Home » , » Review Film Ngenest (2015) : Serunya Ngetawain Ernest

Review Film Ngenest (2015) : Serunya Ngetawain Ernest


     Satu hal menarik dari Ngenest adalah film ini diadaptasi dari novel trilogi. Padahal yang biasanya film adaptasi terdiri dari satu buku. Bahkan ada satu buku dijadikan film hingga dua part. Yang bikin penasaran, bagaimana pembuat film bisa 'merangkum' tiga novel dalam film dengan durasi sekitar satu setengah jam. Apakah hasilnya memuaskan?


     |POSTER & TRAILER| Tampilan posternya gak jauh-jauh dari novelnya. Simple, fresh, fun, dan enak di liat maupun dibaca. Beda dengan trailer yang penataannya kurang rapi. Editannya juga kurang. Banyak lelucon keluar di trailer seolah memaksa orang untuk nonton, tapi jadinya spoiler agak banyak.


     |CERITA| Film ini ibarat rangkuman diarynya Ernest Prakasa yang dibuat simpel menjadi durasi 1.5 jam. 'Kadang Hidup Perlu Ditertawakan' nampaknya memang cocok banget dengan film ini, puas banget ketawain hidupnya Ernest (baca: gara-gara film ini dari awal sampai akhir). Kekuatan cerita yang baik bikin film ini gak keluar dari genre komedinya. Mau lagi situasi emosi apapun, penonton bisa tertawa dengan ikhlas.


     |VISUAL| Gambar yang disajikan sederhana. Gak aneh-aneh. Gak jelek juga. Shot yang diambil, menyesuaikan kebutuhan aja. Jarang ditemui beauty shot, kalaupun ada itu di paruh awal film. Di beberapa scene, lighting juga kurang.


     |AUDIO| Suara yang terdengar juga sederhana. Gak terlalu detail foleynya. Musik ilustrasinya kadang kurang sesuai dengan visualnya. Kadang-kadang kesannya musik kayak FTV. Untuk soundtracknya asyik dibawain The Overtunes.


     |ACTING| Ernest Prakasa tentu mahir dalam bermain untuk tokoh dirinya sendiri. Walaupun terkadang ada beberapa ekspresi yang kurang pas. Tapi secara umum, mainnya keren. Karena kebetulan sosoknya sudah dikenal luas, jadi gak perlu banyak waktu untuk orang-orang mendalami karakternya.


     Lala Karmela tampil enjoy sebagai Meira. Dia bisa berakting ketika serius, saat lucu, sampai saat serius dan harus tampil kocak dalam satu waktu. Aktor dan aktris pendukung lain, juga bisa banget mendukung suasana film menjadi semakin kocak, seperti Morgan Oey, Ge Pamungkas, dan lain-lain.


     |KESIMPULAN| Film Ngenest menyajikan perjalanan Ernest dari kecil hingga dewasa yang berliku-liku dan seru untuk diikuti dan ditertawakan. Gak berambisius untuk mengangkat isu 'China' secara berlebihan, justru Ernest bisa membawanya dengan sangat kocak sepanjang film! #BanggaFilmIndonesia

1 komentar:

  1. Keren nih rating dari filmnya :o Sinopsisnya juga keren sip lah

    ReplyDelete

Newest Review

Review Film Hujan Bulan Juni (2017) : Film dalam Balutan Puisi

     Hujan Bulan Juni, awalnya adalah novel karya Sapardi Djoko Darmono yang telah terbit sejak tahun 1994. Di tahun 2017 ini, Hestu Sa...

Popular Review

Followers

 
Copyright © 2016 Riza Pahlevi