Home » , » Review Film LDR (2015) : Begitu Cantik tapi Cerita Dangkal

Review Film LDR (2015) : Begitu Cantik tapi Cerita Dangkal


     Seorang Guntur Soeharjanto telah membuat rangkaian Film 99 Cahaya di Langit Eropa, tampak begitu cantik dan berhasil membawanya menjadi box office. Kali ini, Guntur kembali membuat film dengan setting Eropa dengan judul LDR. Masih bersama Maxima Pictures, jajaran artis muda yang lagi naik daun, Al Ghazali (Paul) dan Verrel Bramasta (Demas), dan artis cantik pendatang baru, Mentari De Marelle (Carrie)dan Aurelle Moereans (Alexa). Apakah ramuan ini berhasil memikat hati penonton?


     |POSTER & TRAILER| First Impression lihat poster Film LDR itu KEREN. Terkonsep bagus, detail menarik, komposisi nyaman, coloring indah, nuansa romeo juliet dan Itali udah dapet. Cuma setelah lihat filmnya, aku merasa komposisi Alexa seharusnya lebih besar dibanding Paul, mengingat porsi di film juga seperti itu. Walaupun memang Paul membawa benang merah Film LDR ini dengan lanjutannya nanti.


     Trailerpun ditawarkan ke calon penonton dengan menarik. Pengenalan masalah cerita di trailer juga pas, gak berlebihan maupun kekurangan. Ibarat air, tidak encer dan tidak kental. Pesona tanah Eropa juga menjadi daya tarik yang tinggi selain karena aktor dan aktrisnya yang mempesona masyarakyat Indonesia.


     |CERITA| Karena di sepanjang film berkali-kali disnggung soal Romeo dan Juliet trus ditambah settingnya di Itali, penonton jadi ter-mindset kalau cerita film ini, gak jauh-jauh dari cerita cinta yang tragis. Tapi menurut promo mereka, film ini adalah drama komedi, tapi aku kurang setuju. Banyak sih part yang lucu, tapi belum bisa disebut sebagai film komedi. Kalau dibilang drama romance sih, boleh lah.


     Film ini ringan, nontonnya santai. Mungkin karena naskahnya yang kurang berisi juga, karena cerita ini kurang ada kedalamannya, baik dari alurnya sampai ke karakter setiap tokoh. Contoh aneh itu ketika sebuah pesawat internasional delay satu jam gara-gara seorang penumpang kelas ekonomi. Selain itu, penjelasan tentang sosok Demas juga sangat kurang. Kalau Alexa kuliah di Itali, sedangkan Demas? Tiba-tiba dia ke Itali dan menetap disana, tanpa dijelaskan, apakah dia kuliah, kerja, atau gimana. Begitu juga dengan cerita dangkal yang lainnya.


     |VISUAL| Setting di Eropa itu udah potensi besar yang dimiliki film ini untuk mendapatkan visual yang terlihat keren bagi mata orang Indonesia, secara kondisi lingkungan beda banget dengan di Indonesia. Guntur Soeharjanto memang jeli untuk melihat celah itu. Tampilan visual LDR memang menawan, tapi kalau bisa dibuat lebih indah lagi pengambilannya, pergerakan kamera dibuat lebih halus, pasti bakal jauh lebih keren. Satu lagi, pemilihan gambar dengan resolusi yang tidak standar di film ini, seperti extreme long shot di gunung salju, membuat film ini berkurang kecantikannya. Andaikan stok shot juga lebih banyak, pasti editor juga akan lebih kaya dalam memilih gambar.


     |AUDIO| Musik ilustrasi dibuat keren, gak jauh beda sama 99 CDLE. Tapi untuk voley beberapa scene terlihat memaksa, ambience juga minim, apalagi dubbingnya sering gak pas, dan memaksa di beberapa tempat, niatnya buat suara hati, tapi gagal, karena sebenarnya itu gara-gara kekurangan stok shot, ini menurutku sih.


     |ACTING| Verrel Bramasta menunjukkan kemampuan aktingnya dengan baik sebagai Demas, walaupun belum sempurna. Dia masih terlihat jaim untuk berakting total. Sedangkan Al Ghazali yang tidak terlalu banyak berperan disini sebagai Paul, belum menunjukkan akting yang maksimal. Masih datar, termasuk saat suaranya dipakai buat voice over, intonasinya jatuh di setiap akhir kalimat.

   
     Ketika Mentari De Marelle berperan sebagai Carrie, pikiranku gak bisa jauh dari Chelsea Islan. Entah dari perawakan sampai ke aktingnya mereka terlihat mirip. Tapi terlepas dari itu semua, Mentari berperan dengan baik di LDR, tapi bakal lebih bagus kalau gregetnya dalam setiap scene, ditambah. Chemistry dengan Verrel juga perlu ditambah. Kalau Aurelie Moeremans saat jadi Alexa juga berakting cukup baik, walaupun chemistry dengan Verrel masih sangat kurang.


     |KESIMPULAN| Film LDR bisa jadi pilihan nonton kalau kamu suka film drama romantis yang ada sedikit komedi, menikmati keindahan Eropa, mendengar lantunan musik yang syahdu, dan melihat akting Al Ghazali, Mentari De Marelle, Verrel Bramasta, dan Aurelie Moeremans. Buruan nonton Film LDR, sebelum Film LDR 2 tayang dibioskop, haha. #BanggaFilmIndonesia

4 komentar:

  1. Replies
    1. Terima kasih Bang Ragil =))

      #BanggaFilmIndonesia

      Delete
  2. Kalo menurut gue rating segitu untuk film LDR terlalu besar.. Dilihat dari sisi ide ceritanya yang terlalu sering dilihat di ftv-ftv pada biasanya. Dan komedi yang disuguhkan masih ada beberapa yang jayus... Manurut gue sih ratingnya 1,5..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih atas masukannya. Film ini memang gak terlepas dari kekurangan seperti yang udah aku jelasin diatas. Tapi kembali lagi, ketika penonton nyaman di bioskop, berarti film tersebut gak sepenuhnya gagal.

      Untuk masalah rating, RizaPahlevi.com punya standar sendiri untuk menilai. Penjelasan rating, ada di menu rating, tapi untuk sementara ini masih dalam pembenahan.

      #BanggaFilmIndonesia

      Delete

Newest Review

Review Film Hujan Bulan Juni (2017) : Film dalam Balutan Puisi

     Hujan Bulan Juni, awalnya adalah novel karya Sapardi Djoko Darmono yang telah terbit sejak tahun 1994. Di tahun 2017 ini, Hestu Sa...

Popular Review

Followers

 
Copyright © 2016 Riza Pahlevi