Home » , , » Review Film Kukejar Cinta ke Negeri Cina

Review Film Kukejar Cinta ke Negeri Cina


     Hai pecinta Film Indonesia!

     Awal Bulan Desember yang indah kali ini, diwarnai dengan hadirnya banyak film yang keren-keren dan hadir di beberapa genre. Sebut saja 2 film baru yang mengisi slot layar bioskop di Indonesia pertanggal 4 Desember kemarin, ada Danau Hitam karya Jose Poernomo dan Kukejar Cinta ke Negeri Cina karya Fajar Bustomi. Kesempatan pertama film yang aku tonton kali ini adalah Kukejar Cinta ke Negeri Cina.


     Poster dan Trailer

     Poster Film Kukejar Cinta ke Negeri Cina pakai foto dengan setting di Tembok Besar Tiongkok, salah satu dari 7 keajaiban di dunia, yang juga sekaligus sebagai penguat dari judul film ini yang menggunakan kata "Negeri Cina". Memang Cina sangat identik dengan temboknya ini. Diatur dengan komposisi, coloring dan porsi yang pas, poster ini cukup menggambarkan isi film secara umum. Menarik juga karena bisa menghadirkan suasana yang berbeda di tembok Cina ini, yaitu nuansa Islami dengan menghadirkan tokoh Chen Jia Li yang menggunakan hijab. Ditambah dengan huruf karakter Cina dan Arab yang ditambahkan disekitar judul utama Kukejar Cinta ke Negeri Cina.
     Trailer film ini juga mewakili secara keseluruhan. Beberapa quotes yang keren yang ada didalam film, di munculkan dalam trailernya, inilah kekuatan atau "jualan" dari trailer ini. Salah satunya adalah "Urusan sama Tuhan aja mesti diingetin, apalagi urusan sesama manusia". Walaupun beberapa quotes sudah dibeberkan di trailer, tapi jangan khawatir, masih banyak quotes keren yang disiapkan bagi penikmat film ini.

     Film

     Intermezzo aja nih, kalau film ini merupakan adaptasi dari novel dengan judul yang sama, ditulis oleh Ninit Yunita. Aku sendiri belum baca buku ini, jadi aku gak bisa bandingin film ini dengan bukunya, karena memang, selain aku belum baca, karya buku dan film itu berbeda, sekalipun karya adaptasi.
     Film ini dibuka dengan setting di Indonesia, fokusnya ada di Kota Semarang. Kondisi ini bertahan hingga sekitar 3/4 bagian film. Sedangkan 1/4 bagian akhir dihabiskan dengan latar di Cina. Aku pikir, si pembuat film memang tidak "memanfaatkan" Cina sebagai jualan utama, seperti di sekuel Film 99 Cahaya di Langit Eropa, namun hanya sebagai penuntas tuntutan naskah saja. Bisa dibilang bagus karena tidak berlebihan, tapi juga sayang, karena masih banyak yang bisa dieksplore, terutama tentang kehidupan Islam di Cina.
     Kenapa aku bilang begitu? Karena pada umumnya, Cina memang bukan mayoritas umat Islam, dan di film ini, hanya ditunjukkan tokoh utama, Chen Jia Li, keluarganya, dan calon suaminya yang sangat Islami banget, ditengah budaya Cina yang kental. Gak dijelasin bahwa dia ada di semacam kampung Islam, atau hal-hal pendukung lainnya, mungkin karena alasan durasi. Tapi gak terlalu masalah juga memang.
     Secara visual, film ini menyajikan secara menarik, indah dan pas. Enak dipandang dan secara esktetika juga dapetlah. Beberapa shot diambil dari langit, pakai helicam kayaknya, itu juga menambak kesan megahnya, saat mengambil beberapa gambar, seperti di Tembok Besar Cina dan juga di Masjid Agung Semarang.
     Yang membuat aku terkesan dan menambah kewibawaan film ini tuh musiknya. Keren banget! Bisa menggabungkan antara musik rohani Islam yang pakai instrumen-instrumen musik Cina, perpaduan yang asyik dan menarik! Soundtracknya juga pas, pakai beberapa lagu religi milik Band Ungu. Aku suka lagunya yang aku lupa judulnya, yang jelas isinya itu dzikir. Ada juga pakai lagu "Andai Ku Tahu" yang sebenarnya bagus dan pas, tapi kalau menurut pribadiku, menggunakan lagu lama untuk soundtrack film itu, jadi membuat kesan film ini jadi "ketinggalan jaman", apalagi menggunakan lagu yang udah pernah digunakan oleh film lain. Yah, ini sekedar pendapat aku sih, hehe.
     Aku nonton film drama seperti ini, berharap bisa nangis. Bagiku, nangis adalah ukuran suatu cerita film berhasil merasuk ke aku atau enggak, seberapa cerita itu bisa berhasil aku tangkap. Tapi di film ini, aku gak sampai nangis. Tersentuh sih iya, cuma ya sekedar kagum aja. Sebenarnya di film ini, quotes-quotesnya itu keren, karena dekat dengan kehidupan sehari-hari, yang terkadang tidak kita sadari. Namun mungkin, pendramatisasi dari setiap adegan yang ada quotenya, kurang, akhirnya kesan yang aku tangkap, cuma sebentar, gak bertahan lama. Walaupun sampai sekarang, quotesnya masih aku inget.
     Oh ya, ada hal yang miss alias bocor di film ini. Bocor itu istilah di film kalau ada yang sesuatu yang gak sesuai dengan naskah, tapi hal ini bisa disadari maupun tidak bagi penonton film. Tapi di film ini, ada yang aku sadar, hehe. Masih di adegan awal, saat Imam yang diperankan oleh Adipati Dolken, mengantarkan undangan wisuda untuk Widya (Nina Zatulini), di shot awal, Imam terlihat menggulung lengan bajunya yang panjang, hingga se sikut, namun di shot selanjutnya, lengannya sudah panjang lagi, saat pindah shot lagi, lengannya sudah terlipat kembali, dan hal ini terulang beberapa kali, haha, cukup lucu bagi penonton yang sadar, hehe. Jadi keliatan, kalau adegan saat itu, diambil dari beberapa shot yang berbeda.
     Kalau akting dari film ini, Adipati Dolken menunjukkan keahlian akting natural yang seperti biasa ia lakukan. Nina Zatulini juga memerankan dengan cukup baik. Namun, yang bikin aku terkesan itu aktingnya Ernest Prakasa dan Eriska Rein. Ernest bisa berakting sebagai Billy selayaknya orang Cina yang lahir dari kecil di Jawa, dan ngomong Bahasa Jawanya dapet! Sedangkan Eriska Rein berhasil memerankan sosok Chen Jia Li, orang Islam Cina yang tidak lancar berbahasa Indonesia. Aku acungi jempol untuk kedua aktor dan aktris ini!
     Terima kasih udah mampir di catatanku ini. Aku share foto sama temenku, sebelum aku nonton film ini ya, hehe. Tonton terus dan cintai Film Indonesia!

Rating : 3.5/5

0 komentar:

Post a Comment

Newest Review

Review Film Hujan Bulan Juni (2017) : Film dalam Balutan Puisi

     Hujan Bulan Juni, awalnya adalah novel karya Sapardi Djoko Darmono yang telah terbit sejak tahun 1994. Di tahun 2017 ini, Hestu Sa...

Popular Review

Followers

 
Copyright © 2016 Riza Pahlevi