Home » , » Review Film London Love Story (2016) : Produk Kesuksesan Magic Hour

Review Film London Love Story (2016) : Produk Kesuksesan Magic Hour


     Belum menginjak waktu satu tahun setelah Magic Hour tayang di Agustus 2015 untuk London Love Story (LLS) di release. Kenapa Magic Hour? Production house, produser, dua pemeran utama, dan sepertinya banyak crew Magic Hour yang juga menggarap LLS. Jika kilas balik kualitas Magic Hour seperti apa, lalu bagaimana dengan London Love Story?


     |POSTER & TRAILER| Poster yang versi di tembok seperti diatas, jauh lebih menyenangkan. Kesan anak mudanya dapet, fresh, aktif, dan romantis ala London juga boleh lahhh. Dibandingkan dengan poster yang dibawah ini, jadi mengingatkan sama poster Magic Hour. Terlalu sederhana dan terlihat apa adanya.


     Trailernya tampil dengan cantik, menarik dan berhasil menunjukkan beberapa 'sensitive' point dalam film ini, tanpa membuat spoiler. Tapi malah membuat lebih penasaran lagi untuk segera menonton.


     |CERITA| Logika penceritaan begitu diacuhkan. Semuanya terjadi dengan begitu saja tanpa ada motif yang kuat dibelakangnya. Gaya penceritaannya masih seperti FTV, semacam 'karena ini film cinta romantis, jadi gak perlu unsur-unsur lain', tapi ini salah. Film romantis maupun film jenis apapun, seharusnya tetap memikirkan logika berjalannya cerita dengan motif yang kuat. Bukan hanya sesuatu yang terjadi, terjadilah.


     |VISUAL| Sektor ini adalah salah satu sektor yang mengalami kemajuan pesat dibandingkan dengan Magic Hour. Secara selain settingnya yang jauh berbeda, di London, teknik pengambilan, angle, sangat nyaman dinikmati. Walaupun, ada juga di beberapa scene masih kurang. Beberapa effect untuk menyiasati gambar, juga sangat mengganggu. Seperti lampu diskotik saat di club London. Background adegan bunuh diri juga, begitu juga beberapa adegan dengan effect yang mengganggu.


     |AUDIO| Penggunaan musik latar juga gak seacak Magic Hour. Walaupun kadang-kadang masih kurang. Tapi untuk penataan suara sudah baik, tapi belum seutuhnya natural untuk dialognya. Tapi untuk foleynya bagus juga, lumayan detail.


     |ACTING| Dimas Anggara gak secharming di film sebelumnya. Entah kenapa, mungkin karena faktor lingkungan di London yang belum terbiasa, dia juga berakting dengan kurang memberikan rohnya. Jadi penonton cewek-cewek di bioskop gak sampai teriak-teriak di bioskop. Atau mungkin gara-gara penonton ceweknya pada nonton sama pacarnya ya? Entahlah.


     Kalau Michelle Ziudith mengalami peningkatan kualitas akting dibanding Magic Hour. Lonjakan emosi yang dia berikan juga tersampaikan ke penonton. Tapi kembali lagi, London Love Story gak lebih memberikan pengalaman emosi penonton yang lebih dalam, apa karena chemistry mereka juga dipengaruhi oleh cuaca London? Entahlah.


     Justru penampilan Dion Wiyoko menjadi berarti di London Love Story. Kehadirannya membawa warna baru disini. Kalau liat Dion Wioyoko di film ini jadi mengingatkan Boy William di Sunshine Becomes You. Good job!


     |KESIMPULAN| London Love Story jelas memberikan pengalaman baru dalam menonton bioskop. Performa secara teknik jauh meningkat, namun sayang untuk konten masih mengelakkan logika cerita. LLS akan enak ditonton ketika penonton juga gak peduli dengan segala kebetulan yang diciptakan LLS. Pilih Magic Hour atau London Love Story? Pastikan kamu udah nonton keduanya. #BanggaFilmIndonesia

2 komentar:

  1. Replies
    1. Untuk ukuran film, LLS masih jauh, apalagi sektor ceritanya sangat kurang

      #BanggaFilmIndonesia

      Delete

Newest Review

Review Film Hujan Bulan Juni (2017) : Film dalam Balutan Puisi

     Hujan Bulan Juni, awalnya adalah novel karya Sapardi Djoko Darmono yang telah terbit sejak tahun 1994. Di tahun 2017 ini, Hestu Sa...

Popular Review

Followers

 
Copyright © 2016 Riza Pahlevi