Home » , , » Review Film Pendekar Tongkat Emas (The Golden Cane Warrior)

Review Film Pendekar Tongkat Emas (The Golden Cane Warrior)

     Bulan Desember ini ada banyak film menarik untuk ditonton dan sangat dinantikan oleh banyak pencinta film Indonesia, salah satunya adalah Pendekar Tongkat Emas. Lagi-lagi karya produksi dari Mira Lesmana ini membuat gebrakan dalam dunia film Indonesia. Menghadirkan film dengan tema silat kolosal, yang sudah lama gak tersentuh oleh film maker Indonesia. Salut! Menggandeng Ifa Isfansyah untuk menajadi sutradara dalam film ini, aku pikir ini pilihan yang tepat, kenapa? Simak terus...

Poster dan Trailer

     Pendekar Tongkat Emas memiliki beberapa seri poster film, mulai dari banyak pemain yang terlihat, cuma berdua, hingga satu tokoh saja yang terlihat. Nuansanya hampir sama semuanya, menggambarkan film ini secara apik. Poster yang disebelah ini, yang pemainnya paling banyak, dan yang banyak di pasang di situs-situs bioskop terkenal. Menggabungkan antara photo dan effek animasi, pencahayaan yang pas, dengan pose sesuai dengan dengan karakternya masing masing. Keren dan membuat tertarik ingin nonton! Ditambah karena film jenis ini, bisa dibilang "terlahir kembali", membuat penonton yang kangen dengan film ini, menjadi daya tarik lain yang kuat.
     Trailer menggambarkan beberapa potongan adegan film dengan pas, gak terlalu spoiler, dan berhasil "menggeret" penonton untuk takjub dan datang ke bioskop. Sip!

Film

     Film ini dimulai dengan eksotika sabana di Sumba yang Subhanallah banget *,* habis itu mulai dengan pengenalan tokoh, dimulai dari Pendekar Tongkat Emas alias Cempaka yang dimainkan secara keren oleh Christine Hakim, dan disusul oleh pengenalan yang lain dan permulaan cerita.
     Penceritaan di film ini berjalan dengan cukup cepat naik, sedikit turun, dan naik lagi, turun lagi, dan memuncak di ending, dibawakan dengan sangat baik, berhasil mengombang-ambingkan emosi penonton yang bisa membuat penonton tidak beranjak dari kursinya.
     Secara visual, wuihhh ini keren abiss! Jernih, angle-angle yang diambil bisa mewakili keindahan Sumba secara makro hingga mikro. Cutting dalam editingnya juga keren, termasuk juga saat adegan  berkelahi, Namun aku pikir, pergerakan kamera saat berkelahi terlalu cepat, sehingga penonton tidak diberi ruang untuk bisa menikmati keindahan koreografi silat yang disajikan, mungkin hal ini untuk mengurangi resiko stuntman yang terlihat, ini perkiraanku sih. Tapi adegan berkelahi tetap bisa dinikmati kok. Apalagi dibagian ending, wow banget, spektakuler!
     Walaupun sudah keren, tapi sedikit sayang sih, banyak shot yang di ambil dari atas dan statis, kenapa gak menggunakan helicam, kan keagungan Sumba bisa lebih di jelajahi dan lebih memanjakan mata. Banyak juga shot pakai timelapse, sebenernya bisa kebih keren lagi kalau pakai hyperlapse.
     Dalam beberapa adegan, effect animasi juga dipakai di film ini. Seperti darah dan juga batu, beberapa terlihat natural, tapi beberapa terlihat cukup "animasi", sedikit menganggu sih, tapi gak terlalu merusak feel nonton kok.
     Film ini memang sangat detail untuk segala sisi, salah satunya di bagian visual, adalah saat adegan Dara (Eva Celia) mengintip Elang (Nicholas Saputra) sedang berkelahi melalui sela-sela pagar, adegan berkelahi itu tetap terlihat di bola mata Dara. Padahal terkadang, film maker luput untuk hal-hal detail seperti ini. Sekali lagi salut!
     Audio di film gak perlu diragukan lagi. Segala pergerakan yang ada, diberikan soundeffect dan pakai valley yang tepat. Musik latar juga dibuat begitu megah, dan tepat situasi. Soundtrack film ini, yang dinyanyikan oleh Anggun C Sasmi juga menyentuh banget, ikut membangun suasana di film ini.
     Tapi sayangnya, ada satu yang miss di film ini, kecil sih, tapi bagi orang yang tau, ini lumayan ganggu. Yaitu saat Biru (Reza Rahadian) dan Gerhana (Tara Basro) berada di kuburan, saat akan pindah scene, terlihat setelah mereka berbincang untuk beberapa saat, dan mulut Gerhana masih berbicara, sedangkan pembicaraan mereka sudah selesai, dan tidak ada audio yang keluar.
     Kalau disuruh milih, siapa yang aktingnya paling keren di film ini, aku bingung! Karena semua pemainnya keren! Semuanya mengerjakan tugasnya dengan sangaaaat baik! Tapi satu yang aku kagumi dari Tara Basro saat memerankan tokoh Gerhana, mukanya juga mendukung banget, sadis! Sedangkan Eva Celia menjadi Dara, sikapnya mencerminkan cewek polos yang disuruh untuk "perang" itu, dapet banget juga! Nicholas sebagai Elang, berhasil menjadi tokoh misterius yang membuat penonton penasaran pada sosoknya. Reza Rahadian jadi Biru, cocok jadi antagonis memang! Christine Hakim memerankan Cempaka, wuihh oma yang satu ini masih sangat enerjik sekali melakoni adegan-adegan silat di film ini. Aria Kusumah yang berperan sebagai Angin, juga berakting dengan cantik, karakternya pas. Semua pemainpun, menjalankan aksi laga dan koreo silatnya secara rapi, keren banget lah!

     Satu lagi yang aku applause dari film ini, penggunaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar, kagum aku 0,0 bisa di ucapkan dengan pas dan situasi yang tepat. Salut juga untuk penulis skenarionya.
     Terakhir kali aku ucapkan salut untuk seluruh crew dan pemain yang terlibat di dalam produksi film ini, terima kasih telah membuat karya yang indah :')
     Nampaknya setelah muncul film ini, bakalan ada banyak film-film sejenis yang muncul di layar bioskop di Indonesia. Mau apapun yang terjadi, mari BANGGA FILM INDONESIA!
     #nontonPTE

Rating : 4.5/5

2 komentar:

Newest Review

Review Film Berangkat (2017) : Ringan, Seru dan Asyik

         Sutradara terkesan sebagai pekerjaan seorang cowok, namun pada kenyataannya gak selalu seperti itu. Naya Anindita membuktikannya...

Popular Review

Followers

 
Copyright © 2016 Riza Pahlevi