Home » , » Review Film Sabtu Bersama Bapak (2016) : Premis Minor tapi Bisa Bikin Ngakak

Review Film Sabtu Bersama Bapak (2016) : Premis Minor tapi Bisa Bikin Ngakak

 
     Monty Tiwa kembali mengarahkan sebuah film, dengan judul 'Sabtu Bersama Bapak', setelah belum lama ini, merelease sebuah film drama percintaan yang diangkat dari novel 'Raksasa dari Jogja', dengan judul yang sama. Sedangkan 'Sabtu Bersama Bapak' sendiri membawa tema keluarga, yang dipersiapkan untuk tayang di libur lebaran tahun ini. Akankah kesuksesan novel 'Sabtu Bersama Bapak' mampu diikuti keberhasilan filmnya?


     |POSTER & TRAILER| Tampilan posternya menarik. Tema keluarga yang diangkat, tergambar jelas dengan pose ala foto keluarga, namun gak seperti biasanya, ada yang terlihat berbeda, yaitu sosok bapak. Maksudnya, poster ini berhasil memberikan unsur konflik/masalah di film kedalam posternya.

     
     Trailer terbilang cukup singkat, namun bisa menyampaikan pesan betapa minornya film ini, alias betapa sedihnya penonton akan dapatkan, jika menonton film ini. Tentunya ini bagus, akan menarik minat penonton yang udah sedih baca sinopsis maupun bukunya, kemudian disuguhkan trailer semacam ini. Sayang bagian komedi di film ini tak ditampilkan di trailer, padahal bisa menambah luas segmentasi penonton.
 
 
 
     |CERITA| Premis yang dibawakan memang minor, calon penonton sudah pasti tau kalau film yang akan mereka tonton adalah film yang akan sedih mengharu-biru. Tapi ternyata tidak. Sabtu Bersama Bapak punya jalinan cerita yang tak sekedar mengurai air mata penonton karena kesedihan yang ditimbulkan, namun juga air mata karena tertawa tak tertahankan (in a good way). Monty Tiwa, sang sutradara memang sudah berkali-kali mencatatkan karya filmnya dengan balutan komedi yang asyik. Begitupun juga ditampilkan di film ini. Epic banget.
 
 
     Sebagai sebuah sajian drama, Sabtu Bersama Bapak tentu memiliki adegan-adegan dramatis yang 'dalam' dan emosional. Poin positif lainnya, Sabtu Bersama Bapak memiliki plot yang beragam, menarik, dan dieksekusi dengan baik. Tentunya semua ini ditunjang oleh seluruh elemen, baik teknis, naskah, hingga ke performa acting pemain.
 
 
     |VISUAL| Tampilan visual Sabtu Bersama Bapak 'berbeda'. Coloringnya seperti film-film tahun 90an, dengan efek sedikit blur dan penambahan lens flare di beberapa scene. Bagi sebagian orang, treatment seperti ini mengganggu. Padahal ini adalah style dari pembuat film. Jika penonton bisa membaca itu, style ini jadi menyenangkan. Sabtu Bersama Bapak menjadi film yang punya karakter, secara look visual, dibandingkan film kebanyakan yang 'bermain aman' dengan look natural. Namun bukan menjadi masalah juga kalau memilih untuk menjadi natural, semua itu adalah pilihan pembuat film, yang punya caranya masing-masing untuk membuat style filmnya.
 
 
     |AUDIO| Musik ilustrasi berperan banyak di film untuk membuatnya jadi lebih hidup. Gak cuma looknya yang punya karakter, musik Sabtu Bersama Bapak juga punya irama yang 'senada' dengan visualnya. Musik terdengar nyaman, ditempatkan di saat-saat yang tepat. Baik saat adegan emosional, menyentuh, hingga saat adegan konyol, semuanya bagus. Untuk dialog yang di dubbing, terkadang di beberapa adegan ada yang kurang konsisten didengar, ada yang berubah suaranya, padahal masih di gambar, situasi yang sama, dan belum berpindah posisi. Soundtrack dari Wizzy yang berjudul 'I'm Sorry' juga kece.
 
 
     |ACTING| Aktor dan aktris di Sabtu Bersama Bapak, jelas pemain-pemain kelas atas. Sebut saja Abimana Aryasatya, Acha Septriasa, dan Ira Wibowo yang performanya mampu menjalankan roda cerita film ini dengan baik. Abimana Aryasatya mampu bersikap berwibawa dan menjadi sosok bapak yang dibanggakan keluarganya. Acha Septriasa memang jagonya membawakan sebuah karakter sampai ke tingkat emosional yang pas. Ira Wibowo sanggup membuat penonton berempati kepadanya sebagai seorang ibu.
 
 
     Deva Mahenra, terhitung pemain baru di layar lebar, namun performanya di Sabtu Bersama Bapak begitu memukau. Sepertinya ini pencapaikan terbaiknya sejauh ini. Arifin Putra bermain begitu emosional disini, tapi ada sedikit bagian yang dia terlihat sedikit berlebihan, selain itu, good. Beberapa pemeran lain seperti Sheila Dara Aisha, Ernest Prakasa, dan pemain-pemain lain juga bagus. Tapi film ini juga tak luput dari pemain yang performanya kurang, seperti dua anak dari Satya, terlihat kurang pas secara fisik dan kurang juga aktingnya. Beberapa pemeran pembantu lain, termasuk yang di luar negeri, juga tak menunjukkan akting yang maksimal.
 
 
     |KESIMPULAN| Sabtu Bersama Bapak memang sebuah drama, tapi film ini mampu memberikan kesegaran dalam bentuk komedi yang sangat menghibur. Nilai dramatis film ini juga mampu membawa ke penonton untuk merasakan sedih dan terharu. Khusus buat pencari cinta alias jomblo, juga disarankan nonton ini, hehe. #BanggaFilmIndonesia
 

0 komentar:

Post a Comment

Newest Review

Review Film Hujan Bulan Juni (2017) : Film dalam Balutan Puisi

     Hujan Bulan Juni, awalnya adalah novel karya Sapardi Djoko Darmono yang telah terbit sejak tahun 1994. Di tahun 2017 ini, Hestu Sa...

Popular Review

Followers

 
Copyright © 2016 Riza Pahlevi