Home » , » Review Film Love & Faith (2015) : Rio Dewanto Begitu Memukau

Review Film Love & Faith (2015) : Rio Dewanto Begitu Memukau


     Film Love & Faith membawa suasana yang berbeda ke bioskop Indonesia di awal Tahun 2015 ini. Membawa setting waktu jadul *baca: jaman dulu, dengan latar Sunda kental dan membawa slogan "terinspirasi dari kisah nyata", membuat film ini menarik. Tapi, apakah filmnya menarik?


     |POSTER & TRAILER| Posternya sedikit banyak menggambarkan isi film yang vintage. Simpel konsepnya, ada potrait dua tokoh utama, Rio Dewanto (Kwee Tjie Hoei) dan Laura Basuki (Lim Kwei Ing) sebagai fokus utama. Dibelakangnya diberikan aksen gedung-gedung tua dan coloring utama poster berwarna kusam bisa menggambarkan setting waktunya secara baik dan tidak terlihat kuno.


     Trailernya Film Love & Faith memang kena banget buat jadi media promo film ini. Bisa memberikan cuplikan visual yang asyik, dialog yang greget tanpa spoiler, dan di support sama original soundtrack yang melow abis, Armand Maulana & Dewi Gita - Seperti Legenda, bikin pecahhh.


     |CERITA| Cerita di film ini cukup kompleks. Banyak masalah yang diangkat, ada yang terselesaikan dengan baik, tapi ada yang tanggung, termasuk ending filmnya yang diakhiri dengan begitu "mudahnya". Efeknya, penonton bingung, mana fokus konflik utama film ini. Kalau dilihat dari judul "Love & Faith", cinta bukan menjadi masalah utama, karena berjalan mulus-mulus aja. 


Kalau soal keyakinan, mungkin maksudnya, konflik-konflik yang ada di film ini, akan terselesaikan dengan "keyakinan", tapi kayaknya kurang pas penjudulan film ini. Nampaknya, jika konflik perbankan dibuat sebagai masalah utama, film ini akan lebih menarik, dengan judul yang bersangkutan dengan bank. Apalagi melihat cerita yang terinspirasi dari kisah nyata pengusaha perbankan.


     |VISUAL| Secara umum, film dengan latar jaman dahulu ini berhasil membuat artistic dan segala property vintage yang asik dan gak terkesan kuno. Penggarapannya cukup detail, tapi ada masih ada beberapa terlewatkan. Seperti hal-hal lucu, salah satunya di scene saat Rio meminta tolong ke jendral kalau gak salah, setelah dia mengalami musibah. Atau masalah tulisan penanggalan yang beberapa kali muncul, terkadang logikanya gak masuk. Kalau gak salah lihat dan baca, saat 1945 dia SD, kemudian 1959 dia menikah, dan saat 1961 dia udah punya 2 anak umur SD, kan lucu.


     Mungkin karena lokasi yang "kuno" itu terbatas, akhirnya banyak lokasi yang sama digunakan berulang-ulang. Atau cara lain dengan menggunakan greenscreen seperti saat di kaca dalam mobil dan di salah satu scene dibagian akhir, lumayan bagus sih, tapi masih belum halus.


     |AUDIO| Seperti di film-film lain, original soundtrack menjadi salah satu hal yang bikin film tambah greget. Film ini punya Armand Maulana & Dewi Gita - Seperti Legenda, yang udah bikin merinding waktu nonton trailer. Tapi sayangnya, lagu potensial ini cuma dijadikan sebagai "tempelan audio" di bagian belakang, dan buat pengantar credite title. Sedangkan dubbing di banyak lokasi, gak singkron antara gerakan mulut pemain dan audio yang keluar. Scoringnya bagus, bisa membangun suasana didalam film, walaupun gak jadi spesial sih.


     |ACTING| Rio Dewanto bener-bener AMAZING! Gak tau kata apa yang bisa nggambarin gimana aktingnya yang menakjubkan. Kemampuan akting Rio Dewanto benar-benar dikuras abiss sama film ini. Mulai dari berkating jadi orang "lama", orang Sunda, marah, nangis, cinta, emosi-emosi yang gak bisa di-spoiler dan wuiiih keren abiss! Aktor jempolan nih Rio Dewanto, so proud!


     Laura Basuki dan Dyon Wiyoko (Kwee Tjie Ong) menjadi jajaran pemain yang aktingnya terbukti keren setelah Rio Dewanto. Mereka berdua bisa meyakinkan penonton saat mereka menjadi murid sekolah, menjadi dokter, hingga menjadi istri yang selalu menguatkan suaminya.


     Fery Salim, Verdy Solaiman, dan jajaran pemain pembantu lainnya berperan dengan bagus dan mendukung baik pemain-pemain utama. Tapi, pemain-pemain "kecil", seperti buruh demo, nasabah bank, menjadi pemain yang cukup menganggu. Karena gak semua bisa "berakting", akhirnya jadi lucu dan mengganggu mood penonton.


     |KESIMPULAN| Suguhan visual yang vintage yang keren dan cerita yang cukup menantang. Ditambah akting Rio Dewanto yang sangat memukau dan lagu Seperti Legenda milik Armand Maulana & Dewi Gita, yang terngiang . Menjadi alasan kuat untuk ke bioskop untuk membeli tiket film ini. Walaupun harus siap-siap keluar bioskop dengan membawa ending film yang nanggung. #BanggaFilmIndonesia

0 komentar:

Post a Comment

Newest Review

Review Film Berangkat (2017) : Ringan, Seru dan Asyik

         Sutradara terkesan sebagai pekerjaan seorang cowok, namun pada kenyataannya gak selalu seperti itu. Naya Anindita membuktikannya...

Popular Review

Followers

 
Copyright © 2016 Riza Pahlevi