Home » , » Review Film Tes Nyali (2015) : Mending Nonton TV

Review Film Tes Nyali (2015) : Mending Nonton TV


     Film Tes Nyali, datang dengan membawa premis cerita yang cukup menarik. Tentang fenomena acara televisi yang menguji nyali peserta untuk berdiam diri dan berinteraksi dengan makhluk halus di lokasi angker. Program TV "Uji Nyali" inipun, sukses meraih banyak penonton, walaupun pembuat antara acara TV yang sungguhan ada, dengan film ini berbeda. Apakah Tes Nyali bisa mendulang kesuksesan program TV yang udah ada terlebih dahulu?


     |POSTER & TRAILER| Posternya gak niat banget, Cuma capture-an dari film, itu aja resolusinya pecah. Cara ngeceknya, bandingin aja sama gambar tuyul tempelan di jendela bagian kanan sama kuntilanak yang kesepian di belakang kiri. Pemilihan jenis dan warna font juga buruk, makanya beberapa tulisan gak terbaca dengan baik, bahkan setelah di zoom. Gak meyakinkan sebagai sebuah film layar lebar dan tidak layak.


     Trailer nasibnya gak jauh beda sama poster. Dibuat dengan alur yang gak jelas. Di beberapa bagian, niatnya mau nakutin, tapi malah fail gara-gara soundeffect ngagetin yang gak jelas, dan hening yang gak pas. Tapi seenggaknya bisa sedikit, membuat penasaran, karena tertolong premis cerita yang bagus.


     |CERITA| Gak tau harus gambarin seperti apa cerita di film ini. Premis cerita yang ditawarkan bagus, namun dirusak oleh eksekusi produksi yang buruk. Entah itu cerita keseluruhan, naskahnya, tokohnya, dialognya, setiap adegannya, plotnya, hingga alurnya yang gak jelas.


     |VISUAL| Buruk. Kamera goyang kemana-mana. Shot standart dan itu-itu aja, gak ada inovasi. Editing gak jelas. Gak bisa bedain "kamera film", "kamera yang dibawa cast", dan "kamera cctv". Goyang segala tempat. Gak bisa bedain juga antara video di realtime, dan saat flashback. Ploting tempat dan termasuk juga urutan cerita, gak dikuasai oleh naskah, jadi ngeditnya loncat-loncat, membuat penonton bingung. Bahkan kamera juga tidak memenuhi kebutuhan penonton untuk mengamati setiap percakapan yang ada, dan akhirnya timbul celotehan "Ini yang ngomong siapa sih?".


     |AUDIO| Gak jauh beda sama visualnya. Entah dubbingnya, soundeffectnya, scoringnya, jelek semua. Pas ada hantu, musiknya kaget-kagetan. Suara hantunya, anak kecil, dan dialog antar tokohnya gak alami, keliatan banget tempelan. Suara voley juga cuma dibuat "sekedar ada" biar greget, tapi hasilnya... bikin penonton geregetan banget.


     |ACTING| Esa Sigit yang menjadi "jualan" film inipun, tak menunjukkan akting yang bermakna. Apalagi pemain yang lain, seperti Tamara Tyasmara, Wafda Saifan, Jessica Hadipranata, maupun Ilvi Rahmi. Mungkin mereka belum mengeluarkan kemampuan akting dengan maksimal, karena dari naskahnya sendiri, gak matang. Jadi sia-sia kemampuan mereka, mungkin.


     |KESIMPULAN| Masih terlalu cepat untuk Sutradara Vijei Al Fajr untuk membuat film layar lebar. Begitu juga dengan seluruh crew dari semua departemen. Harapan kedepannya, semoga premis cerita yang bagus seperti ini, bisa dieksekusi dengan bagus juga. #BanggaFilmIndonesia


0 komentar:

Post a Comment

Newest Review

Review Film Hujan Bulan Juni (2017) : Film dalam Balutan Puisi

     Hujan Bulan Juni, awalnya adalah novel karya Sapardi Djoko Darmono yang telah terbit sejak tahun 1994. Di tahun 2017 ini, Hestu Sa...

Popular Review

Followers

 
Copyright © 2016 Riza Pahlevi