Home » , » Review Film Melancholy is A Movement (2015) : Ngajak Penonton Mikir

Review Film Melancholy is A Movement (2015) : Ngajak Penonton Mikir


     Biasanya Joko Anwar cuma berada di balik layar. Beberapa filmnya, Kala, Pintu Terlarang, dan Modus Anomali, telah mengambil hati banyak penonton. Tapi bukan kali ini aja Joko berperan sebagai pemain, seperti Madame X, Demi Ucok, dan Sebelum Pagi Terulang Kembali, dia juga berperan disana. Tapi baru di Film Melancholy is A Movement lah, Joko Anwar sebagai pemeran utama. Tapi apakah film ini juga menjadi yang utama di hati penonton?


     |POSTER & TRAILER| Gak spesial sebenernya. Kalau dibilang simpel sih gak terlalu. Bagus banget, juga enggak. Grayscale pula komposisi warnanya. Jadi kayak film dokumenter malah kesannya. Tapi kalau komposisi dan bentuk-bentuk fontnya bagus. Lumayan menandakan ini film mikir.


     Cuplikan scene yang dirangkai dan disatukan menjadi sebuah trailer, berhasil membawa pesan "menggoda" buat calon penonton. Lagi-lagi karena Joko Anwar, main character yang jadi point of interest, berhasil menampilkan ekspresi dan dialog yang menarik. Apalagi jika penonton lumayan mengikuti perjalanan karier Joko Anwar di dunia nyata, pasti akan tertarik dengan film ini, karena jalan ceritanya mirip dengan jalan hidup Joko Anwar.


     |CERITA| Film ini butuh diberi "perlakuan" yang spesial, karena ini film mikir, alias penonton diajak untuk berpikir dalam mencari penyelesaian masalah, atau untuk tau masalah yang lagi dibahas. Penuh teka-teki dan metafora dalam sepanjang jalan cerita. Sampai saat aku nulis review ini juga, udah lumayan banyak "pintu" yang terbuka, walaupun masih ada teka-teki yang belum terpecahkan.


     Kelemahan di film ini, gak semua "simbol" yang ditampilkan, punya "jawaban simbol" di dalam film pula. Sedangkan di film-film serupa, "simbol-simbol" itu memiliki "jawaban" pula, walaupun gak selalu langsung dimengerti, setelah film selesai ditonton. Jadi emang butuh banget banyak refrensi buat nonton film ini. Lumayan bagian yang terlalu penting sih, jadi terkesan film pendek yang dipanjang-panjangin, trus jadi film panjang. 


     |VISUAL| Beberapa angle shot termasuk antimainsteam, itu cukup berani dan keren. Tapi lumayan banyak juga angle yang standart dan membosankan. Kelemahannya juga banyak yang gak fokus, ini ganggu banget. Yang lucu juga saat adegan pukul-pukulan siluet di bagian akhir, keliatan banget kalau gak dipukul beneran, padahal kan udah pake siluet.


     |AUDIO| Scoringnya lumayan asik, bisa menggugah mata penonton untuk detail di setiap gambar yang di tampilkan. Tapi voleynya gak rapi, ada yang "terlihat" kalau itu effect buatan, jadi kurang natural.


     |ACTING| Joko Anwar banyak berperan datar. Ya memang tuntutan naskahnya gitu sih. Tapi entah kenapa, pesan dari "kedatarannya" kurang sampai ke penonton. Jadi semacam kelewat lempeng.


     Ario Bayu jadi pemeran pembantu yang lumayan banyak scenenya, berperan kadang bagus, kadang aneh. Terlihat dibuat-buat dan jadi gak natural akhirnya

.
     Amink, Fachry Albar, Karina Salim, Alex Abbad, Verdi Solaiman, Renata Kusmanto, Hannah Al Rashid, Aimee Saras, dan Upi, merupakan jajaran aktor dan aktris terkenal yang terlibat "sekilas" di Film Melancholy is A Movement. Karena gak ada pendalaman karakter, akhirnya berdampak ke akting yang gak spesial pula. Walaupun keberadaan mereka itu, memang sangat penting, karena berkaitan erat dengan "kode-kode" film.


     |KESIMPULAN| Film karya Sutradara Richard Oh ini sukses membuat penonton untuk berpikir. Tapi berpikir ala Richard. Bagi yang tidak, memang harus banyak kepo dari kode-kode yang sudah diberikan, biar tau maksud dari film ini. Memang kalau belum paham, kebanyakan bilang film ini aneh, tapi kalau udah paham, pasti akan ketawa-ketawa sendiri, karena kamu sukses memecahkan teka-tekinya. #BanggaFilmIndonesia

0 komentar:

Post a Comment

Newest Review

Review Film Berangkat (2017) : Ringan, Seru dan Asyik

         Sutradara terkesan sebagai pekerjaan seorang cowok, namun pada kenyataannya gak selalu seperti itu. Naya Anindita membuktikannya...

Popular Review

Followers

 
Copyright © 2016 Riza Pahlevi