Home » , » Review Film Aach... Aku Jatuh Cinta (2016) : Kisah Cinta Romantis dengan Kemasan Antik

Review Film Aach... Aku Jatuh Cinta (2016) : Kisah Cinta Romantis dengan Kemasan Antik


     Garin Nugroho kembali menelurkan karya filmnya, Aach... Aku Jatuh Cinta (AAJC). Sebelum ditayangkan serentak di seluruh bioskop tanah air 4 Februari 2016, AAJC udah menyambangi Busan International Film Festival 2015. Sudah bisa dipastikan AAJC ini bukan film 'main-main'. Ketika sukses di dunia internasional, bagaimana di negeri sendiri?
   

     |POSTER & TRAILER| Gak banyak ornamen, cuma dua pemain, mobil, dengan latar langit. Konsepnya simpel, tapi bisa menyampaikan gambaran film, romantis, tapi lucu-lucu unik. Untuk trailer, terkesan menjemukan sebenarnya. Tapi mungkin karena itu, penonton jadi punya pengalaman menarik saat menikmati adegan-adegan seru di AAJC, tanpa spoiler dari trailer.


     |CERITA| Timeline perjalanan cerita cinta yang panjang, biasa menjadi boomeran bagi suatu film untuk membangun dan menjaga emosi penontonnya. Apalagi ditambah dengan situasi dan latar cerita yang terus berkembang, gak semua film bisa membuat penonton terus menatap layar. Namun AAJC menunjukkan powernya disini. Memiliki gaya penceritaan yang unik. Melalui puisi-puisi yang indah, dirangkai dengan adegan-adegan yang cantik, antik, unik, mengulik rasa penasaran dan pastinya tidak meninggalkan ciri khas Garin Nugroho dalam membuat film. Adegan ngukur baju di AAJC, mengingatkanku adegan Reza Rahadian bernyanyi di Guru Bangsa Tjokroaminoto, asyik.


     |VISUAL| Garin sangat concern pada artistik nampaknya. Kekaguman pada artistik di Guru Bangsa juga dibawa ke AAJC. Apa-apa aja yang muncul terlihat dilayar, benar-benar di konsep matang. Dibarengi dengan pengambilan yang selalu beauty shot dan teknik dengan shot-shot panjang yang asyik. Angle yang diambil plus gambar yang fokus dan jernihnyaaaa, menawan hati.


     |AUDIO| Wajar kalau AAJC mampir ke Busan International Film Festival, karena film ini tipenya festival banget. Salah satu contohnya adalah AAJC juga kuat dalam membangun 'karya seni audio'. Istilah kata, tata suara dan tata musik di AAJC juga bertutur cukup banyak dalam perputaran roda cerita film ini. Pastinya dengan kualitas yang gak perlu diragukan kerennya. Tata suara dan musik detail, jernih, walaupun ada beberapa sedikit miss di dubbingnya, tapi itu gak pengaruh.


     |ACTING| Chicco Jerikho benar-benar lagi hits, lihat saja berapa filmnya yang akan release akhir-akhir ini, dengan tanpa mengurasi totalitas akting di setiap film yang dia perankan. Gak habis pikir sejauh mana Chicco riset hingga bisa mendalami karakter Rumi sampai senatural itu. Chicco juga berhasil penonton melupakan dirinya di film-film sebelumnya, itu berarti pembangunan karakternya sukses.


     Pevita Pearce berakting lumayan mengimbangi Chicco Jerikho walaupun masih kurang imbang. Tapi chemistrynya udah agak dapet. Yang menarik perhatian adalah Annisa Hertami yang menjadi ibu Yulia, penampilannya begitu charming. Walaupun sempat terpikir, kenapa dia yang terpilih, karena wajahnya masih begitu muda untuk menjadi ibu dari serorang Pevita Pearce,


     |KESIMPULAN| Aach... Aku Jatuh Cinta, sebagai film festival yang bisa dinikmati oleh khalayak umum. Banyaknya kalimat puitis menjadikannya begitu romantis namun membuat penonton harus selalu menyimak, untuk memahami jalan ceritanya. Digarap dengan begitu menawan dan mempesona. #BanggaFilmIndonesia

0 komentar:

Post a Comment

Newest Review

Review Film Berangkat (2017) : Ringan, Seru dan Asyik

         Sutradara terkesan sebagai pekerjaan seorang cowok, namun pada kenyataannya gak selalu seperti itu. Naya Anindita membuktikannya...

Popular Review

Followers

 
Copyright © 2016 Riza Pahlevi