Home » , , » Review Film Abdullah V Takeshi (2016) : Bikin Ngakak dan Mengharukan

Review Film Abdullah V Takeshi (2016) : Bikin Ngakak dan Mengharukan


     Gak mau kalah dari Raditya Dika dengan film 'Single'nya, Ernest dengan 'Ngenest'nya, Kemal Palevi menelurkan 'Abdullah V Takeshi'. Sebuah film yang di sutradarai, ditulis naskahnya, dan diperankan oleh Kemal Palevi sendiri. Dua film sahabatnya itu telah menuai kesuksesan di kancah layar lebar Indonesia, lalu bagaimana dengan nasib 'Abdullah V Takeshi'?


     |POSTER & TRAILER| Menampilkan tiga 'potret' dari tokoh utama, Kemal Palevi, Dion Wiyoko dan Nasya Marcella adalah sebuah ramuan 'lawas' untuk poster film. Tapi yang unik, setiap tokoh memiliki background lokasi yang berbeda, disesuaikan dengan asal masing-masing tokoh. Kemal sebagai Takeshi dilambangkan dengan keramaian kota di Jepang. Dion dilatari gambar masjid yang identik dengan negara timur tengah, karena dia berperan sebagai Abdullah. Sedangkan Nasya memiliki background Kota Jakarta, yang notabene adalah asal kota Indah, tokoh yang ia perankan. Komposisi yang disusun pas, tidak ada yang tenggelam atau terlalu mencuri fokus. Tapi kalau diperhatikan lebih detail, Nasya ditempatkan di poster bagian atas, dengan effect matahari di belakangnya, membuat dia semakin terlihat 'shiny', menarik.


     Trailer Abdullah V Takeshi terlihat begitu 'berwarna'. Cuplikan dari beragam adegan, lokasi, situasi, dan berpacu pada tujuan yang sama, komedi. Dari trailerpun, calon penonton sudah diberikan 'sinyal' jika komedi yang disuguhkan di filmnya nanti, bukan konsumsi anak-anak. Karena itulah film ini memiliki rate Dewasa 17+.


     |CERITA| Kisah dua putra beda latar budaya yang tertukar, menjadi premis yang unik untuk sebuah film komedi. Ditambah penceritaannya gak jauh-jauh dari kehidupan anak muda jaman sekarang, rebutan cewek paling cantik sekampus. Sebenarnya ini sudah menjadi hal yang basi. Tapi sekali lagi, Kemal Palevi bisa menggarap cerita basi ini, menjadi cerita yang sangat menarik karena dibalut dengan komedi yang fresh. Pemilihan aktor/aktris untuk mengisi jajaran pemain, juga pas. Secara fisik meyakinkan, untuk kualitas akting... akan dibahas di bagian selanjutnya.


     Alurnya gak macem-macem, dialognya mudah, membuat Abdullah V Takeshi menjadi film yang 'ringan' untuk dicerna kebanyakan penonton. Walaupun begitu, film ini berhasil membuat tawa pecah di sepanjang durasinya. Abdullah V Takeshi juga sukses membawa keharuan di paruh akhir dengan tanpa lupa untuk menyisipkan komedi-komedi di dalamnya.


     |VISUAL| Gambar demi gambar dirangkai dengan cantik dan juga enak untuk dilihat 'santai'. Teknik pengambilan gak berlebihan, tapi sudah cukup untuk dibilang cantik. Karena kualitas gambar juga tajam, jernih, dan minim noise untuk malam hari, walaupun ada beberapa scene di pertengahan fim, gambar jumping dibanding yang lain, banyak noise, lighting terlalu keras, dan tidak tajam. Entah karena kamera yang digunakan berbeda, atau karena apa.


     Hal sangat disayangkan adalah banyak adegan-adegan yang hilang. Bagaimana bisa tau? Coba perhatikan di trailer, adegan di club syariah, bertemu dengan cosplayer, Takeshi nempel di gambar wanita di Jepang, semuanya gak muncul di film. Itu aja baru yang ketahuan, mungkin masih banyak scene lain yang hilang? Entahlah. Awalnya aku pikir kena sensor LSF, tapi menurut info yang aku dapet, Abdullah V Takeshi yang di tayangkan di bioskop sekarang adalah versi Director's Cut, alias gambar-gambar yang muncul atas pilihan sutradara. Tapi terlepas dari apapun penyebabnya, kehilangan scene-scene itu, membuat penonton merasa di php dan mempengaruhi flow emosi film itu sendiri.


     |AUDIO| Sebagai mana setiap film memiliki kekuatan 'tersembunyi' yang sering terlupakan, yaitu audio. Tidak terlihat tapi dampaknya begitu besar untuk membangun emosi setiap film. Abdullah V Takeshi jeli juga untuk menggarap departemen ini dengan detail. Setiap dialog yang diucapkan terdengar jelas, musik ilustrasi, sound effect dan foley terdengar detail, asyik, dan menambah bumbu humor di film ini. Lagu Yura Yunita - Berawal dari Tatap, juga berhasil membawa keharuan di bioskop.


     |ACTING| Kemal Palevi yang notabene bukan orang Jepang, berhasil meyakinkan sebagai orang dengan latar keluarga Jepang yang tinggal di Jakarta. Begitu juga dengan Dion Wiyoko, yang dituntut untuk bisa adzan, padahal dia seorang non-muslim. Nasya Marcella tak hanya menawan, sebagai tokoh central dia mampu membawa alur film ini dengan baik. Pemeran pendukung lain juga tak kalah keren, seperti Uus dengan komedi plesetannya, Abdur, Karina Nadila dan beberapa tokoh pendukung lain yang memiliki porsi akting yang pas, tidak berlebihan.


     |KESIMPULAN| MVP Pictures bersama Kemal Palevi berhasil menghadirkan sebuah sajian komedi ringan dengan tawa sepanjang durasi dan memiliki drama yang mengharukan pula. Kualitas teknis audio maupun visual juga tereksekusi dengan baik. Ditambah jajaran pemain yang saling melengkapi, menjadi alasan kuat untuk menyegerakan diri menonton film ini, sebelum akhirnya tergerus oleh film-film besar yang sedang banyak menghiasi layar di Indonesia. #BanggaFilmIndonesia

0 komentar:

Post a Comment

Newest Review

Review Film Hujan Bulan Juni (2017) : Film dalam Balutan Puisi

     Hujan Bulan Juni, awalnya adalah novel karya Sapardi Djoko Darmono yang telah terbit sejak tahun 1994. Di tahun 2017 ini, Hestu Sa...

Popular Review

Followers

 
Copyright © 2016 Riza Pahlevi