Home » , » Review Film Dejavu : Ajian Puter Giling (2015) : Konsep Lama tapi Ada Inovasi

Review Film Dejavu : Ajian Puter Giling (2015) : Konsep Lama tapi Ada Inovasi


     Waktu tau BIC PICTURES mau keluarin film lagi, rasanya pesimis bakal jadi film bagus. Tapi begitu tau Film Dejavu : Ajian Putar Giling ini di Sutradarai oleh Hanny R. Saputra, kepesimisan itu berubah seketika. Mengingat Om Hanny udah keluarin banyak film berkualitas dari Heart (2006), Love is Cinta (2007), sampai 12 Menit (2014), apakah filmnya kali ini, bakal keren?


     |POSTER & TRAILER| Rasa optimis film ini bagus gara-gara Om Hanny jadi sutradaranya, jadi menurun waktu lihat poster Film Dejavu : Ajian Puter Giling yang jelek ala-ala poster film produksi BIC Pictures yang lain. Entah dari coloringnya jelek, penempelan fotonya gak rapi, berasa nuansa poster film jadul. Sedangkan trailernya membawa sedikit angin segar buat para calon penonton, karena memberikan visual cuplikan adegan-adegan yang cukup menarik.


     |CERITA| Dejavu memang sebuah tema yang cukup akrab di masyarakat, berbeda dengan Ajian Puter Giling yang masih terdengar asing. Secara penyampaian cerita, dari awal sampai tengah, film ini punya cara yang cukup jadul. Tapi di paruh akhir, film ini punya 'kejutan' dari sisi penceritaannya yang seru. Kekurangan film ini adalah pendalaman ceritanya lemah dan karakter setiap tokohnya gak kuat. Selain itu juga, suasana film seolah plin-plan, setelah diawal udah serem, semakin ketengah malah jadi film drama, semakin kebelakang kembali ke jalur horor lagi, akhirnya jadi kurang maksimal.


     |VISUAL| Kejernihan gambarnya bagus, anglenya juga lumayan, tapi sayang pemilihan shot untuk dipakai itu kurang greget. Banyak scene yang potensial untuk dibuat lebih seru shotnya, di editingnya juga perlu lebih dirapikan. Terutama di saat-saat tegang dan kemunculan hantu.


     |AUDIO| Ini salah satu komponen yang paling buruk. Style musiknya udah ala-ala horor jadul yang tinggal ngambil rekaman yang udah ada. Kayak suara orang mendesah, suara cewek ketawa, dan suara yang malesin lainnya. Semua jenis audio dari musik ilustrasi, soundeffect, voleynya juga lemah, trus dubbingnya juga gak pas. Walaupun memang tujuan ngagetinnya tercapai sih, tapi sayang aja kalau musiknya gak fresh.


     |ACTING| Dimas Seto kembali ke layar lebar, dan di film ini dia berhasil membawakan perannya sebagai Yudo. Terutama pas adegan berdua sama Myrna, Dimas bisa dapet chemistrynya. Good job!


     Ririn Dwi Aryanti sebagai Sofia berperan rapi, walaupun gak banyak peran yang dimainkan, tapi dia berperan dengan meyakinkan. Andaikan karakter dia diungkap lebih dalam lagi di film, pasti bakal lebih dapet feelnya.


     Ririn Ekawati sebagai tokoh utama, Myrna, jadi bukti karakter tiap tokoh di film yang gak kuat. Di awal dia digambarkan sebagai sosok yang baik, tapi dibelakang jadi berbeda. Awalnya dia takut, tapi di belakang dia jadi pemberani, kan aneh. Nampaknya ini bukan twist yang direncanakan pembuat film, tapi memang pengkarakteran tokoh yang gagal. Diluar itu semua, Ririn berhasil memerankan Myrna dengan baik. Salut juga dia bisa menjalin chemistry bagus dengan Dimas Seto.
     

     |KESIMPULAN| Terlepas dari konsep cerita dan musik yang jadul, Film Dejavu : Ajian Puter Giling berhasil menunaikan tugasnya untuk menghibur penontonnya dengan memberikan efek kaget dan ketakutan. Kualitas akting aktor dan aktrisnya juga bagus. Poin plus lain film ini adalah unsur lokal yang dimasukkan, yaitu mitos Ajian Puter Giling. #BanggaFilmIndonesia

0 komentar:

Post a Comment

Newest Review

Review Film Berangkat (2017) : Ringan, Seru dan Asyik

         Sutradara terkesan sebagai pekerjaan seorang cowok, namun pada kenyataannya gak selalu seperti itu. Naya Anindita membuktikannya...

Popular Review

Followers

 
Copyright © 2016 Riza Pahlevi