Home » , » Review Film Guru Bangsa Tjokroaminoto (2015) : Pemimpin Cerdas itu Wibawa

Review Film Guru Bangsa Tjokroaminoto (2015) : Pemimpin Cerdas itu Wibawa


     Tren film sekarang itu film sejarah. Mulai dari Sang Pencerah, Soekarno, hingga Guru Bangsa Tjokroaminoto (GBT). Mengingat juga, tokoh Tjokroaminoto ini lahir di era 1800 akhir - 1900 awal, yang dokumentasi tentang mereka juga minim. Tapi apakah dengan alasan-alasan itu, proyek Film GBT ini sekedar film tren?


     |POSTER & TRAILER| Untuk ukuran poster film, GBT posternya biasa, gak ada yang spesial. Ada tokoh central di tengah dengan porsi besar. Ada beberapa tokoh pembantu dengan ukuran yang lebih kecil. Plus dikasih beberapa potongan-potongan gambar untuk menambah situasi diposter. Tapi untuk font dan pewarnaan yang dipakai di "GURU BANGSA TJOKROAMINOTO" terlihat keren.


     Trailer GBT bisa memberikan sedikit senggolan "kegagahan" sosok Tjokroaminoto yang memang menjadi topik utama di film ini. Selain itu juga, cuplikan aktivitas tokoh pembantu lainnya, yang menambah penasaran penonton terhadap sosok Tjokro sendiri. Karena nama beliau yang "Besar" aja, udah lumayan cukup untuk dijadikan alasan nonton film ini.


     |CERITA| Film dengan durasi sekitar 160 menit memang jarang di Indonesia, utamanya yang untuk konsumsi bioskop. Beberapa film seperti 99 CDLE dan KCB memilih untuk dibagi menjadi 2 sekuel. Sedangkan GBT tidak. Gaya penceritaannya cukup beda. Kadang ada scene-scene yang penting, hanya muncul sebentar. Tapi ada scene yang sebenernya gak harus ada pun gak papa, malah muncul beberapa kali. Kalau adegan-adegan itu hilang, film ini tak akan selama itu.


     Sosok Tjokroaminoto memang tidak akan selesai dibahas pada 160 menit itu. Tapi bukan berarti, pembuat film harus memberi jarak penceritaan yang panjang, sehingga durasi jadi panjang juga. Mulai dari Tjokro kecil hingga di ending saat Tjokro di penjara. Konflik yang dihadirkan juga lumayan pelik dan banyak. Dialog dengan bahasa yang butuh pemahaman "lebih", tapi dibawakan secara cepat. Akhirnya banyak penonton yang "ketinggalan" mengikuti dalam menyerap maksud cerita.


     |VISUAL| Kalau gambar, gak perlu diraguin lagi. Angle, shot yang diambil, tata lighting, penggambaran suasana dengan elemen-elemen disekitarnya disajikan apik. Properti, wardrobe, make up juga natural banget, seolah-olah ada dijaman itu. Hanya saja sudut pengambilan gambar jadi lumayan sempit, karena memang setting lokasi yang gak semuanya "kuno", jadi harus hati-hati. Editing yang mendadak waktu pindah scene, juga menganggu, apalagi pas habis scene tegang, tiba-tiba ke scene bahagia, feelnya turun jadinya.


     |AUDIO| Waktu baca di credit title yang ngurusin musiknya itu Andi Rianto, ya pantessss keren abis. Suasana terbangun nyata banget lah, terutama pas adegan-adegan yang butuh ketegangan maksimal, wuihh itu penontonnya pada kebawa tegang semua. Mantab!


     |ACTING| Bingung dari Reza Rahadian apalagi yang mau direview. Dia selalu bermain mengesankan disetiap film yang dimainkan. Pembawaan karakter juga bagus di film ini, dan gak terlihat Reza Rahadian yang berperan selain sebagai Tjokro, maksudnya dia gak kebawa peran-peran yang pernah ia bawakan sebelumnya.


     Chelsea Islan berperan bagus, cuma ya aku berasa ngeliat dia masih kebawa peran-peran yang kemarin. Aku masih melihat Merry Riana disana. Christine Hakim bermain baik juga, cocoklah karakternya, mungkin cuma aku aja masih terbayang-bayang saat beliau berkelahi di Film Pendekar Tongkat Emas, sedangkan disini dia jadi nenek kalem. Didi Petet keluarnya gak banyak sih, tapi berarti aktingnya.


     Ibnu Jamil juga berperan mengesankan di perannya sebagai Agus Salim, wibawanya dapet. Maia Estianty bermain cantik, apalagi auranya terpancar waktu main piano dan nyanyi. Deva Mahenra ini sebagai tokoh Koesno (Soekarno), saat berpidato dan beberapa scene, keren, tapi beberapa lain, dia kurang kuat mendalami Soekarno. Putry Ayudya sebagai Suarsikin, alias istri Tjokro, berperan halus, lancar, dan terlihat natural. 

    
     Ade Firman Hakim, Alex Abad, Alex Komang, Christoffer Nelwan, Egy Fedly, Sujiwo Tejo, Tanta Ginting, dan sederet pemain-pemain kecil lainnya bermain bagus, mendukung suasana film dengan baik. Aku kagum sama penjual kursi, mbak Toen, tokoh Belanda gendut makan pisang, sama paduan suara, mereka pecahhhh abis =))



     |KESIMPULAN| Sebuah paket tontonan hiburan yang juga sebagai media belajar sejarah yang seru. Walaupun memang harus diakui, setiap penonton setidaknya memiliki basic tentang cerita Tjokroaminoto, untuk bisa mengikuti alur cerita film yang serba cepat, dan beberapa kali maju-mundur. #BanggaFilmIndonesia


2 komentar:

  1. Eh gilak udah main dot com aja kamu za hahaha smg buru ada yg nawarin km jd movie reviewer ya kan lumayan

    ReplyDelete

Newest Review

Review Film Hujan Bulan Juni (2017) : Film dalam Balutan Puisi

     Hujan Bulan Juni, awalnya adalah novel karya Sapardi Djoko Darmono yang telah terbit sejak tahun 1994. Di tahun 2017 ini, Hestu Sa...

Popular Review

Followers

 
Copyright © 2016 Riza Pahlevi