Home » , , » Review Film Ketika Mas Gagah Pergi (2016) : Premis Cerita Menarik tapi Naskah Kurang

Review Film Ketika Mas Gagah Pergi (2016) : Premis Cerita Menarik tapi Naskah Kurang


     Satu lagi film adaptasi novel yang bergenre Drama Religi, Ketika Mas Gagah Pergi (KMGP). Novelnya adalah buku yang best seller 20 tahun yang lalu. Kemudian diangkat menjadi film dengan latar waktu saat ini. Lalu seperti apakah hasil filmnya?


    |POSTER & TRAILER| Tampilan poster sangat standart dan stylenya sudah ketinggalan jaman. Background warna kuning dengan foto banyak pemain yang di gabungkan ditambah gambar gunung, membosankan. Trailer juga kurang spesial, padahal potensinya masih bisa digali lagi, terutama untuk pemotongan shot-shotnya dan musik illustrasinya dibuat lebih berani.


     |CERITA| Premis cerita yang ditawarkan menarik, mengundang penasaran orang untuk mengetahui sejauh mana si tokoh Mas Gagah bisa sampai berubah ketika sedang berada di Ternate. Tetapi justru di film KMGP ini, bagian Mas Gagah di Ternate belum ditampilkan, melainkan kisah sebelum pergi dan sesudahnya.


     Untuk jalan cerita dibuat alur maju-mundur, tapi tak menimbulkan kesan penasaran, karena mudah ditebak, Untuk naskahnya masih kurang, dialog yang disampaikan masih kaku dan cerita berjalan dengan kesan 'mudah'. Penggarapan karakter setiap tokoh 'terlihat' sudah dipersiapkan, namun entah karena naskah atau aktor/aktrisnya, menjadikan penokohan jadi salah satu faktor yang lemah.


     |VISUAL| Hal yang menarik dari visual KMGP adalah jernih. Point itu saja sudah membuat mata penonton nyaman melihat setiap gambar yang tersaji. Untuk faktor lain seperti angle pengambilan gambar, editing, dan efek-efeknya bisa dikatakan menuju megah, walaupun masih bisa dieksplore lebih dalam lagi.


     |AUDIO| Untuk suara dialog terdengar jelas dan natural. Foley biasa saja. Musik illustrasi terdengar sangat 'religi' banget, bagus, namun sebenarnya aku berharap kalau film ini bisa berjalan tanpa 'memaksakan' menjadi religi karena musiknya. Original soundtrack yang dinyanyikan Indah Nevertari - Rabbana, terdengar unik.


     |ACTING| Hamas Syahid bisa memerankan Mas Gagah 'religius' dengan pas. Namun masih terlihat kurang saat berperan jadi Mas Gagah 'nakal'. Tidak ada beda yang drastis antara sebelum pergi dan setelah. Cuma bedanya di jenggot yang keliatan tempelan itu. Begitu juga dengan Aquino Umar, aktingnya juga masih terlihat sama saja antara Mas Gagah sebelum dan sesudah pergi, hanya 'kelihatannya' berbeda, padahal masih sama.


     Peran yang cukup menarik perhatian adalah Masaji Wijayanto, performanya cukup meyakinkan, walaupun terkadang kontrol suaranya perlu diperhatikan. Sedangkan untuk akting paling cantik, dipegang oleh Wulan Guritno yang tak perlu diragukan lagi performanya.

     
     |KESIMPULAN| Ketika Mas Gagah Pergi jelas menimbulkan tanda tanya di akhir film, alias masih nggantung. Itu karena KMGP ini terdiri dari dua film. Belum tau kapan film KMGP 2 akan release. Tapi yang jelas, KMGP menjadi tontonan dengan visual menarik, premis cerita menarik, walaupun digarap dengan naskah yang masih seadanya. #BanggaFilmIndonesia

0 komentar:

Post a Comment

Newest Review

Review Film Berangkat (2017) : Ringan, Seru dan Asyik

         Sutradara terkesan sebagai pekerjaan seorang cowok, namun pada kenyataannya gak selalu seperti itu. Naya Anindita membuktikannya...

Popular Review

Followers

 
Copyright © 2016 Riza Pahlevi