Home » , , » Review Film Rumah Gurita

Review Film Rumah Gurita



     Udah lama aku nungguin film ini, sejak pertama kali sutradara film ini, Jose Poernomo bilang sedang membuat film ini melalui akun twitternya @JosePoernomo. Dan akhirnya aku nonton di hari pertama film ini diputar, di jam penayangan ke duanya. Saat itu, satu studio yang bareng aku nontonnya, lumayan banyak, mungkin sekitar seperlima studio ada laaah, lumayan untuk siang-siang.


     Kesan pertamaku, dari media iklannya dulu ya, poster. Keren, simple, dan aku suka, haha, menarik buat menontonnya. Ada beberapa versi, kalau tidak salah dua. Yang ada Shandy Aulia, dan tidak, menurutku bagus yang ada. Cek aja posternya dibawah ini. Cuma satu aku yang kurang pas, pemilihan font Shandy Aulia dan Boy William, menurutku gak cocok, jadi gepeng juga.
     Trailer, menarik, banyak cuplikan adegan yang bikin penasaran, baik dari suasana, scenenya, gambarnya, maupun efek-efek tertentunya. Dia trailernya juga tanpa ada unsur horor yang ngagetin-ngagetin, malah cenderung romantis, yaa kecuali dibagian paling akhir.
     Film, sebelumnya, aku sudah lihat banyak foto saat shooting maupun hasil jadi foto film di akun instagram Jose Poernomo, aku akui gambarnya bagus jernih, vintagenya gaul abiss. Tapi, jujur, dari awal film aku terganggu sama coloring film, niatnya vintage, tapi malah merusak gambar. Bagusan efek coloring yang di trailer, gak merusak gambar. Waktu aku tanyakan ini ke temenku, dia juga setuju pendapatku.
     Mungkin karena film ini rada kejar tayang menurutku, melihat dari tanggal pembuatan hingga rilis yang ngebut banget, dan juga penulis naskahnya bukan om Jose langsung kayak di film-film sebelumnya, jadi dari logika ceritanya banyak yang gak logis, gak nyambung, dan aneh di beberapa tempat. Yaa, asal gak usah dipikirin dalem-dalem, santai aja, kamu tetep bisa menikmati filmnya kok.


     Genre horor romantis, ini keren. Menyajikannya dengan elegan, pas, dan gaya nakutinnya juga gak mainstream. Oh ya, kurangnya lagi ya, em... bukan kurang sih, tapi sayang aja menurutku, banyak efek-efek keren, kayak kursi terbang-terbang, kaca pecah, semuanya dibuat slow motion, tapi yooo jangan full slow motion lah. Lebih keren pake pola, normal-slow motion-normal, jadi ibarat naik motor itu, mau lewat polisi tidur, di rem dulu, baru nge-gas lagi, biar dinamikanya lebih greget dan efek kagumnya penonton lebih woww.
     Lagi-lagi Igor "Saykoji" dipercaya jadi penata musik disini setelah di Film Mall Klender, dan scoringnya kereen! Walaupun sebenernya aku kangen jenis-jenis musik Jose kayak di Film Oo Nina Bobo.
     Akting, jujur aku suka akting Shandy Aulia dan Boy William khususnya di film ini, walaupun aku baca di beberapa review bilang kalau akting mereka datar. Kenapa aku bilang bagus? Akting mereka, secara ekspresi, intonasi, pelafalan dialog, udah sesuai dengan plot cerita, karakter, dan bisa membangun suasana dengan baik. Shandy yang berperan sebagai anak yg memiliki indra keenam, begitu juga dengan Boy. Dengan settingan vintage tahun lama, dan kondisi sosial yang mereka temui. Gak sok-sokan mistis, tapi yaa keliatan natural. Walaupun terkadang ada beberapa kosakata yang kurang pas bagiku, jika dilihat dari seting waktu, entah itu dari naskah atau eksplorasi pemainnya sendiri. Seperti kata "gitu", aku pikir kosakata itu belum dipakai di tahun segitu.
     Bagi kamu yang masih terpaku dengan stigma "horor Indonesia itu, jual paha-dada" Pliss men, bro, sis, ini 2014! Udah ada Jose Poernomo gituuu, yang buat film horor gak kacangan, keren! Liat aja Film 308 yang ikut Festival Film Horor Screamfest di LA. Nah, mumpung Rumah Gurita masih tayang, buruan gih tonton. Sekarang updatean setelah satu minggu penayangan aja udah ada 197.206 penonton. 
     Bulan Desember ini, Jose juga akan mengeluarkan Film Horor barunya, judulnya Danau Hitam. Pastinya ini bakal keren! Cek aja poster dan trailernya.
     Salam Film Horor Indonesia! B-)


Rating : 3.5/5

0 komentar:

Post a Comment

Newest Review

Review Film Berangkat (2017) : Ringan, Seru dan Asyik

         Sutradara terkesan sebagai pekerjaan seorang cowok, namun pada kenyataannya gak selalu seperti itu. Naya Anindita membuktikannya...

Popular Review

Followers

 
Copyright © 2016 Riza Pahlevi