Home » , » Review Film Kampung Zombie (2015) : Sensasi Dikejar Zombie di Bioskop

Review Film Kampung Zombie (2015) : Sensasi Dikejar Zombie di Bioskop


     Sudah lama Indonesia gak punya film bertemakan zombie. Nampaknya, celah inilah yang dipikir Billy Christian, sang sutradara, untuk memproduksi Film Kampung Zombie. Beberapa pemain film inipun, diisi oleh jajaran cast yang lagi booming, seperti El Jalaludin Rumi dan Axel Matthew Thomas. Apakah senjata-senjata itu, mampu untuk membawa penonton ke bioskop?



     |POSTER & TRAILER| Posternya cukup simpel secara tata letak dan font, tapi poster ini justru terkesan "berkelas" karena spesial efek make up yang digunakan di film, di tampilkan di poster. Menjadi daya tarik tersendiri, ketika calon penonton sudah bisa "mengintip" zombie yang akan mengejarnya di bioskop nanti.


     Trailernya bisa mengantarkan penonton untuk beberapa langkah semakin penasaran setelah melihat posternya. Memperlihatkan beberapa cuplikan adegan, ekspresi, dan visual yang seru didalamnya, membuat trailer Film Kampung Zombie menarik.


     |CERITA| Secara cerita simpel sih film ini, bahkan memang terlalu simpel. Film Kampung Zombie fokus mengeksplore adegan-adegan yang bisa bikin penonton tegang, cemas, takut sama zombie bahkan dari film dimulai dan terus meningkat hingga akhir, dan film ini berhasil melakukan itu. Walaupun kekurangan film ini, kurang mendalami sisi ceritanya, seperti gimana seorang manusia bisa jadi zombie, apakah zombie bisa mati, maupun pendalaman karakter tiap tokoh yang ada.


     |VISUAL| Udah keren lah visualnya, apalagi make up dan wardrobe zombienya yang gak perlu diraguin seremnya. Artistik dan properti juga mendukung film ini semakin horor. Minusnya cuma di lighting. Mungkin karena lokasi di hutan, yang aslinya gelap banget, jika kurang pas mensiasatinya, jadinya kelihatan kalau di kasih "lampu".


     |AUDIO| Scoringnya memang menonjol di ngagetin sih, tapi seajuh film berjalan gak menganggu, bahkan bisa bikin penonton benar-benar merasakan pesan "takut" yang disampaikan film. tapi memang kalau scoring digarap lebih maksimal, pasti akan lebih baik. Karena ada juga yang sedikit memaksa, seperti saat musik tiba-tiba menjadi ala-ala drama sedih, padahal sebelumnya horor abiss. Karena adegan yang cukup mengharukan di film horor, musiknya gak harus seperti film drama melow.


     |ACTING| El Jalaludin Rumi memang belum memiliki kemampuan akting yang mumpuni, walaupun dia juga pernah bermain di sinetron striping beberapa waktu lalu. Tapi dia beruntung, aktingnya lumayan ditolong rekan pemainnya.


     Axel Matthew Thomas membawakan karakternya didalam film dengan cukup baik. Beberapa adegan yang cukup menantang, juga sanggup dimainkannya. Tapi sedikit kurang greget, akan lebih bagus kalau dia mendalami sedikit lagi karakternya.




     Ali Mensan juga berhasil menjadi tokoh ketiga sebagai pihak yang menyetok ketegangan lebih untuk film ini, dan sedikit bumbu komedi tentunya. Kia Poetri juga sukses membawakan karakternya, walaupun di beberapa scene dia terlihat kurang meyakinkan.


     Luthya Sury berada di level akting paling baik dibanding yang lain, walaupun di bagian awal film, dia belum menunjukkan kemampuan akting yang wow. Tapi semakin ke part akhir film, peningkatannya baik. Dia juga begitu menjiwai dan merasuk kedalam tokohnya.


     Salut juga untuk seluruh zombie-zombie yang jumlahnya tak terhitung itu. Kalian keren dan gak bikin penonton hilang konsentrasi atau ketawa ketika diberi "frame" yang isinya pemain extras. Karena dibeberapa film, akting-akting dari "rakyat kecil" dalam film, terkadang menganggu karena akting yang kurang mumpuni.


     |KESIMPULAN| Kalau kamu pengen ngerasain dikejar zombie didalam studio layar lebar? Billy Christian beserta teamnya sudah membuatkan sistemnya untukmu, yaitu tontonlah Film Kampung Zombie bioskop. Diluar dari kekurangan film, kamu bakal tetep disuguhi tontonan yang menegangkan. #BanggaFilmIndonesia

0 komentar:

Post a Comment

Newest Review

Review Film Berangkat (2017) : Ringan, Seru dan Asyik

         Sutradara terkesan sebagai pekerjaan seorang cowok, namun pada kenyataannya gak selalu seperti itu. Naya Anindita membuktikannya...

Popular Review

Followers

 
Copyright © 2016 Riza Pahlevi