tonton oleh remaja yg tak mementingkan jalan cerita atau lainnya dalam film ini, film ini bisa menghibur

    :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sekarang film Indonesia kembali bangkit lagi, semoga kedepannya akan terus berkembang dan semakin maju dan berkualitas #BanggaFilmIndonesia

      Jangan kapok hanya karena kebetulan dapet film yang mengecewakan ya, masih banyak film Indonesia yang berkualitas.

      Delete
  3. Kalau gue intinya nonton film buat cari hiburan ..ibarat gue udh bayar
    kualitas itu penting tapi ya terkadang kita perlu sesuatu yg ringan untuk membuang penat setelah pusing dengan tugas kampus misalnya
    and i do think this movie was worth to watch apalg buat nyari hiburan ringan seperti gue

    ReplyDelete

Newest Review

Review Film Dear Nathan (2017) : Kisah Cinta Romantis Anak SMA

     Satu lagi suguhan drama percintaan dengan background anak sekolahan. Tema yang cukup sering diangkat menjadi film. Sebut saja Ada Ap...

Popular Review

Followers

 
Copyright © 2016 Riza Pahlevi