Home » , , » Review Film Jilbab Traveler Love Sparks in Korea (2016) : Kisah Cinta Berselimut Travelling dan Agama

Review Film Jilbab Traveler Love Sparks in Korea (2016) : Kisah Cinta Berselimut Travelling dan Agama


     Satu lagi buku laris karangan Asma Nadia di visualisasikan, ialah Jilbab Traveler Love Sparks in Korea. Jika di film sebelumnya, 'Pesantren Impian' bergenre Thriller, 'Jilbab Traveler' memiliki genre yang mirip dengan 'Assalamualaikum Beijing', yaitu drama percintaan. Tentunya dalam setiap karya Asma Nadia, pasti diberikan sentuhan religi. Jika di film-film sebelumnya berhasil memikat hati penonton, lalu bagaimana dengan film ini?


     |POSTER & TRAILER| Sesuai dengan judulnya 'Jilbab Traveler Love Sparks in Korea', nuansa Koreanya dapet dengan gambaran salju dan bunga sakura (mungkin). Penggambaran sosok Jilbab Traveler juga bisa dilihat dari portrait Bunga Citra Lestari dengan mengenakan jilbab dan mengenakan ransel, selayaknya seorang traveler. Peletakan wajah tokoh lain, Giring dan Morgan, juga enak. Ekspresi ketiganya juga dapet. Diluar itu, pewarnaan, penggunaan font segala macamnya juga nyaman untuk dilihat, menarik.

 
     Trailer film ini menarik. Sisi travellingnya ditampilkan melalui gambar-gambar cantik di beberapa lokasi yang indah. Cuplikan konflik dari percintaan juga dimunculkan di scene-scene yang tepat. Beberapa dialognya yang di keluarkan, juga menambah rasa penasaran. Bagus.


     |CERITA| Secara umum film ini sebenarnya berkutat di masalah drama percintaan. Sedangkan travelling dan jilbab, bisa dibilang hanya sebatas pelengkap. Film ini mirip dengan 'Assalamualaikum Beijing' secara tema, tapi ceritanya beda. Untuk alur penceritaan, perputaran waktu di film ini begitu cepat. Mungkin ini untuk menutupi plot hole yang banyak ditemui di film ini. Walaupun berusaha untuk di maklumi, seharusnya sebuah film tetap memiliki logika yang terus berkesinambungan. Bukannya menghadirkan hal-hal serba kebetulan dan semuanya terasa mudah. Hubungan sebab-akibat selalu berlaku, tapi film ini cukup mengabaikannya.


     Untuk eksekusinya, film ini bisa menghadirkan dramatisasi yang baik. Dengan beberapa adegan dan dialog yang mendukung, karena tidak semuanya begitu.  Ada adegan dan dialog yang cukup aneh untuk dilihat dan didengar. Yang agak mengecewakan, ada produk iklan yang 'jualan' banget, padahal dibeberapa adegan, kemunculan produknya halus. Yaaaa walaupun 'hidupnya' film ini karena iklan, tapi kan bisa dikemas dengan lebih halus.


     |VISUAL| Guntur Soeharjanto memang sudah tau bagaimana cara mengambil gambar yang baik di luar negeri. Pengalamannya menggarap film-film bersetting di luar negeri, membuatnya tak terlihat kesulitan menghadirkan visual yang bagus di Jilbab Traveler. Hanya saja, ada beberapa visual efek buatan yang kurang halus, jadinya kurang enak dilihat. Untuk shot dari drone juga kualitasnya jauh berbeda dari shot yang biasa, jadi sayang gambarnya gak maksimal.


     |AUDIO| Ini adalah salah satu departemen yang bagus. Musik ilustrasinya cocok dalam segala suasana dan kondisi yang ada di film, dan tentu menambah feel penonton dalam meresapinya. Untuk dubbing dialog, gak selalu sikron dengan baik. Secara umum nyaman didengar. Termasuk soundtrack yang dinyanyikan BCL - Aku Bisa Apa, gubahan lagu Melly Goeslaw memang tak pernah mengecewakan.


     |ACTING| Performa terbaik terasa pada Giring Ganesha. Dia bisa memerankan dengan baik tokoh yang dia bawakan. Padahal karakternya jauh berbeda dengan Giring yang selama ini kita kenal. Yang penonton lihat bukanlah Giring seorang penyanyi, melainkan Giring yang menjelma menjadi Ilhan. Morgan Oey, terlihat kurang konsisten dalam pembawaan karakternya sepanjang film. Kalau mau dibandingkan, performanya lebih greget saat di Assalamualaikum Beijing.


     Sedangkan Bunga Citra Lestari sebagai pemeran utama, dia berperan baik, walaupun ini bukan performa terbaiknya. Poin yang kurang, chemistry antara Morgan dan BCL agaknya kurang terbangun, masih hambar. Ringgo Agus Rahman berperan bagus, dia sukses bikin suasana tegang lebih mencair dengan tingkah kocaknya. Performa standart ada di Indra Bekti, Adila, dan pemeran-pemeran lain yang kurang natural, tapi ada juga yang cukup baik seperti pada peran-peran orang Korea.


     |KESIMPULAN| Kalau kamu cari film tentang travelling maupun religi, film ini bukan jawabannya. Jika drama percintaan dengan background travelling dan religi, maka Jilbab Traveler adalah pilihan yang tepat. Film bagus, tapi tidak istimewa. Masih lebih berkesan 'Assalamualaikum Beijing', yang sama-sama dari bukunya Asma Nadia dan digarap Sutradara Guntur Soeharjanto. #BanggaFilmIndonesia

0 komentar:

Post a Comment

Newest Review

Review Film Hujan Bulan Juni (2017) : Film dalam Balutan Puisi

     Hujan Bulan Juni, awalnya adalah novel karya Sapardi Djoko Darmono yang telah terbit sejak tahun 1994. Di tahun 2017 ini, Hestu Sa...

Popular Review

Followers

 
Copyright © 2016 Riza Pahlevi